Kicaunews.com, Jakarta – Menjaga silaturahmi adalah kewajiban dalam Islam yang mendatangkan keberkahan rezeki, panjang umur, dan merupakan tanda keimanan. Hadits utama menekankan bahwa penyambung silaturahmi akan mendapat rahmat Allah, sementara pemutusnya diancam tidak masuk surga. Silaturahmi mencakup hubungan baik dengan keluarga dan kerabat.
Dari Abu Ayyub Al Anshori, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang amalan yang dapat memasukkan ke dalam surga, lantas Rasul menjawab,
تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ
Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat). (HR. Bukhari ).
Niatkan kunjungan untuk ibadah, menyambung tali persaudaraan, dan mencari keridaan Allah, bukan untuk pamer atau urusan duniawi semata.
Ucapkan salam maksimal tiga kali. Jika tidak ada jawaban, disarankan untuk pulang.
Saat menunggu, jangan mengintip ke dalam rumah melalui jendela atau celah pintu.
Kenakan pakaian yang menutup aurat dan sopan sebagai bentuk penghormatan.
Dianjurkan membawa hadiah, sesuai sabda Nabi, Saling memberilah hadiah, maka kalian akan saling mencintai.
Berbicara dengan santun, menghindari ghibah (gunjingan), atau pertanyaan yang menyinggung perasaan (seperti kapan nikah/punya anak).
Tidak bertamu terlalu lama sehingga mengganggu kenyamanan atau aktivitas tuan rumah. Menikmati hidangan yang disuguhkan dengan senang hati.
Memohon izin untuk pulang dan mengucapkan terima kasih, serta mendoakan kebaikan bagi tuan rumah.
Selama hari raya idul fitri


















