Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Mata Air sebagai Simbol Peradaban: Sarasa Institute Dorong Perlindungan Karst di Pangandaran

548
×

Mata Air sebagai Simbol Peradaban: Sarasa Institute Dorong Perlindungan Karst di Pangandaran

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Pangandaran, kicaunews.com – Mata air bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi juga fondasi peradaban yang telah membentuk berbagai masyarakat sejak zaman kuno.
Tedi Yusnanda N, Direktur Eksekutif Sarasa Institute, menegaskan pentingnya perlindungan kawasan karst di Pangandaran yang kaya akan mata air, sejalan dengan rencana Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk membeli dan mengelola seluruh titik mata air di provinsi ini agar tetap terlindungi dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Dalam sejarah peradaban, kita melihat bahwa peradaban besar lahir dan berkembang di sekitar sumber air. Misalnya, peradaban Mesopotamia di antara Sungai Eufrat dan Tigris, serta peradaban Lembah Indus yang berkembang karena melimpahnya sumber air. Tanpa air, peradaban tidak akan bertahan,” ujar Tedi dalam pemaparannya.

Example 300x600

Menurutnya, mata air bukan hanya elemen ekologis, tetapi juga memiliki nilai budaya dan spiritual. “Di banyak kebudayaan, mata air dianggap sakral. Dalam mitologi Nordik, ada Sumur Urd yang dikatakan sebagai sumber pengetahuan, sementara dalam budaya Nusantara, banyak sumber air yang dikeramatkan karena diyakini membawa berkah dan kesuburan,” tambahnya.

Karst Pangandaran: Titik Strategis yang Harus Dilindungi.
Tedi menjelaskan bahwa wilayah dataran tinggi Pangandaran, yang didominasi oleh batuan karst, memiliki banyak titik mata air yang menjadi sumber utama bagi masyarakat dan ekosistem sekitarnya. Namun, perubahan penggunaan lahan yang tidak terkontrol dapat mengancam keberadaan sumber-sumber air tersebut.

“Jika kita melihat kasus di Puncak Bogor dan Lembang Bandung, kita bisa belajar bahwa alih fungsi lahan tanpa perencanaan yang matang dapat mengganggu siklus hidrologi dan menyebabkan kelangkaan air. Di Puncak, deforestasi untuk vila dan resort telah mengurangi daya serap tanah, sementara di Lembang, eksploitasi air tanah untuk sektor pariwisata menyebabkan banyak mata air mengering,” paparnya.

Ia menekankan bahwa inventarisasi titik-titik mata air di Pangandaran harus segera dilakukan untuk mengetahui lokasi, kapasitas, serta kondisi ekologisnya. “Tanpa data yang akurat, kita tidak bisa merancang strategi konservasi yang efektif,” tegasnya.

Dukungan terhadap Kebijakan Pemerintah.
Rencana Gubernur Dedi Mulyadi untuk membeli dan mengelola titik-titik mata air sebagai aset Pemerintah Provinsi dipandang sebagai langkah progresif. Namun, Tedi mengingatkan bahwa pengelolaan ini harus melibatkan masyarakat setempat serta berbasis pada prinsip keberlanjutan.

“Langkah ini penting, tetapi tidak cukup hanya sekadar membeli dan menguasai. Harus ada regulasi ketat, edukasi kepada masyarakat, serta program konservasi berbasis kearifan lokal. Jangan sampai kepemilikan beralih ke pemerintah, tetapi pengelolaannya tetap eksploitatif,” ujarnya.

Ia menyoroti pentingnya konsep sustainable water governance, di mana perlindungan sumber daya air dilakukan melalui pendekatan ekologi, sosial, dan ekonomi secara seimbang. “Di banyak negara maju, seperti Jerman dan Belanda, mata air dikelola dengan prinsip keberlanjutan yang mengutamakan konservasi sebelum eksploitasi. Ini yang harus kita tiru,” katanya.

Menjaga Mata Air, Menjaga Masa Depan.
Menurut Tedi, langkah utama yang harus segera dilakukan adalah:

1. Inventarisasi titik-titik mata air di Pangandaran, termasuk kondisi dan kapasitasnya.

2. Pengamanan kawasan sekitar mata air dari ancaman eksploitasi yang berlebihan.

3. Penerapan regulasi ketat untuk menjaga kelestarian ekosistem karst.

4. Pendidikan dan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber air.

“Mata air adalah warisan alam yang tak tergantikan. Jika kita tidak melindunginya hari ini, generasi mendatang akan kehilangan salah satu sumber kehidupan utama mereka,” pungkasnya.

Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan masyarakat, mata air di kawasan karst Pangandaran dapat terus memberikan manfaat bagi ekosistem dan kehidupan sosial, sebagaimana telah terjadi sejak zaman peradaban kuno.
***NZ***

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *