Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaNasionalNewsPolitik

ISPI Sebut Komitmen Ramah Lingkungan PT Astra International Masih Sebatas Slogan

120
×

ISPI Sebut Komitmen Ramah Lingkungan PT Astra International Masih Sebatas Slogan

Sebarkan artikel ini
Gedung PT Astra International Tbk, Foto diambil dari instagram resmi Astra Carrier. (Dokumen Redaksi)
Example 468x60

JAKARTA, KICAUNEWS.COM– Direktur Riset Indonesian of Social Political Institute (ISPI), Hendi Surya Iskandar, mengatakan strategi transisi energi menuju kendaraan listrik serta hybrid yang menjadi cita-cita nasional di masa depan tampaknya masih sulit diwujudkan.

Pasalnya, saat ini tingkat penjualan produk kendaraan rendah emisi berbahan bakar fosil masih menjadi dominasi pasar perusahaan otomotif, terutama PT Astra International Tbk, yang juga ikut memperparah kemacetan, polusi udara, dan beban sosial yang harus ditanggung masyarakat.

Example 300x600

“Selama kendaraan-kendaraan yang diproduksi dan dipasarkan masih berbasis bahan bakar fosil, maka beban emisi, kemacetan, dan pencemaran udara akan terus mengalami peningkatan. Di sisi lain, perusahaan otomotif tetap memperoleh keuntungan besar dari penjualan kendaraan mereka,” kata Hendi, Kamis (02/07), di kawasan Rempoa, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.

Dari data analisis ISPI, jejak emisi industri otomotif sebanyak 85 hingga 90 persen berasal dari emisi gas buang yang dihasilkan dari penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil, yang diproduksi dari industri otomotif Scope 3, dalam hal ini salah satunya PT Astra International Tbk.

Menurut Hendi, di tengah komitmen pemerintah tentang arah pembangunan nasional yang mendorong transisi energi menuju pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), tingkat penjualan kendaraan berbahan bakar fosil masih terus dilakukan perusahaan otomotif, terlebih oleh PT Astra International Tbk.

“Narasi keberlanjutan yang dirumuskan oleh negara tentang energi terbarukan, ramah lingkungan, dan seterusnya itu, pada akhirnya hanya slogan saja. Kan faktanya, perusahaan-perusahaan otomotif itu saat ini masih melakukan penjualan kendaraan berbahan bakar fosil. Kalau perusahaan tersebut kampanye soal ramah lingkungan, itu pola greenwashing aja itu,” kata Hendi.

Diberitakan sebelumnya, Penggerak Milenial Indonesia (PMI) mengatakan saat ini porsi terbesar jejak karbon industri otomotif berasal dari penggunaan kendaraan yang telah dipasarkan kepada konsumen, dan transparansi terhadap emisi Scope 3 dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan akuntabilitas lingkungan perusahaan.

“Kendaraan-kendaraan dengan bahan bakar fosil hingga saat ini masih mendominasi pasar otomotif nasional, dan itu berdampak pada tingginya kontribusi terhadap emisi dan kepadatan lalu lintas yang saat ini semakin sangat besar,” kata Hasrullah.

Selain itu, PMI juga berencana menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Pusat PT Astra International dan Kementerian Lingkungan Hidup sebagai bentuk protes terhadap dugaan minimnya transparansi dan akuntabilitas lingkungan pada industri otomotif. Berkaitan dengan emisi karbon kategori Scope 3, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi terhadap kemacetan dan kualitas udara di kawasan Jabodetabek yang disebabkan oleh jenis kendaraan berbahan bakar fosil.

“Perusahaan otomotif memperoleh keuntungan dari penjualan jutaan kendaraan, sementara masyarakat harus menanggung dampak berupa kemacetan, penurunan kualitas udara, serta kerugian ekonomi yang sangat besar. Kondisi ini membutuhkan tanggung jawab yang lebih besar dari korporasi maupun pemerintah,” katanya.

Informasi, sampai berita ini diterbitkan, PT Astra International Tbk belum memberikan tanggapan secara resmi. Demi keberimbangan pemberitaan, wartawan masih menunggu jawaban dan konfirmasi dari pihak PT Astra International Tbk untuk mendapatkan keterangan. (Haji Merah)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *