Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Azis Khafia : Betawi, Bukan Hanya Kita !

144
×

Azis Khafia : Betawi, Bukan Hanya Kita !

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com-Jakarta
Di tengah menguatnya perbincangan mengenai identitas kultural, Betawi kerap dipahami secara sempit oleh sebagian kalangan. Fenomena ini sejatinya bukan hal baru.

Dalam konteks lain, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menggambarkan bagaimana sebuah identitas besar seperti Islam sering direduksi menjadi tafsir tunggal oleh para penganutnya.

Example 300x600

Padahal, sebagaimana ia tuliskan dalam “Islamku, Islammu, Islam Kita”, identitas tersebut ibarat hutan luas yang hanya tampak seragam dari kejauhan, namun sesungguhnya penuh warna dan keberagaman ketika diselami lebih dalam.

Analogi tersebut relevan untuk membaca realitas Betawi hari ini. Sebagai entitas budaya yang lahir dari sejarah panjang percampuran etnis, tradisi, dan nilai-nilai keislaman, Betawi tidak bisa disederhanakan hanya pada simbol, atribut, atau klaim keaslian.

Namun, yang mengemuka justru sebaliknya—munculnya narasi “Betawi paling asli”, “Betawi tulen”, hingga klaim sepihak yang menempatkan sekelompok orang sebagai otoritas penentu identitas ke betawi-an.

Tidak jarang, legitimasi tersebut bertumpu pada posisi dalam organisasi kemasyarakatan yang berlabel Betawi. Kepemimpinan dalam ormas seolah menjadi dasar untuk memberi “stempel” kepada individu atau kelompok lain.

Padahal, realitas sosial menunjukkan bahwa keberadaan ormas tidak selalu merepresentasikan keseluruhan nilai dan spektrum budaya Betawi.

Dalam kondisi tertentu, hal ini justru berpotensi menjadi bentuk kapitalisasi identitas.

Betawi yang sejatinya luas dan luwes, perlahan mengalami penyempitan makna. Ia “dibonsai” menjadi sekadar simbol dan pengakuan formal.

Padahal, jika dimaknai secara utuh, Betawi mencakup nilai-nilai kehidupan, sejarah kolektif, adat istiadat, hingga filosofi yang membentuk karakter masyarakatnya. Memahami Betawi secara parsial hanya akan melahirkan bias dan eksklusivitas.

Dalam realitas yang lebih sunyi, terdapat wajah Betawi yang justru lebih autentik. Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk melestarikan seni dan budaya, menjaga lingkungan, serta merawat nilai-nilai spiritual melalui tradisi keilmuan klasik.

Kelompok ini tidak hadir dalam hiruk-pikuk klaim identitas, namun secara konsisten menjalankan nilai ke betawi-an dalam kehidupan sehari-hari.

Fenomena yang bising saat ini, jika dicermati, belum tentu merepresentasikan Betawi secara utuh. Ia bisa jadi hanya serpihan kecil—ibarat keleyang dalam istilah Betawi—daun kering yang jatuh dan berkumpul, mudah terbakar, dan menimbulkan kegaduhan.

Sementara akar dan batang pohon yang kokoh justru tetap berdiri dalam diam, menopang kehidupan yang lebih luas.

Kesadaran kolektif perlu dibangun bahwa Betawi bukanlah milik segelintir pihak. Ia adalah identitas bersama yang terbuka, inklusif, dan terus berkembang. Mengklaim secara sepihak justru berpotensi mereduksi nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Momentum seperti Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, dapat menjadi ruang refleksi bersama.

Perayaan ini bukan sekadar seremoni, tetapi kesempatan untuk melihat langsung keberagaman ekspresi budaya Betawi—dari seni, tradisi, hingga nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Pada akhirnya, Betawi akan tetap ada, dengan atau tanpa klaim kita. Ia hidup dalam praktik, bukan sekadar pengakuan.

Karena itu, penting untuk membuka perspektif, memperluas pemahaman, dan menyadari bahwa Betawi bukan hanya tentang kita—melainkan tentang semua yang menjaga dan menghidupkannya.

*Azis Khafia – Kaukus Muda Betawi

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *