Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Azis Khafia Al Batawi : Ngupi Malem Takbiran

238
×

Azis Khafia Al Batawi : Ngupi Malem Takbiran

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com, Jakarta –
Kenangan masa kecil dikampung cidodol Kebayoran lama, setiap memasuki akhir romadhan tetangga deket maupun rada jauh dateng ke rumah untuk mengundang baba berbuka di rumahnya atau malam takbiran datang ke rumahnya, yang unik adalah mereka mengundang baba dengan kalimat yang hampir sama, ; ” Cang aji, ntar sore ngupi di rumah yaa, bis ashar !, ada juga yang ; Cing aji ntar buka di rumah yaa enyak mo bikin kupi !” Atau yang agendanya malam ; “Cang aji tulung ntar bis isya ke rumah yaa, baba ngundang ngupi !” Dan kalimat sejenis, bahkan ada yang sampai malam ngundangnya, saking banyaknya barengan acara _*”Ngupi malam takbiran”*_. Namun sebenarnya kata ngupi yang dimaksud oleh masyarakat betawi adalah bukan sekedar ngopi biasa tetapi memiliki nilai dan tradisi religi yang tinggi, yakni berisi ; do’a, dzikir tahlil dan tentunya disediakan kopi dan makanan lainnya oleh tuan rumah.

Secara terjemahan umum sebenarnya Tradisi “ngupi” (ngopi) saat malam takbiran merupakan salah satu kebiasaan sosial dan budaya masyarakat Betawi yang kental, sering kali ditemani dengan kopi jahe sebagai simbol persaudaraan dan kehangatan menjelang Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh bapak-bapak dan pemuda kampung sambil menjaga keamanan lingkungan ataup setelah bertakbir di masjid. Berikut adalah detail tradisi ngopi malam takbiran Betawi :

Example 300x600

Minuman Utama – Kopi Jahe: Kopi yang disajikan biasanya adalah kopi jahe, yang dipercaya berkhasiat menghangatkan tubuh setelah sebulan penuh berpuasa, sekaligus simbol keeratan persaudaraan warga. Tempat Berkumpul: Ngopi dilakukan di teras rumah, pos ronda, atau di area panggung beduk kampung-kampung. Suasana: Suasana ngopi diselimuti gema takbir yang dikumandangkan dari masjid dan mushola, serta semarak suara petasan bambu yang disulut anak-anak.

Tradisi Tempo Dulu : Pada tahun 1950-1970an, warga Betawi terbiasa takbiran dengan keliling kampung berjalan kaki berombongan, dan ngopi menjadi momen istirahat bersama.

Pendamping Ngopi: Ngopi biasanya ditemani camilan khas Betawi seperti tape uli, kue satu, atau akar kelapa.

Selain ngopi, warga Betawi juga sering melakukan tradisi Nyorog (mengirim makanan ke orang tua/mertua) sebelum malam takbiran sebagai bentuk hormat dan silaturahmi.

Karena betawi identik dengan ajaran islam, maka makna “ngupi” bukan sekedar ritual kosong tanpa makna syariat, karenanya kemudian makna ngupi di malam takbiran mendapat sentuhan ajaran islam.

Setidaknya ada Empat pesan yang terkandung dari “Ngupi di malam takbiran”, yaitu ; _pertama, sebagai wujud dan ekapresi rasa syukur dan bahagia_, karena bisa berjumpa dengan romadhan tahun ini dan melewatinya dengan ibadah penuh hikmat. _Kedua, sebagai bentuk solidaritas sosial dan kebersamaan_, salah satu hikmah dan pelajaran puasa adalah melatih hati dan jiwa untuk memiliki kepekaan sosial yang tinggi, sebagai perwujudan tersebut maka tetangga saling mengundang ngupi ( berdoa dan makan bersama) sebagai simbol kebahagian bersama. _Ketiga, sebagai bentuk muroqobah_ (pendekatan diri kepada Allah), bahwa sebahagia atau segembira apapun kita tetap mengingat Tuhan, meski suasana bahagia dan gembira memasuki hari raya namun semua kegembiraan tersebut kita tetap mengingat Tuhan, dengan cara dzikir dan tahlilan. _Keempat, wujud kesederhanaan_, malam yang penuh berkah dan kebahagian namun tetap sederhana (ajaran tentang qonaah), maka penggunaan istilah “ngopi” pun wujud kesederhanaan dan pelaksanaannya pun biasanya lesehan dengan gelar tiker atau karpet, semua duduk setara dan ketika pulang menenteng berkat yang sama, kecuali ustadz yang mimpin tahlil biasanya dapet lebihan atau double…hehe !

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *