JAKARTA — Kyai Fadhullah Fanani, Owner Ajieb Sawa, menegaskan bahwa seorang pemimpin sejatinya harus memiliki kesiapan mental dan kedewasaan dalam menerima kritik. Menurutnya, kritik bukanlah bentuk permusuhan, melainkan wujud kepedulian dan cinta terhadap kepemimpinan yang dijalankan.
“Pemimpin harus siap dikritik. Itu tandanya ada cinta dan empati. Jangan baper, apalagi sampai ora genah,” ujar Kyai Fadhullah Fanani dalam keterangannya ,Rabu (14/1).
Ia menjelaskan, kritik yang disampaikan secara konstruktif justru menjadi cermin bagi pemimpin untuk melakukan evaluasi dan perbaikan diri. Dengan sikap terbuka, seorang pemimpin dapat memahami aspirasi serta kegelisahan masyarakat yang dipimpinnya.
Lebih lanjut, Kyai Fadhullah menekankan pentingnya empati dalam kepemimpinan. Menurutnya, empati akan melahirkan kebijakan yang bijaksana dan berpihak pada kemaslahatan bersama. Sikap antikritik, kata dia, justru berpotensi menjauhkan pemimpin dari realitas di lapangan.
“Kritik itu vitamin bagi kepemimpinan. Selama disampaikan dengan niat baik, seharusnya diterima dengan lapang dada,” tuturnya.
Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari sejumlah anggota WAG MS3G Go Publik. Mereka menilai pandangan Kyai Fadhullah Fanani relevan dengan kondisi kepemimpinan saat ini, di mana keterbukaan, komunikasi dua arah, dan kedewasaan sikap menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan publik.
Dengan pandangan tersebut, Kyai Fadhullah berharap para pemimpin di berbagai level dapat terus belajar, memperbaiki diri, serta menjadikan kritik sebagai sarana penguatan, bukan sumber konflik.


















