KICAUNEWS.COM,JAKARTA – Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, Kecamatan Jatinegara menyimpan sebuah warisan spiritual yang tak lekang oleh waktu. Majelis Silaturahmi Sholat Subuh Gabungan antara Ulama, umara serta masyarakat se Kecamatan Jatinegara (MS3G) bukan sekadar wadah ibadah rutin, melainkan sebuah ekosistem sosial-keagamaan yang telah menjadi tulang punggung kerukunan di wilayah ini selama lebih dari tiga dekade. Menghubungkan ulama, umara, dan masyarakat, MS3G membuktikan bahwa gerakan berbasis masjid mampu bertransformasi menjadi pilar stabilitas sosial yang tangguh.
Jejak Sejarah: Dari Kelurahan Cipinang Besar Utara ke Seluruh Penjuru Kecamatan Jatinegara
Cikal bakal MS3G dapat ditelusuri hingga pertengahan 1990-an. Berawal sebagai gerakan akar rumput yang digerakkan oleh tokoh agama dan warga setempat, organisasi ini lahir di bawah naungan Camat Jatinegara saat itu, H. Agus Salim Utut. Visi awalnya sederhana namun mendalam: merajut kembali tali silaturahmi yang sempat renggang melalui kekuatan ibadah subuh berjamaah.
Tokoh sentral yang menghidupkan semangat ini adalah Sayyidil Walid Al Habib Ali bin Abdurahman Assegaf, yang dikenal luas sebagai “Presiden Subuh Gabungan”. Berkat dorongan beliau, gerakan ini pertama kali berakar di Kelurahan Cipinang Besar Utara, dengan H. Muqri bin Sandin tercatat sebagai Ketua Umum pertama dalam sejarah kepengurusan MS3G.
Tongkat Estafet Kepemimpinan dan Transformasi Gerakan
Seiring berjalannya waktu, estafet kepemimpinan MS3G berpindah tangan, membawa serta evolusi misi yang semakin luas. Pada periode kedua, tongkat pimpinan dipegang oleh H. Faisal Kamal, seorang tokoh visioner yang juga berjasa mendirikan Pondok Pesantren Fatham Mubina di Ciawi, Bogor. Di bawah kepemimpinannya, MS3G mulai melebarkan sayap dari sekadar kegiatan ritual menuju pembinaan karakter umat.
Kini, pada periode terkini (2026) MS3G Jatinegara dinahkodai oleh H. Achmad Mawardi (akrab disapa H. Didi), dengan Ustadz Solihin MK menjabat sebagai Sekretaris Umum sebagai motor penggerak. Di bawah kepemimpinan mereka, MS3G telah bertransformasi total. Kegiatan sholat subuh berjamaah yang berpindah-pindah dari masjid ke masjid kini dilengkapi dengan program ziarah akbar (termasuk ziarah Wali Songo), bakti sosial, dan pembinaan akhlak generasi muda yang sistematis.
Sinergi Ulama-Umara: Benteng Moral di Era Modern
Keunggulan utama MS3G terletak pada kemampuannya menjembatani tiga elemen vital: ulama, umara, dan masyarakat. Saat ini, MS3G telah resmi menjadi mitra strategis pemerintah setempat, termasuk Camat, Lurah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kolaborasi ini tidak bersifat simbolis, melainkan operasional. Bersama-sama, mereka bekerja menjaga keamanan lingkungan, mencegah kenakalan remaja, serta merawat sejarah Islam lokal yang menjadi identitas Jatinegara.
Daftar panjang para pengurus yang pernah mengabdikan diri mencerminkan konsistensi organisasi ini. Mulai dari Sekretaris Umum seperti Ust. Mustarudin SE, Ust. Yahya MY,
Ust Haerudin Saari,Ust Sulaeman dan Ustadz Sholihin MK, Adapun Bendahara nya yakni H. Harris KP Jembatan, H. Ahmad Susanto, H Rohim,H . Abu Bakar ,H . Syarifudin dan H Asrofi, semua berkontribusi menjaga api silaturahmi tetap menyala.
Bagi warga Jakarta Timur, MS3G adalah bukti nyata bahwa keberagaman dan modernitas dapat berjalan beriringan dengan tradisi spiritual. Lebih dari sekadar tempat sholat subuh, MS3G adalah rumah bersama bagi siapa saja yang ingin menemukan ketenangan, persaudaraan, dan makna kehidupan di tengah metropolitan, dan Alhamdulilah MS3G sudah terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa dan Politik ( Kesbangpol) Jakarta Timur .(AW)


















