Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
Berita

PDPI : World Sleep Day 2026, Sleep Well,Live Better

341
×

PDPI : World Sleep Day 2026, Sleep Well,Live Better

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com-Jakarta (3/3) Dalam rangka World Sleep Day dengan tema Sleep Well, Live Better, kami sampaikan beberapa hal penting terkait gangguan tidur, dengan penekanan khusus pada Obstructive Sleep Apnea (OSA) yaitu suatu kondisi yang sering tidak disadari , namun berdampak besar bagi kesehatan, produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.
Gangguan tidur merupakan spektrum kondisi medis yang mempengaruhi kualitas, durasi dan pola tidur seseorang. Secara umum, gangguan tidur dapat dibagi menjadi beberapa kelompok utama seperti:
Insomnia:kesulitan memulai atau mempertahankan tidur
Sleep-related breathing disorders: gangguan napas saat tidur, termasuk Obstructive Sleep Apnea
GangguanHipersomnia:rasakantuk berlebihan disiang hari
Parasomnia:Perilaku abnormal saat tidur seperti sleep walking,sleep talking
Rest less Leg Syndrome:dorongan tidak tertahan akan untuk menggerakkan kaki saat malam hari
Gangguan ritme sirkadian:gangguan jam biologis tubuh

Salah satu gangguan tidur yang paling sering namun kurang disadari oleh klinisi dan Masyarakat Adalah Obstructive Sleep Apnea (OSA). OSA adalah kondisi terjadi sumbatan berulang pada saluran napas bagian atas saat tidur yang menyebabkan henti napas sesaat (apnea) dan napas dangkal (hypopnea). Keadaan ini dapat terjadi puluhan kali bahkan ratusan kali dalam satu malam tidur.
Gejala utama OSA meliputi:
Mendengkur
Hentinapassaattidur
Tersedak/terbangun dengan rasa tercekik
Kantuk berlebihan disiang hari
Sakit kepala pagi hari
Konsentrasi menurun
Perubahan suasana hati menjadi mudah marah

Example 300x600

Faktor risiko utama OSA Adalah laki-laki, obesitas, lingkar leher besar, usia lanjut, wanita menopause, kelainan anatomi saluran napas.
Dampak yang ditimbulkan adalah seluruh penyakit vaskuler seperti stroke, hipertensi, diabetes mellitus, kecelakaan lalu lintas akibat microsleep, obesitas, pengentalan darah , peningkatan risiko penyakit jantung koroner, impotensi, gangguan mental, penurunan produktivitas , penurunan imunitas tubuh.
Epidemiologi Gangguan tidur dan OSA
Secara global, gangguan tidur diperkirakan dialami oleh 30-45% populasi dewasa. Untuk OSA, daa internasional menunjukkan bahwa sekitar 1 miliar orang di dunia memiliki OSA derajat ringan hingga berat. Di Asis, khususnya di Indonesia, prevalensinya meningkat seiring dengan bertambahanya angka obesitas dan perubahan gaya hidup. Namun masalah utamanya bukan hanya tingginya prevalensi melainkan rendahanya angka diagnosis. Diperkirakan 80% kasus OSA tidak terdiagnosis karena kurangnya kewaspadaan masyarakat dan tenaga kesehatan, fasilitas pemeriksaan seperti polisomnografi sebagai alat diagnostic OSA masih terbatas pada kota besar serta terapi OSA yang seringkali tidak mampu di laksanakan
Di Indonesia, data nasional masih terbatas, namun studi local OSA cukup banyak ditemukan khususnya pada kelompok pasien obesitas, hipertensi resisten, penderita DM tipe 2 dan pekerja dengan tuntutan konsentrasi tinggi seperti pengemudi.
OSA merupakan masalah sosial dan ekonomi
OSA bukan hanya masalah medis, tetapi juga merupakan masalah sosial dan ekonomi suatu negara. Dampaknya seperti peningkatan resiko kecelakaan lalu lintas dan kecelakaan kerja akibat rasa kantuk yang berlebihan, penurunan produktivitas kerja, biaya pengobatan komplikasi seperti stroke dan penyakit jantung , obesitas, gangguan metabolisme, serta pengentalan darah akan menjadi beban sosial dan ekonomi bagi keluarga dan negara. Studi global menunjukkan bahwa beban ekonomi akibat OSA yang tidak tertangani mencapai miliaran dollar setiap tahun dan jika tidak tertangani secara dini dan sistematis, dampaknya akan semakin besar terhadap system Kesehatan nasional.

Tantangan yang dihadapi di Indonesia
Beberapa tantangan utama di Indonesia antara lain:
Rendahnya kesadaran Masyarakat bahwa mendengkur bisa berbahaya
Keterbatasan fasilitas diagnostic dan tenaga terlatih
Biaya pemeriksaan dan terapi yang belum terjangkau sepenuhnya
Stigma bahwa gangguan tidur bukan masalah yang serius bahkan mendengkur dianggap sesuatu yang lumrah saat sesorang kecapean
Kurangnya skrining rutin di layanan primer

Strategi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
Sebagai organisasi profesi, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia(PDPI) memiliki beberapa strategi utama:
Edukasi dan kampanye public untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya tidur sehat.
Pelatihan dokter dan tenaga Kesehatan dalam deteksi dini OSA
Pengembangan jejaring layanan sleep medicine di berbagai daerah
Advokasi kebijakan agar skrining OSA masuk dalam tata laksana penyakit kronik
Kolaborasi dan ikut mengambil bagian secara aktif dalam team multidisplin yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu seperti bagian jantung, bagian neurologi, bagian THT, bagian ilmu penyakit dalam, bagian kedokteran jiwa, bagian pediatri , serta bagian gigi mulut
Ikut menjadi anggota sekaligus pengurus aktif organisasi kesehatan tidur di tingkat nasional dan internasional

Komitmen PDPI
PDPI berkomitmen untuk
Mendorong peningkatan akses diagnosis dan terapi OSA
Mengembangkan pedoman nasional berbasis bukti
Mendukung penelitian epidemiologi gangguan tidur di Indonesia
Berperan aktif dalam kebijakan Kesehatan nasional terkait Kesehatan tidur

Kami percaya bahwa tidur yang berkualitas dan cukup adalah investasi kesehatan jangka panjang suatu bangsa

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *