Kicaunews.com, Jakarta – Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003 merupakan komponen wajib yang bertujuan membentuk manusia beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. PAI berkedudukan sebagai mata pelajaran wajib di seluruh jenjang pendidikan, baik formal, nonformal, maupun informal, serta disesuaikan dengan agama yang dianut peserta didik.
Dasar Hukum: Pasal 12 ayat (1a) UU No. 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa setiap peserta didik berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama.
Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.
Menurut pasal 15, pendidikan keagamaan (termasuk madrasah dan pondok pesantren) merupakan bagian dari jalur pendidikan formal dan nonformal yang mempersiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memahami dan mengamalkan ajaran agamanya.
PAI berperan strategis dalam membangun watak, peradaban bangsa yang bermartabat, dan menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan akhlak/moral.
Pendidikan Islam di Indonesia berusaha berjalan beriringan dengan pendidikan nasional untuk menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual dan kokoh dalam etika.
Berikut ini syarah (penjelasan) hadits Jibril yang menyebutkan tentang tingkatan agama (Islam, Iman, dan Ihsan).
عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .
Prof. Amru menegaskan bahwa, hadist Jibril mengajarkan tiga tujuan utama kehidupan manusia. Pertama adalah iman, sebagai fondasi penghambatan total kepada Allah SWT. Kedua adalah Islam, sebagai tuntunan untuk membangun dan memakmurkan peradaban (al-umran). Ketiga adalah Ikhsan atau takziyah, yakni proses penyucian dan pendalaman spiritual diri agar iman benar-benar menggerakkkan sikap dan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari.”
Prof. Amru mengajak umat Islam untuk tidak rela berada pada standar spiritual yang rendah. Nilai-nilai iman, Islam, dan Ikhsan harus menjadi fondasi sikap dan perilaku, bukan sekedar konsep.
Aw


















