JAKARTA, KICAUNEWS.COM- Eksponen Aktivis 1998 mengajak generasi muda untuk terus mengawal proses demokrasi serta mengingatkan pemerintah agar tetap menjaga prinsip supremasi sipil sebagai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Seruan itu mengemuka dalam forum diskusi bertema “98 Menggugat Jilid 2: Anak Muda Berteriak” yang berlangsung di Guyonan Cafe, Jakarta.
Forum diskusi yang mempertemukan Aktivis 1998 dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi itu menjadi ruang diskusi sekaligus ruang temu mengenai berbagai isu kebangsaan.
Aktivis 98, Alex Leonardo, dalam sambutannya mengatakan forum 98 Menggugat akan terus menjadi ruang dialog lintas generasi untuk mempertemukan pengalaman Aktivis Reformasi 1998 dengan generasi muda dalam bertukar gagasan.
“Jadi forum ini dibuat sebagai jembatan yang mempertemukan pengalaman Aktivis 98 dengan generasi muda. Idenya yakni menjaga demokrasi dengan cara-cara yang damai, konstitusional, dan bermartabat,” kata Alex.
Senada dengan Alex, Ketua Umum Gerakan Hak Asasi dan Reformasi Indonesia Sejahtera (GHARIS), Hotmartua Simanjuntak, mengatakan semangat Reformasi 1998 lahir untuk menghadirkan pemerintahan yang menjunjung tinggi keadilan, demokrasi, dan keberpihakan kepada rakyat.
Mahasiswa Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga menambahkan bahwa cita-cita reformasi harus terus dijaga melalui partisipasi aktif masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan.
“Semangat reformasi lahir untuk menghadirkan keadilan. Ketika masyarakat masih merasakan banyak ketidakadilan, maka tugas moral kita adalah terus mengingatkan pemerintah agar kembali berpihak kepada rakyat,” kata Hotmartua.
Selain itu, Hotmartua juga menambahkan bahwa supremasi sipil harus tetap ditegakkan dan dijadikan sebagai pilar utama demokrasi dalam penyelenggaraan negara.
“Demokrasi membutuhkan supremasi sipil yang kuat. Kita harus terus mengawal agar prinsip-prinsip tersebut tetap menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara,” tambahnya.
Diketahui, diskusi berjalan dinamis dengan beragam pandangan dari mahasiswa hingga Aktivis 1998 terkait tantangan demokrasi di Indonesia.
Dalam forum tersebut, peserta diskusi menilai ruang dialog yang terbuka dan kritis perlu terus dipelihara. Penguatan demokrasi juga harus terus dilakukan melalui partisipasi generasi muda dalam mengawal arah perjalanan bangsa.
Di sela-sela menjelang dimulainya diskusi, Aktivis NocturNo, Brahma Heru Pamungkas, membacakan puisi yang mengangkat polemik usulan Presiden ke-2 RI, Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional. (Haji Merah)
















