Kicaunews.com, Jakarta – Islam adalah agama yang sangat mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) sebagai bagian integral dari ajaran iman. Kemanusiaan dalam Islam bukan sekadar konsep sosial, melainkan mandat agama yang menekankan martabat, keadilan, kasih sayang, dan solidaritas terhadap sesama manusia tanpa memandang latar belakang.
Nabi menegaskan :
أحب العمل إلى الله الحنفية السمحة
Perbuatan yang paling dicintai Allah adalah perbuatan yang lurus nan toleran (al-hanafiyyatus samhah)” (HR Al-Bukhârî).
Martabat Manusia (Human Dignity): Islam memandang kemanusiaan sebagai karunia Allah yang melekat pada setiap individu. Ajaran ini menjaga martabat dan hak asasi manusia (HAM) sebagai prinsip mendasar.
Solidaritas Tanpa Memandang Perbedaan: Islam mengajarkan untuk menjaga kebhinekaan dan kesetaraan, di mana kemanusiaan melampaui sekat-sekat agama, ras, atau latar belakang sosial. Prinsip “saudara dalam kemanusiaan” menjadi fondasi sikap inklusif dan kerukunan.
Prinsip Keadilan dan Empati: Islam mengedepankan empati dan solidaritas sosial yang kuat untuk membantu sesama, yang dianggap setara pentingnya dengan ibadah ritual.
Islam Rahmatan lil ‘Alamin: Nilai kemanusiaan mencerminkan Islam sebagai agama yang membawa kasih sayang bagi seluruh alam, yang diwujudkan melalui tolong-menolong dan nasihat-menasihati.
Imam As-Syâthibî, nama lengkapnya Abû Ishâq Ibrâhîm bin Mûsâ bin Muhammad Al-Lakhamî As-Syâthibî Al-Gharnathî (wafat 790 H), dalam Al-Muwâfaqât tersebut, telah menegaskan bahwa:
أن وضع الشرائع إنما هو لمصالح العباد في العاجل والأجل معا
Artinya ”Bahwa konstruksi syariat tiada lain adalah untuk kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat sekaligus. (As-Syâthibî, Al-Muwâfaqât fî Ushûlis Syarî‘ah, [Beirut, Dârul Kutub Al-‘Ilmiyyah: 2003 M], juz II, halaman 4).
Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini sering dikaitkan dengan keislaman, keindonesiaan, dan kebudayaan yang mengutamakan persatuan dan kehidupan harmonis.


















