PENDAPAT, KICAUNEWS.COM– Dinamika menjelang pelaksanaan Kongres dan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) yang akan berlangsung, pada Juli 2026 mulai bergerak semakin intens.
Percakapan tentang arah organisasi, konfigurasi kepemimpinan nasional, dan peta dukungan menjadi topik yang sulit di hindari di berbagai cabang dan komisariat, dan situasi tersebut menjadi bagian dari tradisi yang terus berulang pada saat menjelang kongres dan MPA.
Namun, ditengah ramainya manuver politik organisasi, muncul suara kritis dalam bentuk ajakan dari kader PMKRI asal Semarang yang terhimpun dalam Komisariat Daerah (Komda) II Jawa Tengah-DIY, untuk melihat persoalan yang lebih mendasar, dan mengesampingkan siapa yang akan dan harus menang dalam kontestasi.
Suara tersebut, datang dari Natael Bremana, kader PMKRI asal Semarang yang tergabung dalam Komda II Jawa Tengah-DIY.
Dalam tulisannya yang berjudul “Kongres Juli: Jangan Sampai PMKRI Tertipu Kembali“, Bremana mengungkapkan kegelisahan yang menurutnya tidak hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, akan tetapi juga oleh banyak kader yang masih menaruh harapan besar terhadap masa depan PMKRI.
Kader PMKRI yang berhasil membuat tersinggung Budiman Sujatmiko pada acara diskusi itu, tidak bicara siapa kandidat yang harus didukung maupun kandidat yang layak menang di Kongres.
Sebaliknya, Bremana mengajak semua kader PMKRI untuk memikirkan kembali tujuan utama diselenggarakannya Kongres dan MPA sebagai forum tertinggi organisasi.
Menurutnya, terlalu sering perhatian kader tersedot pada persaingan figur dan perebutan dukungan, sementara substansi mengenai arah organisasi justru berada di posisi kedua.
Dalam pandangannya, setiap Kongres dan MPA selalu menghadirkan optimisme baru. Muncul tokoh-tokoh baru dengan berbagai gagasan, slogan, dan janji perubahan.
Narasi mengenai transformasi organisasi, penguatan kaderisasi, hingga revitalisasi gerakan kembali memenuhi ruang-ruang diskusi.
Namun setelah forum selesai dan kepengurusan baru terbentuk, tidak sedikit kader yang kemudian menemukan bahwa berbagai persoalan mendasar organisasi masih tetap berada di tempat yang sama.
Keresahan itulah yang menjadi dasar dari refleksi Bremana sebagai kader PMKRI. Ia mempertanyakan kapan terakhir kali Kongres dan MPA benar-benar menghasilkan perubahan yang substantif terhadap organisasi.
Sebab dalam pengamatannya, pergantian kepemimpinan sering kali hanya menghasilkan pergantian nama dan figur, sementara persoalan kelembagaan yang lebih mendasar belum sepenuhnya teratasi.
Bremana berpandangan bahwa, dari masa ke masa, PMKRI tidak pernah kekurangan kader yang memiliki kapasitas untuk memimpin. Organisasi Katolik itu terus melahirkan kader-kader yang cerdas, kritis, dan memiliki pengalaman organisasi yang memadai.
Tantangan PMKRI terletak pada kemampuan untuk memilih pemimpin yang benar-benar mempunyai komitmen dalam membangun sistem, bukan hanya sebatas memenangkan kontestasi.
Dalam organisasi kader, kata Bremana berpandangan, ukuran kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh kemampuan berbicara di podium atau luasnya jaringan dukungan yang dimiliki.
Terdapat hal yang jauh lebih penting yang harus dilihat oleh semua kader PMKRI, diantaranya rekam jejak dan warisan organisasi yang pernah dibangun.
Menurut Bremana, ada pertanyaan yang penting untuk diajukan kepada setiap kandidat, yakni apa yang ditinggalkan setelah masa kepemimpinannya berakhir? Apakah organisasi yang pernah dipimpinnya menjadi lebih kuat? Apakah kaderisasinya lebih baik? Apakah tata kelolanya lebih tertata? Apakah budaya organisasinya lebih sehat?
Jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat di jawab secara meyakinkan, maka organisasi perlu berhati-hati dalam memberikan mandat yang lebih besar.
Kegelisahan Bremana juga menyentuh persoalan yang lebih sensitif, yakni semakin menguatnya kecenderungan politik transaksional dalam berbagai kontestasi organisasi.
Ia tidak menyebut nama ataupun kelompok tertentu. Namun, Bremana mengingatkan bahwa organisasi kader harus tetap menjaga dirinya dari logika politik yang menempatkan dukungan sebagai komoditas dan suara sebagai instrumen transaksi.
Menurutnya, Kongres dan MPA seharusnya menjadi arena pertarungan gagasan, bukan arena pertukaran kepentingan. Ketika dukungan diberikan karena kalkulasi politik jangka pendek dan bukan karena kualitas kepemimpinan, maka organisasi sedang menghadapi ancaman yang serius.
Dalam kondisi demikian, yang dipertaruhkan bukan sekadar hasil pemilihan, melainkan masa depan organisasi itu sendiri.
Bremana menilai bahwa setiap bentuk dukungan selalu memiliki konsekuensi. Dalam dunia politik, hampir tidak ada dukungan yang benar-benar bebas dari harapan dan kepentingan.
Karena itu, kader perlu memastikan bahwa pemimpin yang terpilih nantinya tetap memiliki kebebasan untuk menjalankan mandat organisasi tanpa dibebani berbagai kewajiban politik yang lahir sebelum ia memimpin.
Selain persoalan politik organisasi, Bremana juga menyoroti kecenderungan sebagian orang yang menjadikan organisasi sebagai kendaraan untuk kepentingan pribadi.
Ia menegaskan bahwa PMKRI memang harus melahirkan kader-kader yang sukses di berbagai bidang kehidupan. Namun kesuksesan pribadi tidak boleh dicapai dengan mengorbankan pembangunan organisasi.
Menurutnya, PMKRI bukan sekadar ruang transit sebelum seseorang memasuki dunia profesional, politik, atau birokrasi. PMKRI adalah rumah kaderisasi yang harus terus dirawat dan diperkuat.
Karena itu, setiap kader memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa organisasi yang diwariskan kepada generasi berikutnya berada dalam kondisi yang lebih baik daripada ketika ia menerimanya.
Meski menyampaikan berbagai kritik, Bremana mengaku tetap optimistis terhadap masa depan PMKRI. Optimisme tersebut lahir dari keyakinannya bahwa organisasi ini masih memiliki banyak kader yang berintegritas, memiliki idealisme, serta mampu menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi.
Menurutnya, Kongres dan MPA Juli mendatang seharusnya tidak dipahami semata-mata sebagai agenda memilih Ketua Presidium Nasional ataupun menyusun dokumen-dokumen organisasi.
Lebih dari itu, forum tersebut merupakan momentum refleksi bersama mengenai arah perjuangan PMKRI di tengah berbagai perubahan sosial, politik, ekonomi, dan kehidupan Gereja yang terus berkembang.
Pada akhirnya, Bremana mengajak seluruh peserta Kongres dan MPA untuk tidak hanya bertanya mengenai siapa yang akan terpilih. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah PMKRI seperti apa yang ingin dibangun setelah forum berakhir.
Apakah PMKRI akan semakin kuat karena sistem dan kaderisasinya, atau tetap bergantung pada figur-figur yang datang dan pergi? Apakah organisasi akan semakin dewasa dalam tata kelolanya, atau terus mengulang persoalan yang sama dari periode ke periode?
Bagi Bremana, masa depan PMKRI tidak pernah ditentukan oleh satu orang pemimpin. Masa depan PMKRI ditentukan oleh kualitas kader yang hadir dalam Kongres dan MPA serta keberanian mereka untuk memilih berdasarkan rekam jejak, integritas, dan visi organisasi.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar tidak runtuh karena kekurangan pemimpin. Organisasi besar runtuh ketika kader-kadernya kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis, kehilangan keberanian untuk mengoreksi diri, dan berhenti menempatkan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Pada titik itulah, menurut Bremana, sesungguhnya pertaruhan terbesar Kongres dan MPA Juli tahun ini berada. Bukan sekadar tentang siapa yang akan memimpin PMKRI, melainkan tentang apakah PMKRI masih mampu menjaga jati dirinya sebagai organisasi kader yang setia pada nilai perjuangan, intelektualitas, dan pengabdian kepada Gereja, bangsa, dan kemanusiaan. (Haji Merah)
Natael Bremana WB
Kader PMKRI dari Komda II Jateng-DIY/Semarang.


















