BANYUMAS, Kicaunews.com – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Barat terus mematangkan persiapan reboisasi hutan melalui pengadaan bibit unggul secara intensif.
Langkah ini dipertegas dengan dilakukannya inspeksi mendadak (sidak) oleh Administratur KKPH Banyumas Barat, Eka Cahyadi, S.Hut, didampingi Kepala Seksi Pembinaan Hutan (Kasi Binhut) di lokasi pemanenan cangkokan pohon pinus muda, Rabu (04/02/2026).
Kegiatan ini difokuskan pada pemanenan bibit BakJos (Bakal Jagoan Pinus), sebuah inovasi pembiakan melalui metode cangkok pada pohon pinus muda.
Metode ini dipilih karena kemampuannya menghasilkan bibit dengan kualitas genetis yang identik dengan induk unggulan serta memiliki daya tahan yang lebih kuat saat ditanam di lapangan.
Strategi Menuju “Zero Failure” 2026
Administratur KPH Banyumas Barat, Eka Cahyadi, S.Hut, menyatakan bahwa pengawasan langsung ini merupakan bentuk komitmen manajemen untuk memastikan tidak ada kegagalan tanaman pada tahun 2026.
“Kami tidak ingin main-main dengan urusan reboisasi.
Melalui bibit BakJos ini, kita sedang menyiapkan masa depan hutan Banyumas Barat. Pemanenan harus dilakukan dengan teknik yang benar agar saat musim tanam 2026 tiba, semua bibit dalam kondisi prima dan siap tumbuh maksimal,” ujar Eka Cahyadi di sela-sela kegiatannya.
Garis Besar Langkah Strategis KPH Banyumas Barat:
Seleksi Ketat: Hanya pohon pinus muda berkualitas tinggi yang dijadikan indukan cangkok untuk menjamin pertumbuhan yang seragam.
Konsistensi Pengawasan: Kehadiran pimpinan di lapangan bertujuan untuk menjaga disiplin teknis jajaran bawah agar sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Manajemen Risiko: Pengadaan bibit yang intensif dilakukan jauh-jauh hari sebagai langkah antisipasi terhadap perubahan iklim dan dinamika lahan.
Sinergi Usaha dan Doa: Manajemen menekankan bahwa keberhasilan hutan adalah perpaduan antara kerja keras teknis, konsistensi manajerial, dan dukungan spiritual.
Dengan upaya yang terintegrasi ini, KPH Banyumas Barat optimis target penghijauan kembali dapat tercapai secara maksimal, sekaligus memperkuat fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan dan aset negara yang produktif. (Red/Tugiman)


















