Kicaunews.com, Jakarta – Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengenai cahaya keyakinan dalam Kitab Al-Hikam adalah:
لَوْ أَشْرَقَ لَكَ نُوْرُ اْلـيَقِيْنِ لَرَأَيْتَ اْلآخِرَةَ أَقْرَبَ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تَرْحَلَ إِلَيْهَا، وَلَرَأَيْتَ مَحَاسِنَ الدُّنْيَا قَدْ ظَهَرَتْ كَسُفَةِ الْفَنَاءِ عَلَيْهَا.
Petikan ini bermakna jika keyakinan meresap ke hati, akhirat akan terasa lebih dekat daripada perjalanan menuju ke sana, dan keindahan dunia akan pudar karena kefanaannya.
Ketika iman dan keyakinan kepada Allah sudah benar-benar meresap ke dalam hati (terang), seseorang akan merasa bahwa pertemuan dengan Allah (kematian/akhirat) semakin dekat, sehingga fokus hidupnya berubah dari duniawi menjadi ukhraw
Berikut penjabarannya:
Cahaya Keyakinan (نور اليقين): Merupakan petunjuk Ilahi yang membersihkan hati (تزكية النفس)dari keraguan, kelalaian, dan kecintaan berlebih pada dunia.
Menyerap dalam Hati (قلب): Saat iman tidak lagi sekadar di bibir, tapi menjadi bashirah (mata hati) yang mampu melihat kebenaran gaib.
Akhir Nampak Dekat: Orang tersebut sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan. Kematian dan hari pembalasan dirasakan seolah-olah sudah di depan mata (قريب), sehingga mereka bergegas mempersiapkan diri.
Saat hati terang oleh cahaya Ilahi, seseorang tidak lagi memandang dunia sebagai tujuan utama, melainkan sebagai alat untuk menuju Allah. Ini menciptakan ketenangan dan kesiapan hati menghadapi kematian (الموت).


















