Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

Ust Fadulloh Fanani Sesepuh MS3G : Pemimpin Harus Lapang Dada, Buka Tangan Lebar untuk Setiap Masukan

54
×

Ust Fadulloh Fanani Sesepuh MS3G : Pemimpin Harus Lapang Dada, Buka Tangan Lebar untuk Setiap Masukan

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

KICAUNEWS.COM, JAKARTA – Di tengah dinamika pengelolaan organisasi masyarakat yang semakin kompleks, nilai-nilai kepemimpinan berbasis kerendahan hati dan keterbukaan kembali ditegaskan oleh sesepuh Majelis Silaturahmi Sholat Subuh Gabungan antar Ulama, Umara serta Masyarakat se Kecamatan Jatinegara (MS3G) , Ust. Fadulloh Fanani. Tokoh yang juga dikenal sebagai pemilik Ajieb Sawa ini menyampaikan pesan fundamental mengenai sikap seorang pemimpin dalam menerima kritik dan saran, yang dinilai krusial bagi keberlangsungan gerakan sosial-keagamaan di era modern, Sabtu (18/7)

 

Example 300x600

“Kalau ada masukan, terima. Jangan ngegas. Harus lapang dada. Seorang pemimpin harus banyak belajar menerima segala usulan dan masukan, jadi orang tidak takut mau memberikan masukan. Lapang dada, tangan terbuka, mohon maaf,” ujar Ust. Fadulloh Fanani dengan nada yang tenang namun tegas. Pernyataan ini bukan sekadar nasihat moral, melainkan blueprint kepemimpinan kolaboratif yang telah menjadi DNA MS3G sejak berdiri pada pertengahan 1990-an.

 

Kepemimpinan Tanpa Ego: Fondasi Sinergi Ulama-Umara-Masyarakat

 

Nasihat Ust. Fadulloh Fanani mencerminkan filosofi kepemimpinan yang menempatkan ego pribadi di bawah kepentingan kolektif. Dalam konteks MS3G, yang menjembatani tiga elemen vital—ulama, umara, dan masyarakat—sikap “lapang dada” dan “tangan terbuka” adalah prasyarat mutlak agar sinergi dapat berjalan harmonis. Ketika pemimpin mampu menerima masukan tanpa defensif, ruang dialog menjadi aman, partisipasi warga meningkat, dan keputusan yang diambil menjadi lebih inklusif serta berkualitas.

 

Sebagai owner Ajieb Sawa, Ust. Fadulloh Fanani memahami bahwa prinsip keterbukaan ini tidak hanya berlaku di ranah organisasi keagamaan, tetapi juga dalam dunia usaha dan interaksi sosial sehari-hari. Kemampuan untuk berkata “mohon maaf” dan membuka diri terhadap koreksi adalah tanda kekuatan karakter, bukan kelemahan. Hal ini sejalan dengan transformasi MS3G yang kini tidak hanya fokus pada ibadah subuh berjamaah, tetapi juga aktif dalam program sosial, ziarah akbar, dan pembinaan generasi muda—semua membutuhkan masukan dari berbagai pihak untuk tetap relevan dan berdampak.

 

Warisan Kebijaksanaan untuk Generasi Penerus

 

Pesan Ust. Fadulloh Fanani menjadi warisan berharga bagi pengurus MS3G periode sekarang maupun mendatang, termasuk Ketua Umum H. Achmad Mawardi (H. Didi) dan Sekretaris Umum Ust. Solihin MK. Di saat banyak organisasi terjebak dalam hierarki kaku atau resistensi terhadap perubahan, keteladanan sesepuh ini mengingatkan bahwa kepemimpinan yang berkelanjutan lahir dari kerendahan hati, kesediaan belajar, dan keberanian untuk mengakui kekurangan.

 

Bagi warga Jatinegara dan masyarakat luas, nasihat ini juga menjadi pengingat universal: bahwa kemajuan bersama hanya mungkin tercapai ketika setiap individu, terutama para pemimpin, memilih untuk mendengarkan daripada mendominasi, merangkul daripada menolak, dan memperbaiki daripada mempertahankan status quo. MS3G Jatinegara, melalui suara sesepuhnya, terus membuktikan bahwa organisasi yang kuat bukanlah yang paling sempurna, melainkan yang paling terbuka untuk menjadi lebih baik.(AW)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *