Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaNasionalNewsPolitik

Mgr. Paskalis dan Gereja Katolik yang Takut Pada Kebenaran

695
×

Mgr. Paskalis dan Gereja Katolik yang Takut Pada Kebenaran

Sebarkan artikel ini
Aksi Bakar Lilin di depan Kantor Kedutaan Besar Takhta Suci, Vatikan. Jakarta Pusat. (Dokumen Redaksi)
Example 468x60

OPINI, KICAUNEWS.COM– Pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM seharusnya mengguncang kesadaran iman Gereja Katolik Indonesia. Bukan karena sensasi jabatan yang kosong, melainkan karena ada sesuatu yang jauh lebih dalam: luka pada tubuh Gereja itu sendiri.

Ketika seorang gembala menyatakan dirinya berada dalam tekanan dan situasi sulit sebelum mundur, lalu proses itu berlalu tanpa penjelasan yang jujur kepada umat, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar tata kelola, tetapi wajah Gereja di hadapan umatnya.

Example 300x600

Gereja mengimani Kristus sebagai Terang Dunia. Namun terang hanya bermakna jika berani menyingkap kegelapan. Ketika kegelapan dipelihara atas nama stabilitas, sesungguhnya Gereja sedang mengkhianati jati dirinya sendiri. Ecclesia semper reformanda bukanlah slogan akademik, melainkan panggilan permanen untuk terus-menerus dibersihkan oleh kebenaran. Gereja yang menolak diperbarui sedang memilih membatu dan mengeras.

Yesus sendiri berkata bahwa kebenaran akan memerdekakan. Bukan kekuasaan, bukan struktur, bukan jabatan. Jika kebenaran dibungkam, maka kemerdekaan umat pun dirampas. Karena itu, kegelisahan umat hari ini bukan tanda pembangkangan, melainkan tanda iman yang masih hidup.

Aksi Bakar Lilin di depan Kantor Kedutaan Besar Takhta Suci, Vatikan. Jakarta Pusat. (Dokumen Redaksi)

Umat yang bertanya sedang menunjukkan bahwa mereka masih peduli. Umat yang bersuara sedang menunjukkan bahwa mereka masih mencintai Gereja.

Bahaya terbesar bagi Gereja bukan kritik, melainkan keheningan. Diamnya umat dalam situasi tidak adil hanya akan melahirkan budaya takut, dan budaya takut tidak pernah berasal dari Roh Kudus. Roh Kudus selalu melahirkan keberanian, bukan kepatuhan buta.

Kesetiaan sejati bukan berarti menutup mata, melainkan tetap berdiri di sisi Injil sekalipun itu membuat tidak nyaman.

Para imam dan gembala pun Biarawati dipanggil bukan sekadar menjaga ritme liturgi, tetapi menjaga denyut nurani Gereja. Ketika seorang uskup terluka, mereka semestinya menjadi barisan pertama yang merangkul, melindungi, dan mencari kebenaran, bukan justru berlindung di balik bahasa aman, itu pengecut dan menjijikan.

Umat Katolik pada saat menyampaikan kesaksian acara aksi 1000 lilin. Sepeti diketahui, massa aksi tidak ditemui karena Nuncio sedang berada di Larantuka, Nusa Tenggara Timur. (Dokumen Redaksi)

Sejarah Gereja tidak dibangun oleh imam-imam dan Biarawati yang pandai menyesuaikan diri, tetapi oleh imam-imam yang berani mempertaruhkan kenyamanan demi kebenaran.

Demikian pula para uskup dalam kolegialitasnya, bukan sekadar duduk bersama dalam sidang, melainkan berdiri bersama dalam kebenaran. Yang pada akhirnya sikap dikembalikan ke ordinaris wilayah masing-masing.

Jika satu uskup dipaksa jatuh tanpa kejelasan, dan yang lain memilih diam, maka kolegialitas berubah menjadi formalitas. Gereja tidak bisa mengajarkan keadilan ke dunia jika di dalam dirinya sendiri keadilan diperlakukan sebagai urusan sensitif.

Takhta Suci Vatikan sering menyebut diri sebagai Mater et Magistra (Ibu dan Guru). Seyogyanya memiliki tanggung jawab moral untuk tidak membiarkan umat berjalan dalam gelap. Transparansi bukan ancaman bagi Gereja, justru fondasi kepercayaan.

Gereja universal hari ini berbicara tentang sinodalitas, tentang berjalan bersama, tentang mendengarkan umat. Semua itu akan terdengar hampa jika pada saat krisis justru yang muncul adalah tembok bisu.

Karena itu, jalan keluar yang bermartabat tidak boleh setengah-setengah. Takhta Suci Vatikan perlu membentuk tim investigasi independen dan imparsial, yang melibatkan unsur umat Allah, untuk meninjau kembali secara menyeluruh seluruh proses visitasi apostolik hingga pengunduran diri Mgr. Paskalis.

Bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan untuk menghadirkan keadilan dan memulihkan kebenaran. Lebih jauh, harus diusut secara serius siapa pihak-pihak yang menyebarkan informasi palsu, fitnah, dan narasi gelap yang menyerang martabat Bapa Uskup Paskalis.

Membiarkan penyebar hoaks berkeliaran tanpa pertanggungjawaban sama saja dengan memberi pesan bahwa karakter seseorang boleh dihancurkan tanpa konsekuensi. Itu bertentangan langsung dengan Injil.

Dalam terang Konsili Vatikan II, Gereja adalah umat Allah, bukan milik segelintir elit. Artinya, penderitaan satu anggota adalah penderitaan seluruh tubuh. Jika hari ini luka itu diabaikan, maka besok luka serupa akan terulang dengan korban yang berbeda.

Dan lama-kelamaan umat akan belajar satu hal yang berbahaya: bahwa kebenaran tidak penting selama sistem tetap berjalan. Padahal Gereja tidak dipanggil untuk sekadar berjalan, tetapi untuk berjalan di dalam terang.

Kasus Mgr. Paskalis adalah cermin. Cermin yang memantulkan apakah Gereja Indonesia sedang bertumbuh menuju kedewasaan, atau justru mundur ke dalam ketakutan. Gereja yang dewasa tidak alergi pada koreksi. Gereja yang dewasa tidak panik ketika ditanya.

Gereja yang dewasa tahu bahwa luka yang dibuka dengan jujur lebih mudah disembuhkan daripada luka yang disembunyikan. Karena itu, umat Katolik di seluruh Indonesia tidak boleh kembali ke posisi pasif. Tetaplah aktif, kritis, dan terlibat dalam setiap proses ini.

Bukan dengan kebencian, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan keberanian iman dan ketekunan moral. Bersuara hari ini bukan tindakan melawan Gereja. Bersuara hari ini adalah cara mencintai Gereja.

Jika Gereja ingin tetap relevan sebagai sakramen keselamatan, maka ia harus berani menjadi sakramen kebenaran. Tanpa itu, Gereja hanya akan menjadi institusi religius yang rapi di luar, tetapi rapuh di dalam, dan iman yang hidup tidak pernah nyaman dengan ketidakadilan.

Gereja yang hidup tidak pernah takut pada kebenaran. Jika hari ini kita memilih diam, maka sesungguhnya kita sedang membiarkan kegelapan merasa betah di rumah Tuhan.

Alexander Philiph Sitinjak
Penulis adalah umat Paroki St. Paulus Depok, Keuskupan Bogor; Departemen Politik dan Hubungan Antar Lembaga, Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik; serta Ketua Bidang Lintas Iman dan Budaya Perkumpulan Alumni PMKRI

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *