Kicaunews.com,Jakarta – Kondisi alam Mahsyar digambarkan sebagai tempat yang sangat mencekam dan menakutkan, di mana manusia akan mengalami kepanikan luar biasa sehingga saling melupakan satu sama lain. Pada hari itu, fokus setiap individu hanya pada nasib dirinya sendiri, bahkan mengabaikan keluarga dekat.
Puncak Kepanikan dan Kesibukan Diri: Manusia tidak lagi memikirkan nasib anak, istri, orang tua, atau teman. Sesuai firman Allah dalam QS. Luqman: 33, pada hari itu seorang bapak tidak dapat membela anaknya, dan sebaliknya, karena sibuk mengurus nasib diri sendiri. Tergambar dalam QS.Luqman Ayay 33 ;
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَّا يَجْزِيْ وَالِدٌ عَنْ وَّلَدِهٖۖ وَلَا مَوْلُوْدٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَّالِدِهٖ شَيْـًٔاۗ اِنَّ وَعْدَ اللّٰهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۗ وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللّٰهِ الْغَرُوْرُ ٣٣
Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutlah akan hari yang (ketika itu) seorang bapak tidak dapat membela anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) membela bapaknya sedikit pun! Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kamu diperdaya oleh kehidupan dunia dan jangan sampai karena (kebaikan-kebaikan) Allah kamu diperdaya oleh penipu.
Tiga Kondisi Manusia Saling Tak Mengenal: Rasulullah SAW menyebutkan ada tiga keadaan kritis di mana manusia tidak saling kenal, yaitu saat mizan (timbangan amal), saat penyerahan catatan amal, dan saat melewati jembatan shirath di atas neraka.
Panas yang Sangat Ekstrem: Matahari didekatkan sejauh satu mil dari kepala manusia. Hal ini menyebabkan manusia tenggelam dalam keringat mereka sendiri sesuai dengan tingkat amal perbuatannya.
Kondisi Fisik yang Hina: Manusia dibangkitkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan belum dikhitan
Keadaan Berlutut: Karena kengerian yang dahsyat, manusia berlutut dan tertunduk cemas menanti panggilan untuk pertanggungjawaban amal.
Tergambar dalam Q.S. Azumar Ayat. 69;
وَاَشْرَقَتِ الْاَرْضُ بِنُوْرِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتٰبُ وَجِايْۤءَ بِالنَّبِيّٖنَ وَالشُّهَدَاۤءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ”
Bumi (padang Mahsyar) menjadi terang benderang dengan cahaya Tuhannya, buku (catatan amal) diberikan (kepada setiap orang), para nabi dan para saksi pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil dan mereka tidak dizalimi.”
Dan bersamaan dengan itu, bumi, yakni Padang Mahsyar, tempat semua makhluk berkumpul untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan, menjadi terang benderang dengan cahaya keadilan Tuhannya; dan buku-buku rekam jejak perbuatan diberikan dan kemudian dibaca oleh mereka masing-masing satu persatu Nabi-nabi menjadi saksi bagi umatnya, dan saksi-saksi atas amal mereka-pun dihadirkan, lalu diberikan keputusan oleh Allah di antara mereka satu persatu secara adil, sedang mereka tidak dirugikan sedikit pun.”
Padang Mahsyar digambarkan sebagai tempat luas tanpa tanda-tanda alam, di mana seluruh makhluk (manusia, jin, binatang) berkumpul. Hal ini menjadi peringatan bahwa di akhirat, hubungan nasab tidak lagi berharga, dan hanya amal perbuatan yang akan menolong.
والله اعلم


















