Indramayu,Kicaunews.com- Kesenian tradisional Berokan, ikon budaya khas Indramayu, kini menghadapi tantangan besar di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Sosok yang dahulu dikenal sebagai “penolak bala” dengan topeng kayu khas dan kostum sederhana dari karung goni, kini mulai kehilangan pamornya, terutama di kalangan generasi muda.
Pada masanya, kehadiran Berokan selalu dinanti masyarakat. Selain dipercaya memiliki nilai magis, atraksi yang ditampilkan juga menghibur, menghadirkan perpaduan antara rasa takut dan tawa, khususnya bagi anak-anak. Suara khas dari topeng kayu yang berbunyi saat dimainkan menjadi ciri unik yang sulit dilupakan.
Namun kini, eksistensi Berokan perlahan memudar. Perubahan gaya hidup dan maraknya penggunaan gadget membuat minat masyarakat, terutama anak-anak, beralih ke hiburan digital. Kondisi ini diperparah dengan minimnya regenerasi pelaku seni Berokan, karena profesi tersebut dinilai kurang menjanjikan secara ekonomi.
Padahal, memainkan Berokan bukan perkara mudah. Dibutuhkan keterampilan khusus untuk menggerakkan properti yang relatif berat, sekaligus menjaga keluwesan gerak agar tetap menghibur penonton. Nilai seni dan filosofi yang terkandung di dalamnya pun menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Indramayu.
Meski demikian, harapan untuk melestarikan Berokan masih terbuka. Sejumlah pegiat budaya mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, mengenalkan kembali kesenian ini kepada generasi muda. Upaya ini diharapkan mampu menjaga keberlangsungan Berokan di tengah arus modernisasi.
Pelestarian budaya lokal bukan hanya tanggung jawab seniman, tetapi juga seluruh masyarakat. Tradisi seperti Berokan tidak sekadar warisan masa lalu, melainkan bagian dari jati diri yang perlu dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. (Bd)


















