Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaNasionalNewsParlemenPolitik

Para Akademisi Antusias Ikuti Simposium Rewriting Islamic History di UIN Jakarta

82
×

Para Akademisi Antusias Ikuti Simposium Rewriting Islamic History di UIN Jakarta

Sebarkan artikel ini
Kegiatan Simposium Nasional di hadiri Direktur Sejarah dan Permuseuman Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Ade Abdul Hak, S.Ag., S.S., M.Hum., CIQnR., beserta sivitas akademika FAH UIN Jakarta. (Sumber Foto: Redaksi Media Group Kicau/Hotmartua Simanjuntak)
Example 468x60

TANGSEL, KICAUNEWS.COM- Program Studi Doktor Sejarah Peradaban Islam dan Program Studi Magister Sejarah Kebudayaan Islam, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menggelar Simposium Nasional bertajuk Rewriting Islamic History: Sources, Networks and Social Changes pada Selasa (28/07) kemarin.

Sekretaris Program Magister Sejarah Kebudayaan Islam dan Program Doktor Sejarah Peradaban Islam FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Mauidlotun Nisa’, M.Hum., mengatakan agenda simposium itu mendapat antusias tinggi dari kalangan akademisi dan peneliti.

Example 300x600

Menurut Mauidlotun, gagasan penyelenggaraan simposium tersebut sebelumnya telah direncanakan sekitar dua bulan sebelumnya dan berhasil menarik perhatian peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara di kawasan Asia dan Afrika.

“Dari total 125 abstrak yang masuk, termasuk dari sejumlah negara di kawasan Asia dan Afrika, sebanyak 80 abstrak dinyatakan lolos seleksi. Selanjutnya, 50 pemakalah mengirimkan full paper beserta materi presentasi. Mereka berasal dari berbagai perguruan tinggi, lembaga riset, hingga peneliti independen,” katanya.

Akademisi itu menambahkan, simposium ini merupakan bagian dari upaya membangun optimisme baru dalam pengembangan ilmu sejarah agar tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah perubahan zaman.

“Target kami adalah agar ilmu sejarah tetap hidup, berkembang, dan berjaya mengikuti perubahan zaman serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kami juga ingin menumbuhkan rasa percaya diri para akademisi sejarah bahwa dunia membutuhkan sejarah yang jujur, dibangun di atas sumber-sumber primer yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan,” terangnya.

Senada, Ketua Panitia Simposium, Muhamad Abror, mengatakan kegiatan tersebut diikuti peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, antara lain Jawa, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung, Kalimantan Tengah, hingga Sulawesi Selatan, khususnya Makassar dan Parepare.

“Pemakalah juga berasal dari BRIN, peneliti independen, komunitas sejarah, serta institusi internasional di Edinburgh dan Melbourne,” kata Abror.

Abror mengatakan keberagaman latar belakang dan sebaran geografis peserta menunjukkan luasnya jejaring kajian sejarah Islam yang melampaui batas wilayah maupun kelembagaan.

Hal itu, kata Abror, mencerminkan berkembangnya pendekatan interdisipliner dalam membaca ulang sejarah Islam.

Diketahui, kegiatan tersebut menjadi forum akademik bagi para sejarawan, akademisi, dan peneliti untuk mendiskusikan serta mengkaji ulang sejarah Islam melalui pendekatan yang lebih kritis, kontekstual, dan berbasis sumber primer.

Selain itu, kegiatan simposium tersebut mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan itu turut dihadiri Direktur Sejarah dan Permuseuman Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dr. Ade Abdul Hak, S.Ag., S.S., M.Hum., CIQnR., beserta sivitas akademika FAH UIN Jakarta.

 

Pembukaan simposium diawali dengan penampilan Tari Ondel-Ondel Betawi yang dibawakan Tim Tari Artefah UIN Jakarta sebagai bentuk apresiasi terhadap pelestarian budaya lokal di lingkungan kampus.

Agenda simposium tersebut diselenggarakan sebagai langkah mempertegas komitmen Program Studi Doktor Sejarah Peradaban Islam dan Program Studi Magister Sejarah Kebudayaan Islam FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta terhadap tradisi akademik, mendorong pembaruan perspektif, serta mengembangkan kajian sejarah Islam yang lebih kritis, inklusif, dan relevan dengan tantangan zaman. (Hotmartua)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *