Kicaunews.com-Di hari-hari terakhir Ramadan yang penuh berkah ini, jutaan orang sedang sibuk menyiapkan senyum. Mereka membeli baju baru, menyiapkan THR untuk keponakan, dan saling berkirim hadiah tanda kasih sayang. Namun di pojok sepi kota Bogor, seorang anak korban kekerasan seksual, ananda Cantik Melinda, harus menerima “hadiah” yang paling kejam dari sistem hukum kita.
Bukan bingkisan lebaran yang ia terima, melainkan Putusan yang Membunuh Rasa Adil.
Hadiah “Zolim” dari Meja Hijau
Di saat anak-anak lain menanti kemenangan Idulfitri, Jaksa dan Hakim di Bogor justru menghadiahkan penderitaan baru.
* Jaksa Penuntut Umum menghadiahkan tuntutan 6 tahun yang “receh” untuk masa depan yang hancur.
* Majelis Hakim menghadiahkan penolakan restitusi dengan alasan administratif “kwitansi”, seolah-olah luka di jiwa korban bisa dibayar dengan struk belanja.
Kalian, para penegak hukum, apakah kalian tidak punya anak? Apakah kalian tidak punya rasa haru saat melihat anak kecil menangis? Di saat kalian pulang ke rumah mencium kening anak-anak kalian, ingatlah ada seorang anak di Bogor yang haknya kalian “sembelih” di atas meja persidangan.
Negara Harus Turun, Jangan Hanya Berdiam Diri!
Kami menyalahkan ketumpulan hati Jaksa dan Hakim dalam perkara ini! Kalian mengabaikan UU TPKS, kalian mengabaikan hitungan resmi LPSK (Nomor Register: 0548/P.BPP-LPSK/II/2026). Kalian lebih takut pada kekurangan kwitansi daripada takut pada Tuhan yang Maha Adil!
Kami mengetuk pintu Presiden Prabowo dan Pimpinan DPR. Jangan biarkan Lebaran tahun ini menjadi saksi bisu terkuburnya martabat hukum anak bangsa. Jika negara tidak turun tangan sekarang untuk mengoreksi anomali di Bogor, maka bagi kami, Idulfitri kali ini bukanlah kemenangan, melainkan duka nasional bagi keadilan.
Lebaran penderitaan kami bertambah. Masa depan anak kami hilang di tangan mereka yang mengaku wakil Tuhan di bumi.
Seorang ayah duduk di samping tumpukan berkas dengan latar belakang takbir (suara samar takbiran). Wajah Bapak terlihat lelah namun tegas.
“Orang lain beli baju baru untuk anaknya, saya di sini sedang menjahit luka seorang anak yang keadilannya robek di tangan Hakim dan Jaksa Bogor…”
“Negara sudah hitung haknya, tapi oknum ini bilang ‘mana kwitansinya?’. Biadab!”
“Pak Presiden, Pak Wapres Pak Jaksa Agung, Hakim Agung dan Semua Mentri terkait selamat anda sudah berbahagia menjalan idul Fitri dengan meninggalkan cerita kelam anak bangsa… Anak ini butuh keadilan, bukan sekadar janji birokrasi.
Orang lain beli baju baru untuk anaknya, saya di sini sedang menjahit luka seorang anak yang keadilannya robek di tangan Hakim dan Jaksa Bogor…” Dan negara diam tanpa ada mewakili rasa maaf untuk melindungi hak hukum dan hak keadilan.
*Ade Adriansyah Utama, S.H., M.H.
Direktur Eksekutif KP3 POLRI / AAU Law Corner
Aw


















