Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Azis Khafia : Lebaran Betawi Kembali pada Alam

112
×

Azis Khafia : Lebaran Betawi Kembali pada Alam

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com, Jakarta – Lebaran bagi Kaum Betawi, Lebaran adalah tradisi lampau yang sudah ada sejak pra islam di Betawi. Masyarakat Betawi asalnya adalah petani, saat panen tiba mereka akan merayakan panen dengan upacara penutupan/penghabisan, yakni mengingat dan mempersembahkan sesuatu pada leluhur mereka. Setelah Islam datang dan menjadi keyakinan masyarakat betawi, maka tradisi yang telah ada dan turun menurun tersebut diadopsi dan di sesuaikan dengan ajaran islam.

Idul Fitri adalah momen kembali pada kesucian (fitri) sekaligus menjadi momen untuk kembali pada jati diri, identitas dan asal-muasal (leluhur). Mengingat leluhur oleh masyarakat betawi diwujudkan dengan bentuk _”ngored”_ membersihkan kuburan orang tua atau leluhurnya sekaligus _”ziarah”_, mendoakan orang tua (leluhurnya), ini adalah bentuk komunikasi antara generasi saat ini dengan leluhurnya, ziarah adalah ritual menyapa para pendahulu mereka, karena orang yang sudah mati dalam ajaran islam dan tradisi betawi, ia tetap ada di sekeliling (lingkungan) hanya saja dengan alam (dimensi) yang berbeda.

Example 300x600

Meja makan saat Lebaran

Meski kaum betawi identik dengan islam (beragama islam), namun meja makan orang betawi saat lebaran justru menunjukkan sebaliknya, di meja makan orang betawi saat berlebaran anatara lain ;
_Nastar_, Berasal dari belanda yakni ananas dan taart. Sajian kue saat malam tahun baru orang belanda (pada malam natal). _Cestangels_ dari bahasa Belanda: kaasstengels) adalah kue kering gurih berbentuk batang atau persegi panjang. _Kue semprit_. Kue semprit berasal dari Jerman. Kue ini dikenal dengan nama Spritzgebäck atau Spritz Cookies (kue semprot) yang awalnya ditemukan oleh seorang koki Jerman saat mencoba membuat kue ulang tahun. Kue ini kemudian populer di Indonesia, terutama sebagai hidangan Lebaran, akibat pengaruh masa kolonial Belanda.  _Semur_, kuliner khas masyarakat Betawi (Jakarta), yang mendapat pengaruh kuat dari akulturasi budaya Belanda (dari kata smoor, masakan yang direbus lama) dan Tionghoa (penggunaan kecap manis). Semur populer sebagai hidangan pendamping ketupat dalam tradisi perayaan. minuman diatas meja makan betawi saat lebaran adalah syrup, saat ini bermerk cocacola, fanta, sprite dan jenis sirup lainnya. Syrup berasal dari kata sharab (Arab) dan sirupus yang bermakna cairan kental manis.

Saat menjamu tamu pun menggunakan istilah _”Ngeteh”_ atau minum teh, sebuah tradisi tionghoa yang sudah menjadi bagian tradisi betawi. Dan kearifan lainnya yang tersimpan dalam tradisi lebaran betawi.

Betawi dan Lingkungan

Lebaran sebenarnya adalah puncak perayaan tahun baru bagi orang betawi tempo dulu. Saat lebaran adalah momen puncak kegembiraan karena telah melewati tahapan penyerahan diri pada yang kuasa. Sebelum puasa orang betawi pergi _”bebersih”_ mandi bersama-sama di kali dan berkeramas dengan merang, ini bukan sekedar peristiwa biasa, tapi sebuah bentuk kearifan dan keakraban masyarakat betawi terhadap lingkungan, karena manusia betawi juga “manusia kali/sungai”, namun tradisi ini telah punah bersamaan dengan rusaknya ekosistem sungai di Jakarta.

Cuplikan singkat diatas hanya bagian kecil dari pesan kearifan yang bisa kita petik dari lebaran betawi. Ia bukan sekedar rutinitas ritual budaya setiap momen halal bi halal masyarakat betawi bersama pemerintah daerah. Tetapi harus menjadi daya lecut yang kuat kepada semua pihak, bahwa betawi bukan sekedar seni budaya materil yang diatraksikan lewat festival belaka. Tetapi lebih dari itu, Betawi merupakan ruh (spirit, inspirasi dan energi) peradaban yang khas, unik sekaligus unggul, karena memuat nilai-nilai kearifan yang luhur.

*Azis Khafia
_Sekretaris Bid.Kesehatan & Lingkungan MUI Jaksel_

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *