Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaNasionalNewsParlemenPolitik

Soroti Riset IEP, Lafadz Nusantara Center Ingatkan Pemerintah Soal Stabilitas Nasional

64
×

Soroti Riset IEP, Lafadz Nusantara Center Ingatkan Pemerintah Soal Stabilitas Nasional

Sebarkan artikel ini
Deni Iskandar, Direktur Eksekutif Lafadz Nusantara Center, saat memberikan sambutan dalam acara diskusi publik, di Megantara Edupark, Pamulang Timur, Kota Tangerang Selatan. (Dokumen Redaksi/Haji Merah)
Example 468x60

JAKARTA, KICAUNEWS.COM- Direktur Eksekutif Lafadz Nusantara Center, Deni Iskandar soroti penurunan posisi Indonesia dalam pemeringkatan perdamaian global tahun 2026, yang secara resmi dirilis Institute for Economics and Peace (IEP) dalam riset internasional.

Menurut Deni, indeks penurunan pemeringkatan perdamaian secara global itu, harus dijadikan sebagai peringatan serius oleh pemerintah dan seluruh elemen bangsa, dalam merespon persoalan sosial politik yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional.

Example 300x600

Dari hasil riset IEP, yang dikaji oleh Lafadz Nusantara Center, saat ini skoring perdamaian Indonesia tahun 2026, berada pada peringkat 69 dunia, dan masuk dalam kategori Medium Peace atau tingkat perdamaian menengah.

Posisi itu, kata Deni, memperlihatkan kondisi perdamaian dan stabilitas sosial Indonesia, berada pada kategori yang sepenuhnya belum aman dan belum stabil.

“Indonesia saat ini berada di peringkat 69 dunia, skoring ini mengalami penurunan secara cukup signifikan dibandingkan tahun 2025 yang berada di posisi 49. Penurunan ini tentu harus menjadi perhatian bersama, dan pemerintah juga harus mempunyai mitigasi-nya,” kata Deni, Rabu (24/06) melalui keterangan tertulis.

Diketahui, Institute for Economics and Peace (IEP) adalah lembaga riset independen yang berpusat di Sydney, Australia. Lembaga ini rutin melakukan kajian mengenai tingkat perdamaian global melalui berbagai indikator sosial, ekonomi, politik, dan keamanan.

Hasil riset dan kajian tersebut, digunakan untuk memetakan kondisi stabilitas nasional serta internasional dan perdamaian bagi negara-negara di dunia.

Mahasiswa Magister Studi Agama-Agama UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta itu menilai bahwa, merosotnya posisi Indonesia dalam skoring itu, tidak bisa dilepaskan dari berbagai persoalan yang saat ini terjadi, yang itu masih menjadi tantangan nasional, yang meliputi.

Masih banyaknya konflik dan ketegangan sosial di sejumlah wilayah, isu-isu SARA yang selalu muncul di rumah publik, serta meningkatnya kriminalitas dan aksi demonstrasi yang berujung pada kekerasan akibat dari adanya ketimpangan ekonomi dan keadilan sosial.

“Jika kita melihat data riset itu, tentu saja penurunan peringkat ini harus kita lihat dan kita baca sebagai lebih cermat. Persoalan Papua ini, belum sepenuhnya selesai, kemudian juga sentimen SARA di Indonesia juga selalu muncul dan kadang menguat, belum lagi kriminalitas, serta saat ini aksi demontrasi juga kan terus berjalan panjang, terbaru kan soal adanya PHK masal karena, investor cabut dari Indonesia, ini juga harus jadi alarm.” Terang Deni.

Deni mengatakan, situasi ekonomi Indonesia saat ini, tengah dihadapkan pada banyak tekanan, yang potensinya akan berdampak pada kerentanan sosial, fenomena itu dapat dilihat dari investor-investor yang pergi meninggalkan Indonesia, serta meningkatnya kasus PHK di berbagai sektor industri.

“pada saat investasi melemah dan angka PHK meningkat, maka tekanan ekonomi masyarakat akan semakin besar. Jika pemerintah tidak punya mitigasi soal ini, maka kondisinya bisa memicu gejolak sosial, yang akhirnya berdampak pada stabilitas dan perdamaian nasional,” jelas Deni.

Dengan demikian, Lafadz Nusantara Center, kata Deni, mendorong agar pemerintah bisa lebih serius memperkuat agenda keadilan sosial, pemerataan pembangunan, penegakan hukum yang berkeadilan, serta penguatan ruang-ruang dialog dalam konteks menyelesaikan berbagai persoalan sosial dan kebangsaan.

“Perdamaian nasional itu, tentu tidak hanya dapat diukur dari tidak adanya konflik bersenjata, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan rasa aman bagi seluruh warga negara. Jika persoalan-persoalan mendasar ini tidak segera diselesaikan, maka potensi instabilitas akan terus meningkat, dan Indonesia bisa berpotensi chaos,” terang Deni Iskandar. (Haji Merah)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *