Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Brainstorming Pembentukan Serikat Jurnalis Islam, UBN di Daulat Pimpin SAJID

60
×

Brainstorming Pembentukan Serikat Jurnalis Islam, UBN di Daulat Pimpin SAJID

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com, Jakarta,—Para Jurnalis Mesir juga mengalami kegagapan memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dalam penulisan berita. Ini dikarenakan masih banyak yang belum menguasai teknologi itu dengan baik. Selain itu percepatan perkembangan kecerdasan AI bidang informasi sangat pesat, jauh melampaui kemampuan jurnalis mengadopsi (menguasainya).

 

Example 300x600

Hal tersebut disampaikan Mantan Ketua Egyptian Radio and Television Union (ERTU) Prof. Dr. Sami Muhammad Rabi’ Asy-Syarif, menjawab pertanyaan forum, dalam diskusi ”Brainstorming dan Pembentukan Serikat Jurnalis Islam” di UBN Newsroom, AQL Center, Tebet, Jakarta Selatan, Ahad 14 Juni 2026.

 

”Saya kira bukan saja di Mesir tetapi di sejumlah negara, termasuk negara maju mengalaminya,” ujar Prof. Sami yang juga Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi (Mass Communication) dan Wakil Ketua Asosiasi Fakultas-Fakultas Media Universitas Arab.

 

Menurut Prof. Sami, meskipun teknologi AI sangat pnitar dan sangat cepat dalam membuat berita, namun kendali tetap ada pada jurnalis.

 

”Jurnalislah yang menentukan ini layak tayang atau tidak. Bisa jadi informasi yang diberikan AI itu benar, akurat dan sesuai fakta, tapi jurnalis bisa mempertimbangkan dampak (efek) dari pemberitaan itu. Sebagai jurnaslis Muslim, pertimbangan pertama adalah apakah informasi ini bermanfaat untuk umat atau tidak?” tambah pakar Komunikasi Islam, yang selama di Jakarta juga melakukan serangkaian petemuan di sejumlah perguran tinggi Indonesia.

 

Lebih jauh Prof Sami meyakinkan bahwa perkembangan teknologi AI tidak bisa dihambat atau dihentikan. Teknologi ini akan terus berkembang. Bahkan sebuah media di Mesir pernah menurunkan artikel tentang menunaikan haji secara virtual. Jamaah tidak usah berdesak-desakkan di Ka’bah, Arafah, Mina atau di Madinah. Cukup duduk manis di ruangan dalam rumah.

 

”Ini sempat menjadi perdebatan. Walaupun dibantah secara syariah ini tidak sah, tetapi pemikiran tentang ini ada di ruang media, hasil kecerdasan AI. Nah sebagai jurnalis, yang pertama kali kita pertimbangkan adalah apakah pemberitaan atau perdebatan ini bermanfaat untuk umat atau tidak? Di sinilah letak tanggung jawab jurnalis Muslim,” ujar Prof. Sami.

 

Diskusi jurnaslis Muslim Indonesia dengan Prof Sami yang dipandu langsung oleh Ustad Bachtiar Nasir (UBN) sangat menarik dan seru. Para jurnalis berebutan mengajukan pertanyaan dan Prof. Sami menjawabnya dengan sangat meyakinkan.

 

Bahkan di akhir sesi, Prof. Sami juga menawarkan kerjasama dengan para jurnalis Muslim, seperti pelatihan-pelatihan dan kunjungan ke berbagai negara Muslim dalam rangka meningkatkan kemampuan teknologi informasi berbasis AI dan memperluas jaringan.

 

Sebelaumnya di tempat yang sama, forum ini (UBNNEWSROOM) juga menghadirkan pakar teknlogi informasi, founder drone emprit, Dr. Ismail Fahmi, membahas hal yang kurang lebih sama.

 

Forum sendiri secara aklamasi, meminta kesediaan Ustad Bachtiar Nasir (UBN) untuk memimpin Serikat Jurnalis Muslim (SAJID), mengingat kepakaran dan jaringannya yang luas di dunia Islam. UBN, saat ini, juga Ketua Jaringan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI).*** ()

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *