PANDEGLANG, KICAUNEWS.COM- Koordinator Bengkel Bahari, Moch. Aris Pradana mengaku heran dan menyayangkan sikap Perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 2 Labuan, yang dinilainya lepas tangan, atas adanya fenomena abrasi yang merusak pesisir pantai, dan fenomena tanah timbul di tengah laut, diduga akibat pembuangan air limbah hasil pembakaran batubara ke laut.
Aris mengatakan, pihak PLTU 2 Labuan lepas tangan dan tutup mata, atas dugaan kerusakan pesisir akibat abrasi, serta adanya fenomena tanah timbul diduga akibatkan dari hasil pembuangan air limbah pembakaran batubara oleh PLTU 2 Labuan.
“Pada persoalan ini, PLTU 2 Labuan lepas tangan dan tidak mau tanggung jawab. Itu disampaikan pada saat kami audiensi di DLHK Banten, dan itu pihak PLTU maupun pihak PLN Power itu hadir. Padahal soal abrasi, kerusakan pesisir, kemudian tanah timbul akibat pembakaran batubara itu jelas ada, dan itu bisa dicek,” kata Aris.
Mahasiswa Untirta Serang, yang akrab dipanggil Ateng itu mendorong agar, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bisa segera turun langsung melakukan monitoring.
Pasalnya, Aris menegaskan, pihak DLHK Provinsi Banten, tidak mampu melakukan monitoring, dan terindikasi diduga main mata soal kerusakan pesisir pantai tersebut, dengan pihak PLTU 2 Labuan.
“Kita akan mendorong, bagaimana dari Kementerian ESDM ini, bisa turun langsung. Karena saat ini kondisinya sudah sangat parah sekali,” tegasnya.

Sementara itu, Management Administrasi di PT PLN Power PLTU 2 Labuan, Azis mengatakan, terkait dengan abrasi dan fenomena tanah timbul, pihaknya mengaku masih harus mengkaji, dan mengklaim bukan karena PLTU 2 Labuan.
“Kalau soal abrasi dan tanah timbul itu, kami masih harus mengkaji dahulu, dan saya kira itu bukan karena PLTU. Adapun soal air pembuangan yang penuh dengan buih itu, memang kami juga saat ini masih melakukan analisis, karena memang harus kita akui, energi batubara itu kotor sekali,” kata Azis.
Terpisah, salah satu warga Desa Margagiri, Kecamatan Pagelaran inisial (EN) mengaku kehadiran PLTU 2 Labuan, lebih berdampak negatif, terutama untuk tempat-tempat wisata.
Pria berusia (52) tahun yang enggan disebut namanya itu mengatakan, abrasi pantai dan tanah timbul itu benar adanya.
“Kalian lihat saja, pantai disepanjang PLTU arah selatan itu, air nya, kemudian bangunan-bangunan tempat wisata itu pada hancur semua. Garis batas pantai juga semakin maju, dan jika ini dibiarkan, air laut akan ke Jalan raya.” Terangnya.
Seperti diketahui, Komunitas Bengkel Bahari, Jumat (21/11) kemarin, secara resmi melakukan audiensi di Kantor DLHK Provinsi Banten, dan dihadiri oleh pihak PLTU 2 Labuan dan PT PLN Power.
Dalam audiensi tersebut, Bengkel Baharu memaparkan hasil temuan dan kajiannya terkait kerusakan lingkungan yang disebabkan karena abrasi dan tanah timbul, serta pencemaran pada air laut. (Haji MERAH)


















