KICAUNEWS.COM, JAKARTA – Majelis Silaturahmi Sholat Subuh Gabungan antara Ulama, Umara serta Masyarakat se Kecamatan Jatinegara (MS3G) kembali menegaskan komitmennya terhadap model kepemimpinan kolaboratif yang melibatkan tiga pilar utama: ulama, umara, dan masyarakat. Dalam refleksi mengenai peran organisasi sosial-keagamaan di era kontemporer, Sekretaris Umum MS3G, Ust. Solihin MK, menyampaikan prinsip fundamental yang menjadi fondasi kekuatan majelis ini selama lebih dari tiga dekade, Sabtu (18/7).
“Bahkan kita, ulama harus bergandengan tangan dengan umara,” tegas Ust. Solihin MK. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan penegasan bahwa keberlanjutan gerakan akar rumput seperti MS3G sangat bergantung pada sinergi aktif antara pemimpin agama dan pemerintah daerah. Tanpa kolaborasi yang setara dan saling menghormati, upaya menjaga kerukunan umat serta stabilitas sosial rentan terfragmentasi oleh kepentingan sektoral atau ego institusi.
Sinergi Berbasis Kesetaraan, Bukan Ketergantungan
Pernyataan Ust. Solihin MK mencerminkan filosofi kemitraan yang telah diterapkan secara konsisten oleh para pendahulu MS3G, mulai dari H. Muqri bin Sandin hingga Ketua Umum saat ini, H. Achmad Mawardi (H. Didi). Bergandengan tangan dengan umara tidak berarti ulama kehilangan otonomi spiritualnya, melainkan memperkuat posisi tawar untuk memastikan kebijakan publik tetap berpihak pada nilai-nilai moral dan keadilan sosial. Sebaliknya, kehadiran ulama memberikan legitimasi etis dan kedekatan emosional dengan warga yang sering kali tidak dapat dijangkau oleh birokrasi formal.
Kolaborasi ini terlihat nyata dalam program-program MS3G yang bersinergi dengan Camat, Lurah, dan MUI, mulai dari pencegahan kenakalan remaja, bakti sosial, hingga pelestarian sejarah Islam lokal di Jatinegara. Kemandirian finansial dan operasional yang dibangun melalui swadaya pengurus—sebagaimana ditekankan Ust. Solihin MK sebelumnya—justru memungkinkan MS3G untuk bermitra dengan pemerintah dari posisi yang bermartabat, bukan sebagai pihak yang bergantung sepenuhnya pada anggaran negara.
Relevansi Model Kolaboratif di Tengah Tantangan Modern
Di tengah polarisasi sosial dan tantangan tata kelola perkotaan yang semakin kompleks, prinsip “bergandengan tangan” yang disampaikan Ust. Solihin MK menjadi relevan tidak hanya bagi MS3G, tetapi juga bagi seluruh ekosistem kemasyarakatan di Indonesia. Kemampuan ulama dan umara untuk bekerja sama secara harmonis, saling melengkapi kekurangan masing-masing, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas ego institusi adalah kunci ketahanan sosial yang sesungguhnya.
MS3G membuktikan bahwa ketika ulama dan umara benar-benar bergandengan tangan—bukan sekadar berdampingan—maka silaturahmi subuh yang dimulai di masjid dapat bertransformasi menjadi gerakan sosial yang berdampak luas. Dengan fondasi kolaborasi yang kuat, MS3G siap terus menjadi benteng moral dan pilar stabilitas sosial di Jakarta Timur, sekaligus teladan bagi organisasi kemasyarakatan lain dalam merawat kebhinekaan dan kebersamaan di ibu kota.(AW)


















