Kicaunews.com-
Ibn ‘Atha’illah dalam kitab Al-Hikam memberikan panduan berharga tentang bagaimana menyeimbangkan maqam asbab (usaha) dan maqam tajrid (penyerahan total),
Maqam Asbab, usaha sebagai wujud ibadah. Allah swt menciptakan dunia ini dengan hukum sebab-akibat sebagai sunnatullah. Oleh karena itu, berusaha dengan sungguh-sungguh dalam bekerja, belajar, atau menggunakan sarana duniawi adalah bentuk kepatuhan terhadap kehendak-Nya.
Keadaan seseorang yang harus melakukan usaha lahiriah untuk memenuhi kebutuhan, mengikuti sunnatullah (hukum sebab-akibat).
Karakteristik: Bekerja, berdagang, berikhtiar, berurusan dengan makhluk.
Fokus: Menjadikan sebab sebagai sarana, namun hati tetap bergantung kepada Allah.
Kemudian maqam tajrid, ketergantungan total kepada Allah. Tajrid, secara bahasa, berarti penanggalan atau pemurnian, dan secara maknawi mengacu pada pelepasan keterikatan duniawi dari jiwa.
Dalam maqam tajrid, seorang hamba lebih menekankan aspek batiniah, dengan sepenuhnya bergantung kepada Allah. Namun, ini bukan berarti meninggalkan usaha sama sekali, melainkan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Sang Pencipta,
Keadaan seseorang yang dilepaskan dari kesibukan duniawi dan fokus total ibadah kepada Allah.
Tidak memiliki tanggung jawab duniawi (tidak menikah/tidak bekerja), hati tenang, jaminan rezeki datang tanpa usaha lahiriah yang melelahkan.
Contoh: Sebagian wali atau salik yang hidupnya diwakafkan untuk ibadah.
Selamat menjalankan Ibadah puasa.


















