Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

DR HM Suaidi,MA : Gambaran Paradoks kehidupan manusia di al Qur’an Miliki potensi kemuliaan dan resiko kejatuhan terendah

217
×

DR HM Suaidi,MA : Gambaran Paradoks kehidupan manusia di al Qur’an Miliki potensi kemuliaan dan resiko kejatuhan terendah

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com-
Kesempurnaan dalam konteks Akhsanu Takwim merujuk pada ayat ke-4 Surat At-Tin:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيم

Example 300x600

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya). Ini bukan hanya tentang fisik, melainkan integrasi sempurna antara jasmani, akal, dan rohani yang menjadikan manusia makhluk paling unggul dibandingkan makhluk lainnya.
Manusia diciptakan dengan postur tubuh yang tegak, proporsional, dan seimbang. Organ tubuh manusia dirancang sedemikian rupa untuk menunjang fungsi kehidupan, kemampuan beraktivitas, dan adaptasi di dunia.

Berbeda dengan makhluk lain, manusia dibekali akal pikiran yang memungkinkan mereka membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah, serta kemampuan untuk berilmu dan berbudaya.

Manusia dibekali fitrah untuk mengakui ketuhanan (tauhid) dan memiliki potensi rohani yang luhur. Ini mencakup potensi keadilan, emosi yang stabil, dan kemampuan spiritual.

Gambaran paradoks kehidupan manusia dalam Al-Qur’an, di mana manusia memiliki potensi kemuliaan tertinggi sekaligus risiko kejatuhan terendah.

ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ

kemudian Kami merendahkannya ke tingkat yang paling rendah

Tingkat paling rendah (asfala safilin) dalam QS At-Tin ayat 5 merujuk pada kondisi manusia yang jatuh martabatnya akibat menyimpang dari fitrah, memperturutkan hawa nafsu, dan meninggalkan ajaran Allah. Kondisi ini dapat bermakna fisik/mental (pikun/tua renta) atau spiritual (neraka/kehinaan akhlak).

Pengecualian: Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan tidak akan dikembalikan ke tingkat serendah-rendahnya tersebut.

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُون.

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan. Maka, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.

disini pentingnya menjaga iman dan amal baik.

Tiga hal yang harus dilalui menurut
Seorang tokoh sufi Abu Yazid Al-Busthami yaitu :

1. Takhalli (تخلى) ialah membersihkan diri dari segala kotoran atau penyakit hati, seperti : nifaq, hasad, sombong, riya’, sum’ah, tama’, cinta dunia dan penyakit hati yang lain.Tahalli (تحلى) ialah menghiasi diri dengan amal-amal sholeh baik yang wajib atau yang sunnah seperti sholat, puasa, zakat, haji, duha, shodaqah, tahajjud , sholat rowatib dan lain-lain. Juga menghiasi diri dengan akhlakul karimah, seperti : tawadhu’, zuhud, ‘iffah, qana’ah, amanah, iqtishad dan lain sebagainya.Tajalli (تجلى)ialah merasakan diri selalu berhadap-hadapan dengan sang pencipta, seakan melihat tuhannya, serta merasakan nikmatnya berkomunikasi dengan-Nya.

2. Munajat ialah selalu mencurahkan isi hati serta berkeluh kesah hanya kepada Allah SWT setiap saat. Terutama pada waktu sunyi tengah malam, selalu merasa bergelimang dengan dosa sehingga tidak henti-hentinya bertobat kepada Allah SWT. Muraqabah ialah merasakan bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Dalam segala hal, baik dalam keadaan terjaga atau tidur, merasakan bahwa dirinya sama sekali tidak mempunyai kekuatan apapun saja, yang ada hanya kekuatan dan kesempurnaan Allah SWT Muhasabah ialah usaha selalu mengevaluasi dari setiap saat, agar terus semakin baik ke depan. Selalu mengingat dosa-dosa masa lalu untuk dimintakan ampun kepada Allah dan tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

3. Syari’at adalah aturan atau undang-undang yang telah dibuat oleh Allah SWT untuk hamba-hambanya, baik berupa aturan-aturan seperti wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram atau berupa amalan-amalan, seperti sholat, zakat, puasa.Thariqat ialah jalan atau petunjuk dalam suatu ibadah sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW, dan dikerjakan oleh para sahabat, tabi’in dan tabiit tabi’in dan terus bersambung dengan para ulama’ sekarang. Hakikat yaitu keadaan sampai pada tujuan, yaitu ma’rifatullah (mengenal Allah) dan musyaahadatu nuurittajalli ( melihat cahaya yang nyata)

Muga bermanfaat.

Aw

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *