Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Ditjen KPM Komdigi bersama Anggota Komisi I DPR RI Gelar Forum Diskusi Publik Peran Influencer dan Komunitas Digital Dalam Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal  

75
×

Ditjen KPM Komdigi bersama Anggota Komisi I DPR RI Gelar Forum Diskusi Publik Peran Influencer dan Komunitas Digital Dalam Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal  

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com, Jakarta – Ditjen Komunikasi Publik dan Media (KPM) KEMKOMDIGI bersama Bapak Prof. Dr. (H.C.) H. A Halim Iskandar, M.Pd (Anggota Komisi I DPR RI) mengadakan webinar Forum Diskusi Publik dengan tema: ” Peran Influencer dan Komunitas Digital Dalam Kampanye Diversifikasi Pangan Lokal ” Pada hari Senin, 27 APRIL 2026, Pukul 15.00 – 17,00 WIB, Bertempat di Intel Studio Ps.Minggu, Komplex TNI AL, Jln. Teluk Peleng no. 32 B, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Narasumber 1 Prof. Dr. (H.C.) H. A Halim Iskandar, M.Pd (Anggota Komisi I DPR RI)

Example 300x600

Kegiatan pemaparan ini dibuka oleh Prof. (H.C.) Dr. (H.C.) A. Halim Iskandar, M.Pd., selaku Anggota Komisi I DPR RI. Sejak awal, beliau menegaskan bahwa persoalan pangan bukan semata urusan Kementerian Pertanian, melainkan menyentuh akar ketahanan nasional secara menyeluruh. Dalam pengantarnya, narasumber menyampaikan keyakinan bahwa negara yang lapar adalah negara yang rapuh — sebuah premis yang menjadi landasan seluruh pemaparan. Narasumber juga menekankan bahwa ruang digital saat ini adalah medan pertempuran paling nyata untuk mengubah perilaku masyarakat. Oleh karena itu, kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dianggap bukan pilihan, melainkan keharusan, dalam memimpin gerakan literasi pangan dan perubahan budaya konsumsi secara masif. Narasumber memaparkan data terkini terkait kondisi pangan Indonesia. Produksi beras dalam negeri pada tahun 2025 tercatat mencapai 34,71 juta ton — sebuah angka yang diakui sebagai pencapaian luar biasa. Namun di balik angka tersebut, tersimpan kerentanan struktural yang perlu segera diatasi.

Permasalahan utama yang disorot adalah pola pikir masyarakat yang masih sangat bergantung pada beras sebagai satu-satunya sumber pangan pokok. Pandangan ‘kalau belum makan nasi, rasanya belum makan’ dinilai masih mengakar kuat di hampir seluruh lapisan masyarakat.Ketergantungan tunggal beras (single staple food) ini menjadi titik lemah yang berbahaya, terutama ketika dihadapkan pada ancaman krisis iklim global yang makin nyata. Dari sisi gandum, narasumber menyebutkan bahwa konsumsi gandum per kapita Indonesia sudah melampaui angka 30 kilogram per tahun, dan seluruhnya masih dipenuhi lewat impor. Meski impor pada 2025 turun drastis menjadi sekitar 440 ribu ton dari sebelumnya 4,5 juta ton di tahun 2024, ketergantungan struktural pada pasokan dari luar negeri tetap menjadi risiko yang tidak bisa diabaikan. Salah satu poin paling ditekankan oleh narasumber adalah repositioning peran komunitas digital. Pengguna internet dan kreator konten tidak seharusnya dipandang hanya sebagai konsumen informasi atau pembuat hiburan semata. Mereka harus diperlakukan dan didorong untuk menjadi inisiator perubahan perilaku masyarakat — atau dalam istilah yang digunakan narasumber, sebagai behavioral change agents.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki 229,42 juta pengguna internet aktif per tahun 2024, dengan tingkat penetrasi mencapai 80,66 persen. Segmen terbesar dari pengguna tersebut adalah Generasi Z dan milenial, yang mayoritas menghabiskan waktu mereka di ruang digital. Potensi ini, menurut narasumber, belum dimanfaatkan secara optimal untuk tujuan-tujuan strategis seperti perubahan pola konsumsi pangan. Narasumber memberi ilustrasi yang mengena: pemerintah bisa membuat baliho atau menerbitkan aturan, tetapi yang benar-benar mampu membuat Generasi Z merasa bahwa ‘makan papeda itu keren’ atau ‘waffle dari tepung singkong itu estetik’ justru adalah para konten kreator. Inilah mengapa pendekatan berbasis komunitas digital dinilai jauh lebih efektif dibandingkan kampanye formal dari atas ke bawah.

Di penghujung paparannya, Prof. Halim Iskandar menyampaikan pesan yang menjadi inti dari seluruh pembicaraan. Beliau menegaskan bahwa gerakan diversifikasi pangan sama sekali tidak bertujuan untuk memusuhi beras atau menyingkirkannya dari meja makan masyarakat Indonesia. “Diversifikasi pangan bukan berarti memusuhi beras. Diversifikasi adalah memberikan variasi. Ibarat tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang.” Filosofi ini mencerminkan pendekatan yang inklusif dan realistis: memperluas pilihan pangan masyarakat, bukan memaksa perubahan yang drastis. Ketika masyarakat memiliki lebih banyak opsi pangan yang mereka kenal, sukai, dan percaya, maka ketahanan pangan nasional akan tumbuh secara organik dari bawah — dan tidak lagi rentan terhadap guncangan pasokan dari luar negeri. Narasumber 2

Dr. Rulli Nasrullah, M.Si (Praktisi Kehumasan dan Pakar Budaya Digital)

Data yang disampaikan narasumber menyebutkan konsumsi beras nasional mencapai 31 juta ton per tahun, ditambah impor gandum sebesar 7,13 juta ton. Kondisi ini dinilai rentan, terutama mengingat rantai pasok pangan global yang semakin terpapar risiko konflik geopolitik dan perubahan iklim. Di sisi lain, Indonesia tercatat sebagai salah satu penyumbang food loss dan food waste terbesar di dunia, menduduki peringkat kedua secara global. Dr. Rulli Nasrullah menekankan bahwa ancaman ini bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan menyentuh isu kedaulatan bangsa. Ketika bahan baku pangan pokok masih bergantung pada pasokan dari luar negeri, maka ketahanan pangan nasional menjadi rapuh. Solusinya, menurut beliau, justru sudah ada di dalam negeri — yakni kekayaan pangan lokal Nusantara yang selama ini

Narasumber memperkenalkan konsep ‘Superfood Nusantara’ yang mencakup komoditas lokal seperti ubi cilembu, singkong, sagu, jagung, dan umbi-umbian lainnya. Pangan-pangan ini dinilai memiliki keunggulan gizi yang tidak kalah dari produk impor. Ubi cilembu, misalnya, kaya akan pro-vitamin A yang bermanfaat untuk fungsi otak, sekaligus memiliki indeks glikemik rendah sehingga baik bagi penderita diabetes maupun masyarakat yang ingin menjaga kadar gula darah. Kandungan pati resisten (resistant starch) pada pangan lokal juga disebut tiga kali lebih ramah bagi sistem pencernaan dibandingkan nasi putih biasa. Selain nilai gizi, komoditas ini juga unggul dari sisi lingkungan. Jejak karbon budidayanya tergolong sangat rendah, dan limbah organiknya dapat langsung dikembalikan ke tanah atau dimanfaatkan sebagai pakan ternak — menjadikannya bagian dari sistem ekonomi sirkular yang berkelanjutan.

Salah satu tantangan terbesar yang disorot dalam sesi ini adalah krisis regenerasi di sektor pertanian. Saat ini, hanya sekitar 30 persen pemuda Indonesia yang terlibat dalam dunia pertanian. Generasi muda cenderung menjauhi profesi petani karena stigma yang melekat — dianggap berisiko, kotor, dan tidak modern. Ditambah lagi, derasnya budaya instan membuat mereka semakin jauh dari sektor pangan. Dr. Rulli menyampaikan bahwa komunikasi digital bisa menjadi katalis perubahan. Melalui media sosial, e-commerce, dan teknologi smart farming, pertanian konvensional dapat bertransformasi menjadi agripreneurship — sebuah model usaha tani yang presisi, modern, dan bergengsi di mata generasi digital native.

Narasumber menggambarkan mekanisme perubahan yang disebut sebagai ‘efek bola salju’, yang bergerak melalui empat tahap. Tahap pertama dimulai dari inspirasi digital — konten mukbang dan resep kreatif berbahan pangan lokal yang dibuat oleh para influencer mampu meruntuhkan stigma lama dan menjadikan makanan tradisional sebagai bagian dari gaya hidup modern. Tahap kedua adalah gerakan komunitas, di mana adopsi tren berlangsung secara massal melalui tantangan digital, festival pangan lokal, dan amplifikasi tagar #BanggaPanganLokal. Pada tahap ketiga terjadi substitusi konsumsi, yakni masyarakat secara bertahap mengurangi porsi nasi putih dan menggantinya dengan umbi-umbian. Puncaknya, pada tahap keempat, lonjakan permintaan domestik ini mendorong kesejahteraan petani, menstabilkan harga komoditas, dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Untuk mewujudkan perubahan tersebut, narasumber memaparkan empat pilar strategi kampanye digital yang saling melengkapi. Pertama, kampanye harus berbasis data dan gizi — menggunakan infografis ringkas untuk menjawab hoaks dengan fakta ilmiah, seperti indeks glikemik dan manfaat pati resisten. Kedua, konten perlu mengedepankan visual dan storytelling — mengangkat kisah nyata perjuangan petani dengan sinematografi yang menarik agar pangan lokal tampil mouth-watering dan relevan secara budaya. Ketiga, konsistensi platform menjadi kunci: intervensi digital harus berkelanjutan dan terintegrasi langsung dengan kanal penjualan seperti e-commerce pangan lokal, bukan sekadar mengejar tren viral sesaat. Keempat, kolaborasi ekosistem diperlukan agar influencer tidak bergerak sendiri, melainkan bersinergi langsung dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan UMKM untuk memperkuat otoritas pesan.

Dr. Rulli Nasrullah menutup paparannya dengan menegaskan bahwa diversifikasi pangan bukan sekadar mengganti isi piring. Ini adalah tindakan nyata untuk membela petani, melestarikan kekayaan alam Nusantara, dan merebut kembali kedaulatan pangan bangsa. Beliau menyerukan Narasumber 3

Narsun Annahar (Pegiat Literasi Digital) Dr. Nasrun Annahar membuka paparannya dengan memotret kondisi pangan Indonesia yang disebutnya berada dalam situasi darurat ketergantungan. Merujuk pada data Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan BPS tahun 2023, konsumsi karbohidrat masyarakat Indonesia masih sangat didominasi oleh beras, jauh melampaui komoditas pangan lainnya. Kondisi ini bukan hanya soal kebiasaan makan, melainkan mencerminkan ketidakseimbangan struktural yang membuat ketahanan pangan nasional berdiri di atas fondasi yang goyah. Narasumber memperkuat argumennya dengan menyorot ancaman perubahan iklim yang nyata. Fenomena El Nino, misalnya, terbukti memukul produksi padi nasional secara telak — memicu kegagalan panen akibat kekeringan panjang sekaligus mendorong lonjakan harga beras di pasar domestik. Dalam konteks ini, diversifikasi pangan bukan sekadar anjuran gizi, melainkan bentuk mitigasi krisis iklim yang paling konkret dan langsung bisa dilakukan oleh setiap rumah tangga. Salah satu fakta yang paling menarik perhatian dalam paparan ini adalah pengungkapan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki tidak kurang dari 77 jenis tanaman pangan penghasil karbohidrat. Kekayaan ini mencakup ragam umbi-umbian, sagu beserta berbagai olahannya, hingga beragam pangan lokal lain yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ironisnya, kekayaan luar biasa ini justru nyaris tidak tersentuh dalam pola makan sehari-hari sebagian besar masyarakat Indonesia. Potensi ini semakin relevan ketika dilihat dari perspektif kesehatan. Indonesia tercatat berada di posisi kelima dunia dalam jumlah penderita diabetes menurut data International Diabetes Federation (IDF). Sementara itu, konsumsi beras putih yang berlebihan diketahui berkontribusi pada peningkatan risiko diabetes karena indeks glikemiknya yang tinggi. Pangan lokal seperti sorgum yang kaya serat dan antioksidan, sagu yang aman bagi pencernaan dan bebas gluten, serta singkong dengan indeks glikemik yang lebih rendah, sesungguhnya menyimpan jawaban atas persoalan kesehatan publik ini. Narasumber secara jujur mengakui bahwa upaya mendorong diversifikasi pangan bukan barang baru. Berbagai program pemerintah telah diluncurkan selama bertahun-tahun, namun hasilnya belum mengubah pola konsumsi secara signifikan. Akar masalahnya ada dua: stigma sosial dan pendekatan kampanye yang keliru. Dari sisi stigma, pangan lokal seperti ubi, sagu, dan singkong terlanjur melekat dengan citra ‘makanan orang susah’ atau ‘ndeso’ di benak sebagian masyarakat. Ungkapan seperti ‘belum makan kalau belum ketemu nasi putih porsi kuli’ bukan sekadar guyonan, melainkan cerminan dinding mental yang nyata dan tebal. Sementara dari sisi pendekatan, kampanye pemerintah di masa lalu dinilai terlalu formal, membosankan, bersifat top-down atau instruksional, dan tidak didukung visual yang menarik. Hasilnya, pesan yang disampaikan tidak pernah benar-benar meresap ke dalam keseharian masyarakat, apalagi generasi muda. Di sinilah narasumber memposisikan influencer dan komunitas digital sebagai aktor kunci yang selama ini belum dioptimalkan. Berbeda dengan pendekatan penyuluhan konvensional yang berjalan satu arah, konten kreator bekerja secara personal dan relatable — mereka berbicara seperti teman, bukan seperti pejabat. Pesannya bersifat horizontal, rekomendasi sesama, dan jauh lebih mudah diterima terutama oleh Generasi Z. Dr. Nasrun mendefinisikan peran kreator konten dalam tiga fungsi strategis. Pertama sebagai visual power, yakni kemampuan membuat bahan pangan lokal tampak ‘fancy’ dan menggugah selera melalui presentasi yang estetik. Kedua sebagai trend setter, yang menciptakan budaya baru lewat mekanisme FOMO (fear of missing out) sehingga mengonsumsi pangan lokal terasa kekinian. Ketiga sebagai bridge atau jembatan yang menghubungkan pelaku UMKM pangan lokal dengan pasar perkotaan yang sebelumnya sulit dijangkau. Narasumber merinci pendekatan konten yang dinilai efektif untuk mengubah persepsi publik terhadap pangan lokal. Prinsip pertama dan paling mendasar adalah jangan jual mentahnya — singkong berlumpur tidak akan menarik minat Generasi Z. Yang perlu dijual adalah pengalaman dan gaya hidupnya. Ini berarti penyajian foto makanan dengan estetika kafe minimalis, penggunaan kata kunci yang relevan di kalangan konsumen modern seperti gluten-free, healthy lifestyle, dan plant-based, serta kreasi resep kontemporer seperti brownies Mocaf, pasta sagu, atau sorghum bowl. Untuk format konten, Dr. Nasrun merekomendasikan pendekatan edutainment yang disesuaikan dengan karakteristik setiap platform. Di TikTok dan Instagram Reels, format video 60 detik bertema ‘a day in my life makan tanpa nasi’ dengan sound viral dinilai paling efektif menjangkau audiens muda. Sementara di fitur Stories, polling interaktif seperti ‘Tim Ubi atau Tim Singkong?’ bisa membangun keterlibatan audiens secara langsung. Adapun di platform berbasis teks seperti Threads atau X, thread informatif yang mengupas data kesehatan pangan lokal dengan gaya santai dapat menjangkau segmen yang lebih kritis dan ingin memahami topik lebih dalam. Dimensi lain yang ditekankan adalah pendekatan farm-to-table story. Narasumber mengingatkan bahwa konsumen modern tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita di baliknya. Menampilkan wajah petani sorgum di NTT, atau narasi bahwa ‘dengan makan ini kamu membantu biaya sekolah anak petani’, akan menciptakan koneksi emosional yang mengubah tindakan konsumsi menjadi ekspresi solidaritas sosial sekaligus kesadaran lingkungan. Dr. Nasrun Annahar menutup paparannya dengan ajakan yang sederhana namun bermakna dalam. Perubahan tidak harus dimulai dari kebijakan besar atau anggaran negara yang masif. Ia bisa dimulai dari jari — dari satu unggahan, satu video, satu thread yang dengan tulus mengajak orang-orang di sekitar kita untuk mengenal, mencoba, dan mencintai kekayaan pangan yang sudah lama ada di bumi Indonesia. Dalam pandangannya, mengubah isi piring adalah tindakan yang jauh lebih besar dari yang terlihat. Ia adalah pilihan untuk menjaga kesehatan diri, membantu petani lokal bertahan, mengurangi ketergantungan impor, dan pada akhirnya — mengamankan masa depan bangsa.

Aw

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *