oleh

Dana Pemberdayaan Desa Lobener Jatibarang Diduga Fiktif

Indramayu, Kicaunews.com – Masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri yang hanya bisa terjadi apabila masyarakat itu sendiri ikut pula berpartisipasi.

Dari suatu usaha hanya berhasil dinilai sebagai “pemberdayaan masyarakat” apabila kelompok komunitas atau masyarakat tersebut menjadi agen pembangunan atau dikenal juga sebagai subjek. Disini subjek merupakan motor penggerak, dan bukan penerima manfaat.

Namun sangat disayangkan program pemberdayaan masyarakat dari sumber anggaran Alokasi dana desa (ADD) dan anggaran Dana desa (DD) tahun 2018 sampai 2019 di desa lobener kecamatan Jatibarang kabupaten Indramayu Jawa barat diduga kuat fiktif

“Nyatanya dari penelusuran wartawan kicaunews banyak kejanggalan yang di temukan kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa lobener, tidak sampai pada penerima maupun lokasinya tidak jelas,”ungkap salah satu sumber berinisial KA (40) warga lobener.

Lebih jauh mengatakan, program pemberdayan masyarakat salah satunya, untuk ternak puyuh dan pembuatan kripik mangga, sampai hari ini belum juga terealisasi, dan tata kelola pelaporan keuanganpun tidak jelas padahal meningkatkan kapasitas kemajuan desa dan pengembangan kesejahteraan sosial, sangatlah penting, dari indeks pembangunan manusia (IPM) dan sumber daya manusia (SDM) itu semua sangat diperlukan.

“Padahal Kuwu (Kepala Desa-red) sutarmo pernah sebelumnya mengirim foto mesin pengering dan mesin lainnya ke salah satu media Ternyata faktanya dilapangan belum ada pelaksanaan sampai hari ini,”tegasnya

H. Sutikno ketua pengelola pembuatan keripik mangga temui dirumahnya, Kamis (16/01/2020) menjelaskan pengelolaan pembuatan kripik mangga tidak sedikit nilai anggarannya mencapai Rp. 81.000.000,- jutaan menurut terkait soal dana pemberdayaan masyarakat.

“Saya nggak tahu menahu sampai saat ini belum ada kejelasan apa-apa dari pemerintah desa lobener, tapi menurut Kuwu (Kepala Desa-red) nanti kalau musim buah mangga, padahal saya pikir kalau niat untuk membantu masyarakat jangan nunggu musim buah saja, kan bisa pesan kalau kita niat,”jelas H. Sutikno

Baca juga :  WARGA CONDET DEKLARASIKAN GERAKAN TOLAK AHOK

Di tempat yang berbeda H.Nurman selaku ketua yang ditunjuk kepala desa sebagai pengelola ternak puyuh, saat di temui dirumahnya mengatakan Waduh pa maaf saya kaget atas informasi yang dikemukakan awak media tentang pengelolaan ternak puyuh, emang dulu ada rapat tapi sampai sekarang belum ada kabar lagi, kalau emang saya ditunjuk sebagai ketua mana ternak puyuhnya, dan kapan realisasinya apalagi menelan anggaran yang besar sampai Rp. 63,000.000,-

“Coba pak pertanyakan lagi kepada kuwunya mungkin sudah berjalan,padahal tidak melalui saya kenapa nama H.Narman disebutkan sebagai ketua,” Tandasnya

Sementara itu Seniman z. sikumbang sangat kecewa sebagai seniman adanya bantuan Rp.11,000,000,- karna saya tidak menerima bantuan apa-apa dari pemerintah desa lobener apalagi pembuatan berbagai macam lukisan, karikatur, pernak-pernik hasil koleksi tangan sendiri.

“Karena saya masih mampu ko untuk mengembangkan hasil karya seni sendiri tanpa bantuan siapapun, apalagi bantuan segitu cuma suaranya aja, dan mohon maaf saya jujur tidak menerima bantuan sepeserpun,”Terangnya

Pada saat Kicaunews mengkonfirmasi terkait dana pemberdayaan masyarakat diduga fiktif dengan melalui via chat WhatsApp ke Lurah Jono, jurutulis Ajo, Ferengki ketua BPD, bahkan kuwu Sutarmo, serta pak Maman selaku dari pihak kecamatan sampai saat ini berita di terbitkan belum ada balasan. (JL)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru