JAKARTA, Kicaunews.com – Lantai bursa mendadak diguncang spekulasi liar setelah dua petinggi asal Malaysia di PT MPI Tbk (SDPC) kompak angkat kaki. Kehilangan dua nakhoda utama dalam waktu kurang dari tujuh bulan memicu tanda tanya besar di kalangan investor: Apakah ini sinyal bahaya bagi masa depan emiten farmasi tersebut?
Dinamika ini bermula saat Ahmad bin Abu Bakar resmi menanggalkan jabatan Direktur Utama pada akhir tahun lalu. Belum reda kejutan tersebut, publik kembali dikejutkan oleh Mohamad Fazly bin Hassan yang melayangkan surat pengunduran diri dari posisi Direktur pada 29 Juni 2026.
Aksi mundur beruntun dua ekspatriat penentu kebijakan ini dinilai melampaui kewajaran pergantian pengurus perseroan. Advokat Bisnis dan Pengamat Hukum Korporasi, Risman Harefa, S.H., CPT., CPLA., menyebut fenomena ini sebagai sinyal kewaspadaan tinggi (red flag).
“Secara hukum dan bisnis, ada indikasi kuat terjadinya tantangan internal yang coba diredam di balik narasi formal keterbukaan informasi. Pasar membenci ketidakpastian, dan isu ini bisa menjadi bola liar yang menggerus nilai kapitalisasi pasar jika tidak segera diantisipasi,” tegas Risman, Jumat (3/7/2026).
Kini, investor menanti ajang RUPS terdekat sebagai pembuktian apakah emiten ini sedang bersih-bersih internal secara sehat, atau justru sedang didera konflik operasional yang mendalam. Sayangnya, hingga kini manajemen PT MPI Tbk masih memilih bungkam. (Red)


















