Kicaunews.com- Sahl bin Abdullah at-Tustari (sekitar 200-283 H/818-896 M) adalah ulama, sufi besar, dan mufasir terkemuka abad ke-3 Hijriyah asal Persia yang dikenal dengan zuhud dan ajaran tasawufnya. Ia menghafal Al-Qur’an pada usia 6 tahun, berguru pada Dzun Nun al-Misri, dan meninggalkan warisan penting berupa Tafsir al-Tustari.
Sangat disiplin dalam ibadah sejak usia 3 tahun, rajin tahajud, dan menghindari kemewahan dunia (zuhud).
muhammad bin swwar adalah pamannya memberi amalan kepada Sahal bin Abdullah al-Tustari (seorang wali yang alim sejak kecil) berakar dari didikan spiritual memoertajam mata batin .Muhammad bin Siwar memerintahkan Sahal yang saat itu masih kecil untuk mengingat Allah (berdzikir) dalam hati setiap malam. Kalimatnya adalah: “Allah ma’i, Allah ma’i (الله معي) Allahu nazhiri(الله ناظرى), Allah syahidi (الله شاهدي). Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku”.
Amalan ini dilakukan sebanyak 3 kali atau lebih setiap malam di dalam hati.
Amalan ini diajarkan agar Sahal muda terbiasa merasakan kehadiran Allah (muraqabah) sejak balita.
Kisah ini diceritakan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin. Sahl bin Abdullah at-Tustari (wafat 283 H) dikenal sebagai seorang sufi besar yang sejak usia 3 tahun sudah bangun malam melihat pamannya, (Muhammad bin Siwar) shalat malam. Pamannya kemudian memberikan amalan tersebut untuk membentuk spiritualitas Sahl sejak dini.
Selamat menjalankan Ibadah puasa.














