Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Channel Bang Comeng Mengangkat Kisah Kelam Tragedi Pembantaian Massal Dalam Agresi Militer Belanda di Rawagede Tahun 1947

318
×

Channel Bang Comeng Mengangkat Kisah Kelam Tragedi Pembantaian Massal Dalam Agresi Militer Belanda di Rawagede Tahun 1947

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Jawa Barat, Kicaunews.com – Tragedi pembantaian massal oleh tentara Belanda di Rawagede, Karawang, Jawa Barat pada 9 Desember 1947 merupakan salah satu peristiwa kelam dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ratusan warga sipil tak bersenjata dihabisi pasukan penjajah dari Depot Speciale Troepen (DST) di bawah pimpinan Mayor Lukas Kustaryo.

Mengenang akan peristiwa bersejarah tersebut, team dari Channel Bang Comeng ( YouTube ) mengangkat kisah kelam tersebut melalui narasumber dilokasi tersebut yaitu Karyadi yang merupakan Pengurus dan Juri Kunci pada taman pemakaman tersebut, Minggu ( 05/04/2026 ).

Example 300x600

Diketahui, ratusan warga sipil di daerah Rawa Gede dibantai secara brutal oleh pasukan Belanda saat operasi militer untuk menangkap pejuang kemerdekaan Mayor Lukas Kustaryo. Karena target tidak ditemukan, sekitar 431 warga laki-laki dieksekusi, mulai dari remaja hingga lanjut usia.

Beberapa warga selamat dari pembantaian pada masa agresi militer Belanda tersebut, di antaranya Telan dan Saih.

Tragedi pembantaian massal itu kini diabadikan di Monumen Rawagede dan Museum Rawagede yang berada di Desa Bolongsari, Rawamerta – Karawang, Jawa Barat.

Pengurus Monumen Rawagede, Karyadi menuturkan peristiwa kelam itu yang dia dengar dari saksi hidup bernama Saih.

“Kala itu, pembantaian terjadi karena pasukan Belanda gagal menemukan Mayor Lukas Kustary, yang dituduh bersembunyi di Rawagede. Kemarahan tentara dilampiaskan dengan menembak warga secara massal sebagai bentuk teror dan intimidasi,” katanya kepada Kicau News bersama Team Channel Bang Comeng di lokasi.

Tentara Belanda mengepung desa sejak pagi, mengumpulkan warga di lapangan, lalu menembak mereka secara berkelompok. Ratusan warga roboh seketika bersimbah darah diterjang peluru.

Beberapa orang berpura-pura mati untuk mengelabui Belanda, seperti yang dilakukan Telan. Ada juga yang bersembunyi, seperti dilakukan Saih yang bertahan selama 4 jam menggunakan batang pepaya untuk bernapas.

“Dari Kesaksian korban pembantaian yang selamat kemudian menjadi dasar pembuatan diorama museum, menggambarkan ketakutan dan kehilangan warga saat itu,” terangnya

Info yang Kicau News himpun, Monumen Perjuangan Rawagede diresmikan pada bulan Juli 1996 oleh Jenderal H.R Hartono yang pada saat itu menjabat sebagai KASAD TNI AD dengan didampingi Mayjen Tayo Tarmadi yang pada saat itu menjabat sebagai Panglima Kodam III Siliwangi Jawa Barat.

Untuk mengetahui sejarah lengkapnya terkait peristiwa tersebut, masyarakat bisa melihatnya di Channel Bang Comeng pada media sosial YouTube.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *