Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Azis Kafia : Inilah Moment Perayaan Tahun Baru ala Betawi Tempo Doeloe

201
×

Azis Kafia : Inilah Moment Perayaan Tahun Baru ala Betawi Tempo Doeloe

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com, Jakarta –
Pada sebuah surat kabar Het Volk edisi 2 Februari 1935, memuat berita menarik seputar tahun baru ala pribumi atau Indlands Nieuwjaar dari sudut pandang jurnalis Belanda. Tidak sebagaimana terjadi hari ini, peringatan tahun baru Masehi setiap malam 31 Desember hingga 1 Januari tak terjadi di masa itu. Menurut jurnalis Het Volk itu, Umat muslim Hindia (Orang Betawi) merayakan tahun baru mereka sesuai dengan adat muslim.

Merujuk perayaan meriah sebagaimana tahun baru orang-orang Eropa, perayaan tahun baru pribumi yang mayoritas beragama muslim terjadi setelah bulan Ramadan menuju Syawal (Hari Lebaran).

Example 300x600

Namun, sebelum merayakan Tahun Baru, “selama empat minggu, mereka (pribumi) melakukan mogok makan (puasa) di siang hari dan hanya makan (berbuka) saat kegelapan malam menyelimuti bumi,” tulis jurnalis Het Volk.

Sesaat menjelang malam (waktu Magrib) suara gemuruh bedoek berdentuman bertalu-talu dari berbagai penjuru masjid kampung yang menjadi penanda mereka diperbolehkan untuk makan dan minum. Anak-anak kemudian menghentikan permainan mereka dan bergegas pulang, diiringi sorak gembira: “Makan… Makan.” Kampung-kampung tetap ramai hingga larut malam. Para pedagang menjual buah-buahan, permen, dan makanan lainnya berteriak keras di waktu menjelang malam. Sekelompok pria terlihat berjongkok-jongkok terlibat dalam obrolan ramah antar tetangga sambil bersendawa setelah makan kenyang. Sedangkan, para wanita ribut berceloteh, sambil memaksa gumpalan nasi masuk ke mulut anak-anaknya.
Sementara para pemuda kampung yang sudah dewasa menghibur diri dengan petasan, atau terus-menerus memukul-mukul bedoek. Suasana di Batavia begitu ramai hangat selama bulan-bulan menjelang perayaan tahun baru pribumi.

Begitu riuh ramainya malam-malam selama Ramadhan. Lantas, bagaimana orang-orang Eropa di Batavia?
“Orang-orang Eropa, dengan sakit kepala yang hebat dan mata sayu, gelisah di tempat tidur mereka, tidak dapat tidur karena dengungan bedoek yang monoton, tak henti,” imbuhnya.

Beberapa hari menjelang Inlands Nieuwjaar, ribuan orang mulai memadati pegadaian demi untuk menebus perhiasan yang telah mereka gadaikan selama setahun terakhir.

Sementara yang lain, menggadaikan beberapa barang milik mereka demi mendapatkan uang selama perayaan. Karena yang terpenting, orang-orang membutuhkan uang saat itu. Maka dari itu, para pekerja, djongos atau pegawai, meminta persekot—hari ini dikenal dengan Tunjangan Hari Raya atau THR—pada tuannya atau bosnya. Dalam Leeuwarder nieuwsblad edisi 3 Januari 1939, para keluarga Belanda yang mempekerjakan djongos atau baboe, akan memberikan libur pada Tahun Baru Pribumi dengan satu atau lebih hari libur untuk mereka merayakannya.
Para orang-orang Arab di Batavia beraktivitas sebagaimana tahun-tahun sebelumnya: meminjamkan uang bagi para pribumi yang membutuhkannya selama perayaan.

Pada hari perayaan Tahun Baru, semua orang di Batavia muncul dengan pakaian-pakaian baru. Jurnalis Belanda menggambarkan orang-orang pribumi Batavia seperti merak yang baru memunculkan keindahannya di momen perayaan.
Sepanjang jalan yang dilalui selepas ibadah perayaan (Salat Id) mereka saling berkunjung ke rumah kerabat dan para tetangga yang dilintasinya.
Saat saling berjabat tangan, di antara mereka saling mengucap: Slamatan baroe (Selamat Tahun Baru—ditafsirkan ‘kembali baru atau fitrah’)
Kebiasaan tak beralas kaki, mau tak mau harus mereka lakukan. Beberapa orang yang tak nyaman, menjinjing sendal atau sepatu yang mereka punya. Sedang anak-anak kecil terlihat tak nyaman dipaksa mengenakan sepatu.
Kebanyakan muslim Batavia memanfaatkan Inlands Nieuwjaar dengan ziarah ke sebuah makam suci di Loear Batang. Seorang penyebar agama Islam berpengaruh di Batavia, Said Hoesin bin Ali bin Abu Bakar Al-Aydrus jadi destinasi. Dalam catatan kolonial, Habib Hoesin memang dikenal sebagai tokoh pendakwah yang datang dari Yaman dan amat disegani oleh orang-orang Belanda.

Saat VOC menangkapnya karena dianggap mengganggu, semua tahanan pribumi dibui menjadikannya imam salat yang kemudian membuat VOC ketakutan, dan melepaskan orang yang amat dihormati pribumi itu.
Semua yang berziarah ke makamnya nampak bergaya begitu luar biasa. Dengan pakaian baru—jurnalis Belanda menyebut warna baju mencolok yang mengganggu pandangan—dan perhiasan gemerlapan di tangan para wanita.
Namun, selepas Inlands Nieuwjaar berakhir, tidak lagi dijumpai pakaian-pakaian baru dan semua perhiasan kembali ke pegadaian.
Setelahnya, sang jurnalis Het Volk kemudian menyadari, sejatinya perayaan Inlands Nieuwjaar (pribumi atau Betawi) bukan benar-benar memperingati Tahun Baru. Sama sekali! Hanya saja, perayaan pergantian Tahun Baru Masehi saja tidak ada kembang api, petasan maupun terompet pada pukul 12 malam, tak semeriah momen Lebaran.
Tahun Baru Masehi dahulu dikenal dengan pesta perayaan orang-orang Eropa yang umumnya diadakan di pusat kota Batavia (Jakarta sekarang), sedangkan pesta tahun baru orang Betawi lebih dikenal orang Belanda pada momen Lebaran. Jadi marilah nikmati akhir bulan desember dengan biasa saja, hanya sebatas pergantian tahun, pergantian kalender. Tahun baru, semangat baru bagi orang Betawi (islam) adalah ketika romadhan berakhir dan masuk bulan syawal. Bukan awal Januari!

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *