Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaDaerahNasionalNews

Sejarah dan Silsilah Keluarga Sausu-Tawaeli-Pantolan & Gorontalo-Tolaki

1373
×

Sejarah dan Silsilah Keluarga Sausu-Tawaeli-Pantolan & Gorontalo-Tolaki

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com — Mengawali kisah nyata leluhur orang tua kami berawal dari perjalanan hidup kakekda Tandabato yang melakukan perjalanan bersama para pengikutnya mengarungi lautan luas menggunakan perahu lambo atau perahu layar dengan bermodalkan keberanian, kekompakan serta hembusan angin yang sangat diharapkan guna menopang kelancaran perjalanan, mereka yang penuh dengan resiko yang tinggi.

Konon kisah perjalanan ini yang penuh dengan tantangan mulai dari ombak keras, hujan lebat, karang dilautan tidak luput semua ini siap selalu menghadang perjalanan mereka sehingga mereka mengagumi keberanian dan kehebatan Nahkoda mereka, Tandabato (nama asli putra tolaki Kendari), kemudian nama ini berubah menjadi Tondrang (Nama Panggilan di Gorontalo) dan dikala itu seorang juru mudi mengatakan, bila mereka tiba disuatu daratan dan pimpinan ini menikah serta memperoleh keturunan maka putra pertama mereka akan diberi nama Djalangkara yang berarti untuk mengenangkan perjalanan yang tidak mengenal batu karang, karena terkadang perahu mereka telah melewati batu karang yang seharusnya tersandung, tetapi ternyata berkat pertolongan Allah SWT mereka bisa lolos tanpa hambatan apapun juga.

Example 300x600

Begitu hari-hari kelabu dilewati dengan rasa cemas, serta penderitaan yang mereka alami selama berhari-hari di atas perah lambo yang mereka tumpangi, menunggu bantuan hembusan angin untuk berharap bisa dapat tiba disuatu tempat/pulau yang juga belum diketahui dan terkadang pula terpaksa harus menerima suasana yang tidak bersahabat dengan hempasan gelombang laut yang mengganas, hujan lebat, dan malam yang gelap gulita bercahayakan bintang-bintang di langit, bahkan harus pula menerima untuk terkatung-katung dilautan tanpa arah yang menentu.

Semua ini dapat dijalani dari hari kehari dengan penuh ketabahan dan kesabaran dan pada akhirnya tibalah mereka di suatu daratan yang dari kejauhan kelihatan lampu bagaikan cahaya lampu damar (Hulo Taru dalam bahasa Tolaki Kendari) dan dikala itu nahkoda kami mengatakan sekiranya tiba dengan selamat di daratan itu, maka kami akan beri nama Hulo Taru (Daratan Hulo Taru).

Alhamdulillah kami selamat tiba didaratan ini yang saat itu daratan tersebut bernama Hullondalo (Daratan Gorontalo saat ini).
Begitu tiba didaratan Hullondalo/Gorontalo, mereka disambut langsung dengan perang karena mereka dianggap bajak laut, dan berkat kegigihan dan keuletan serta kekompakan semua pendatang baru ini yang berasal dari Kendari, Sulawesi Tenggara mereka berhasil menyatu dengan masyarakat daerah Talumolo Gorontalo, kemudian mempersunting Putri Talumolo Gorontalo bernama Pukara dan dari perkawinan kakek Tandabato/Tondrang Putra Konawe (Kendari) dengan putri Talumolo Gorontalo Pukara, maka lahirlah 3 (tiga) bersaudara masing-masing : Djalangkara Tondrang, Base, dan Pasau. Ketiganya dilahirkan didaerah Talumolo ± 2 km dari pelabuhan pelabuhan Gorontalo yang saat ini dikenal sebagai daerah tanah Bugis, nama ini diabadikan seperti ini karena tanah ini dihuni oleh Kakek Tandabato (Tondrang) yang menurut pengetahuan masyarakat Gorontalo, kakek ini berasal dari Gowa/Bugis Sulawesi Selatan yang dahulunya bersatu dengan Sulawesi Tenggara.

Kakek Tandabato meninggal di Gorontalo dan dikebumikan di tanah Bugis Kecamatan Talumolo, Kodya Gorontalo, yang letaknya sebelum SMEA Negeri Gorontalo. Dengan sendirinya pewaris keturunan Tondrang diteruskan oleh putra satu-satunya bernama Djalangkara Tondrang. Kakek Djalangkara Tondrang memiliki 4 (empat) orang istri dengan harapan untuk dapat mengembangkan misi memperluas dan memperbesar keturunan Tondrang.

Kehidupan sehari-harinya kakek Djalangkara dalam membina dan membangun rumah tangganya dengan bercocok tanam, bersawah, berdagang, dan membantu Pemerintah Belanda, begitu pula setelah pemerintahan Jepang, disamping itu beliau melakukan dan mengembangkan misi dagangnya di Sulawesi Tengah yaitu di daerah Poso, Ampana, dan Sausu.

Untuk mengenal keluarga Djalangkara secara detail, kami urutkan sebagai berikut :
Istri Pertama kakek Djalangkara bernama Mariam berasal dari Gorontalo dan memperoleh 2 (dua) orang anak, yaitu :
Nou Tondrang (tidak punya keturunan karena tidak menikah sampai akhir hayatnya),
Rauf Tondrang (menikah tetapi tidak punya keturunan).
Istri kedua berasal dari Sausu, Putri Tunggal Raja Sausu, Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, bernama Fatimah Syah, memperoleh keturunan 3 (tiga) orang, yaitu :
Abdul Rifai Tondrang menikah dengan Putri dari Konawe (Kendari) dan memperoleh keturunan 5 (lima) orang;
Abdul Tondrang (meninggal dalam usia muda);
Abdul Rahim Tondrang (meninggal dalam usia muda);
Istri Ketiga berasal dari Poso, Wuama Nio, memiliki 2 (dua) orang anak, yaitu :
Afifah Tondrang (tidak menikah hingga akhir hayatnya);
Ungga Tondrang, memiliki 1 (satu) orang anak.
Istri ke-4 (ke-empat), berasal dari Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Konawe, bernama Welolonga, melahirkan 4 (empat) orang putra putri, yaitu :
Hj. Djou Sohora Tondrang, memiliki 7 (tujuh) orang anak,
Hj. Betty Soebagyo Tondrang , memiliki 6 (enam) orang anak,
Malahair Tondrang, memiliki 7 (tujuh) orang anak,
Mochtar Tondrang (meninggal usia muda).

Untuk mengenali kehidupan keluarga yang bahagia dan sejahtera, berikut dituturkan dalam uraian berikut ini :
Kehidupan Kakek Djalangkara Tondrang Dalam Membina Keluarga Sebagaimana dituturkan oleh keponakan kakek, diantaranya : Buramali H. Hamiaso, Hamka, dan Poto, yang membawa kakek sekolah di Gorontalo, bahwa dalam membina rumah tangga, kakek yang mempunyai 4 (empat) orang istri seperti yang telah diuraikan, dijalani dengan suasana tentram, bahagia, dan damai. Juga dituturkan bahwa ketika kakek hendak menikahi istri ketiganya, Putri Raja Sausu, Fatimah Syah, adik kandung La Nonci, disyaratkan agar menunjukan silsilah keturunan sehingga kakek berupaya ke Kendari dengan menumpang kapal putih miliknya sendiri untuk mengambil silsilah keturunan kerajaan di Kendari (Abele, Kecamatan Poasia, Tempat Kelahiran Ayahnya Tandabato/Tondrang).

Saat kapal hendak berlabuh di Pelabuhan Kendari, disambut dengan penyerangan Belanda dan untuk menghindari serangan, kapal beralih haluan dan berlabuh di Pulau Pandan Kecamatan Poasia diiringi dengan menaikkan bendera putih tanda berkabung. Moment ini digunakan oleh Raja Laiwoi Kendari untuk mengetahui siapa gerangan yang ada di atas kapal itu, sehingga diutuslah juru bicara dan Tamalaki (Laki-Laki yang berani) naik di kapal dan setelah diterima, dilakukan pembicaraan ternyata diketahui bahwa yang datang ini adalah keluarga mereka juga yang telah lama hidup dirantau.

Begitu besarnya rasa kegembiraan dan kebahagiaan mereka bertemu dengan saudara mereka maka kegembiraan mereka ini ditumpahkan dengan berpesta pora di atas kapalnya yang dikelilingi dengan perahu-perahu yang ditambatkan pada tombak isyarat kedalaman laut selama tujuh hari tujuh malam.
Sekembalinya di Sausu,kakek langsung menyerahkan silsilah keturunan kepada Raja Sausu, La Makarumpa, saat itu pula Raja Sausu berkenan untuk menikahkan putri keduanya yang bernama Fatimah Syah, dengan Djalangkara Tondrang.

Dari perkawinan mereka, dikaruniai 3 (tiga) orang anak, yaitu : Abdul Rifai Tondrang, Abdul Rahman, dan Abdul Rahim. Ketika putra pertama kakek, Abdul Rifai Tondrang berusia 5 Tahun, ibunya (Fatimah Syah) meninggal dunia, sehingga ketiga putranya itu diboyong ke Gorontalo, dibesarkan dan disekolahkan disana.

Pada usia dewasa, kakek membawa dua putranya, Abdul Rifai Tondrang dan Abdur Rahman Tondrang ke Kendari, namun karena kerinduan yang tak mampu dibendungnya, akhirnya Abdul Rahman Tondrang kembali ke Gorontalo dengan menumpang kapal KLM dan meninggal dunia di Gorontalo dalam usia muda.
Untuk memperat tali hubungan keluarga di Kendari, maka putra pertama kakek, dinikahkan dengan putri pertama dari pasangan Rombunga dan Wendeepa, yang bernama Pati, berasal dari keluarga besar Kendari.

Tanah Kelahiran dan Keluarga Sausu yang Nyaris Hilang seperti yang telah dituturkan diawal kisah ini bahwa kakek Djalangkara Tondrang telah berhasil mengembangkan dagangannya dengan membuka usaha pembelian rotan di daerah Ampana dan Sausu Kabupaten Poso Sulawesi Tengah dan dalam menjalankan usahanya berhasil pula mengembangkan misi marga Tondrang dengan mempersunting Fatimah Syah Putri Raja Lakamarumpa dari Tanah Sausu.

Dari hasil perkawinan mereka membuahkan hasil keturunan tiga orang putra sebagai pewaris generasi Tondrang, dan diantara tiga bersaudara hanya satu-satunya Abd. Rifai Tondrang yang berkeluarga dengan memperoleh keturunan yaitu :
H. Moh. Aries Tondrang (Almarhum 30 Januari 2005)
Ira Syair Mahani Tondrang (Almarhuma Tahun 1994)
Hj. Suhuria Tondrang
Drs. H.A.Azis Tondrang, MBA.,
Hj. Siti Syahria Tondrang.

Kelima bersaudara ini dilahirkan dan dibesarkan di Wewotobi Kabupaten Konawe (Kendari) dari Pasangan Pati Rombunga Putri Keturunan Konawe (Kendari). Kegiatan sehari-harinya dalam menghidupi rumah tangga, Abd. Rifai Tondrang berbekal sebagai pegawai Swapraja Laiwoi Kendari dengan status penegak hukum (jaksa). Jabatan jaksa ini disandangnya dengan menggantikan kedudukan ayahnya (kakek Djalangkara Tondrang) yang kembali bermukim di Gorontalo yang dikenal sebagai Sulawesi Barat saat ini.

Sayang sekali, Abd. Rifai Tondrang tidak dikarunia usia yang panjang, beliau meninggalkan putra putrinya tahun 1948 disaat putra putrinya sangat mengharapkan kasih dan sayang dan jaminan hidup yang memadai, sedangkan (Pati Rombuna) sangat terpukul berat ditinggalkan suaminya dengan beban empat orang anak yang masih kecil ditambah lagi dengan beban bayi yang dikandungnya dalam usia empat bulan yang saat kelahirannya tidak akan pernah melihat dan tersentuh kasih sayang ayahnya. Namun, dengan berbekal doa dan pertolongan Allah SWT pada saatnya lahirlah bayi putri kelima dengan selamat yang diberi nama Siti Anambae (Siti Syahria Tondrang). Pemberian nama ini (Siti Anambae) bertepatan dengan panen padi yang menggembirakan masyarakat, karena bagitu selesai panen, tumbuh pula tunas padi yang buahnya sama seperti panen awalnya.

Dapat dibayangkan, betapa beratnya beban dan tanggungan keluarga yang harus dipikul dan dijalani oleh ibunda Pati Rombunga yang ditinggal suaminya untuk merawat, membesarkan, dan menghidupi kelima anaknya yang masih kecil, dan tidak satu pun keluarga suaminya yang dapat membantu meringankan beban yang diderita janda muda lima anak ini.

Sekalipun dalam kondisi menjanda dengan beban lima orang anak, masih banyak lelaki yang ingin menempati posisi suaminya, namun dengan rasa kasih sayangnya yang tinggi terhadap anak-anaknya serta dengan pertimbangan yang matang maka semuanya ditolak, walaupu harus bergulat dengan usaha konveksi dan bertani serta gaji pensiun suaminya yang tidak memadai.

Alhamdulillah berkat keuletan, ketabahan, kesabaran, serta kerja keras dalam membina, mendidik, serta membesarkan kelima putra-putrinya semuanya dapat diselamatkan mulai dari pendidikan sampai memperoleh pencaharian yang layak sebagai pegawai negeri. Pendek kata, semua anak-anaknya berhasil menjadi pegawai negeri sipil di Kabupaten Kendari (Konawe) Sulawesi Tenggara.

Sangat disayangkan, dengan perjuangan yang berat seharusnya hasilnya dinikmati, jika tanaman yang tumbuh subur dan berbuah lebat harusnya dirasakan nikmatnya, saat hasil karyanya mulai dinikmatinya, Allah SWT menghendaki lain, ibunda PAti Rombunga yang dicintai dan disayangi berangkat meninggalkan Putra Putrinya lima orang dan cucu 19 Orang, serta cicit 4 orang pada 19 Juli 1985, dikebumikan di tanah kelahirannya di Wawotobi, Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Kendari ± 65 km dari ibukota Propinsi Sulawesi Tenggara.

Sebagai ilustrasi, untuk dapat diketahui bahwa keadaan ayah Abdul Rifai Tondrang sama sekali tidak diketahui jika beliau berasal dari keturunan Raja Sausu, Kabupaten Poso, karena dalam asuhan ibunda Pati Rombunga tidak pernah menceritakan tentang riwayat asal usul keberadaan ayah Abdul Rifai Tondrang yang sesungguhnya, hanya saja yang biasa diceritakan ketika mereka berada/bermukim di Gorontalo bersama Putra Pertamanya (Moh. Aries Tondrang) sehingga sepengetahuan kami, ayah kami berasal dari Gorontalo.

Mencari dan Menemukan Pusara Nenek Fatimah Syah di Daerah Sausu
Nampaknya sudah sejak lama hasrat dan keinginan saudara kami H. Moh. Aries Tondrang untuk menelusuri dan menjajaki kebenaran informasi yang diperoleh dari paman dan tante di Gorontalo bahwa Ayah Abdul Rifai Tondrang sesungguhnya ibunya berasal dari Sausu bernama Fatimah Syah dan ayahnya Djalangkara Tondrang berasal dari keturunan Gorontalo Tolaki. Dengan bermodalkan informasi yang meyakinkan H. Moh. Aries Tondrang saat menunaikan ibadah haji bersama instrinya pada tahun 1995 dituturkannya bahwa dihadapan ka’bah dia berdoa agar dapat diberikan kemudahan dalam mencari dan menemukan pusara nenen Fatimah Syah serta sanak keluarga/family di Sausu , Sulawesi Tengah sekembali dari menunaikan ibadah haji.

Pada bulan Agustus 1996. Dengan bermodalkan tekad yang kuat dan doa mereka bersama anak bungsunya (Untung Tondrang) berangat ke Poso Sulawesi Tengah menemui tante Afifah Tondrang dan sekaligus mencari pusara leluhur nenek Fatimah Syah untuk disiarahi dan mencari keluarga family/keluarga disana.

Sesuai petunjuk, mereka berdua berangkat menuju Sausu dengan menyewa angkot / sepeda motor, setiba di Sausu ± 180 km dari Poso langsung menemui kepala Desa, Saudara Thamrin yang secara kebetulan masih memiliki hubungan dekat dengan nenek Fatimah.
Dalam pertemuan ini disampaikan maksud kehadiran mereka disana untuk mencari pusara nenek Fatimah Syah dan keluarga yang bertalian darah dengan nenek tersebut. Sayang sekali, pertemuan ini tidak menghasilkan sesuatu yang menggembirakan. Saudara Thamrin merasa tidak yakin jika ada keluarganya yang berasal dari Kendari, karena selama ini sepengetahuannya keluarga mereka yang bertalian dengan nenek Fatimah Syah hanya berada di Gorontalo. Hal ini dikuatkan saat nenek Fatimah Syah meninggal dunia ketiga anaknya diboyong oleh kakek Djalangkara Tondrang ke Gorontalo.

Dengan penuh perasaan kecewa dan sedih, mereka berdua (H. Moh. Aries Tondrang dan anaknya Untung Tondrang) berpamitan dan menelusuri kembali perjalanan mereka menuju Poso, Namun sebelum mereka meninggalkan rumah, H. Moh. Aris Tondrang membuat Surat Wasiat yang berisi riwayat asal usul keluarga Abdul Rifai Tondrang serta nama dan alamat lengkap putra-putrinya yang bermukim di Wawotobi untuk dijadikan bahan renungan dalam upaya mencari dan menemukan jejak keberadaan keluarga di Sausu, Sulawesi Tengah.

Merasa meyakinkan identitas dan alamat lengkap yang diterima Kepala Desa, maka sebagai sambutan untuk meyakinkan kembali kepala Desa Sausu adalah keluarga turunan Raja Sausu yang kedudukannya sebagai keponakan nenek Fatimah Syah yang saat ini mengetahui dan mewarisi peninggalan Raja Sausu yang terbuat dari Perak dan sekaligus dicapkan di atas kertas untuk dibawa pulang ke Kendari.
Sebulan setelah surat wasiat itu berada ditangan kepala desa Sausu, beliau mendapat undangan pesta perwakiln keluarga di Tawaeli dan undangan tersebut dipenuhinya dengan menyertakan surat wasiat yang ditinggalkan oleh H. Moh. Aries Tondrang untuk diperlihatkan kepada keluarga di Tawaeli dan Pantoloan.

Bagai gayung bersambut, begitu surat wasiat itu dibaca oleh keluarga di Tawaeli dan Pantoloan, langsung saja tante Hj. Besra La Nonchi tersentak dari duduknya lalu mengatakan bahwa inilah keluaga kita yang selama ini berpuluh-puluh tahun saya cari bersama anak-anak saya. Surat wasiat ini akan saya simpan dan segera akan saya hubungi ke Kendari, bahkan saya ingin bertemu langsung dengan mereka agar kerinduan saya selama ini terhadap mereka segera terobati.

Tepatnya pada 3 Ramadhan 1418 H, 1996 M, pukul 21.00 WITA, telepon berdering diterima langsung oleh HJ. Pina istri H. Azis Tondrang, dalam pembicaraan penelponan berasal dari palu ingin berbicara dengan bapak H. Azis Tondrang, setelah pembicaraan berlangsung rupanya, penelpon bukan temen sejawat dari Palu melainkan saudara Iksan Mado yang menyatakan dirinya sebagai keluarga dekat yang selama ini di cari-cari di Gorontalo.
Untuk meyakinkan kami, bahwa pernyataan penelpon adalah benar-benar mempunyai pertalian keluarga yang dekat, saat itu dihadirkan seorang ibu yang usianya sekitar 65 tahun, yaitu Hj. Besra La Nonchi ( ibunda Ikhsan Mado ) yang langsung memberikan penjelasan melalui telepon bahwa ayah kami, Abdul Rifai Tondrang dengan Hj. Besra La Nonchi adalah sepupu sekali terlahir dari pasangan La Makarumpa dengan Hatimah, putri Raja Tawaeli.

Pertemuan Pertama Keluarga Tawaeli, Pantoloan, dan Sausu yang Membawa Rahmat
Perjumpaan pertama melalui telepon adalah suatu pertemuan yang membawa berkah dan rahmat yang tiada tara, bahkan dikala tante Hj. Besra menceritakan asal usul keberadaan ayah kami Abdul Rifai Tondrang dan Hj. Besra La Nonchi, saudara sepupu sekali yaitu La Nonchi ayah Hj. Besra dan Fatimah Syah, ibu Abdul Rifai Tondrang sekandung, dengan tiada terasa airmata bercucuran seakan-akan ayah kami yang telah tiada 50 tahun yang lalu kini telah hidup kembali.

Dengan didorong rasa ingin bertemu keluarga di Tawaeli, Pantoloan dan Sausu, kami berdua,
H. Moh. Aries Tondrang dan Drs. H. A. Azis Tondrang, M.BA., berangkat dengan pesawat Merpati ke Ujung Pandang, kemudian karena pesawat tidak connect ke Palu maka kami teruskan dengan menumpang kapal Kerinci menuju Pantoloan, tiba di pelabuhan Pantoloan pagi hari dan disambut oleh ananda Ikhsan H. Mado bersama keluarga lainnya kemudian di antar di rumah tante Hj. Besra La Nonchi. Di rumah tante Besra, telah hadir semua keluarga besar yang berasal dari Tawaeli dan Pantoloan, disini kami disambut dengan butiran beras kuning dan pelukan mesra keluarga diiringi deraian air mata tanda pelepasan kerinduan yang membara selama ini.

Disamping saudara kandung Hj. Besra, keponakan dan cucu, juga saat ini turut serta bapak KH. Samrin Masuara, mantan Kakandep P&K Palu, dan H. Tampari Masuara, Ketua DPRD kab. Palu, saat itu. Dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat dan doa arwah khusus para orangtua kami. Besok harinya, kami berangkat ke Suasu menyiarahi pusara nenek Fatimah dan kakek La Makarumpa yang jarak tempuhnya cukup melelahkan bagi kami. Kami berada di Pantoloan selama 5 hari dan semua waktu kami diisi dengan silaturahmi kepada keluarga baik di Pantoloan maupun di Tawaeli.

Dalam pertemuan keluarga ini, telah dibangun suatu kesepakatan keluarga yaitu setiap kegiatan keluarga dari kedua belah pihak akan saling diinformasikan dan dihadiri, dan sepakat pula untuk menghubungkan tali persaudaraan yang lebih erat melalui pernikahan serta melengkapi silsilah yang terputus khususnya keluarga dari Kendari. Pada hari ke 6 kami berangkat kembali ke Kendari dan berhasil membawa orang tua kami Hj. Besra La Nonchi.
Beliau berada di Kendari selama 3 (tiga) bulan kemudian disusul oleh putri pertamanya, Hj. Hartin Mado, Hatimah Putri Hj. Mistah, kemudian menyusul pula om Yasin La Nonchi beserta istrinya dan tante Hj. Hayati bersama dua anaknya, Razak dan Wati, serta Nadra putri om Yasin. Lalu menyusul pula paman KH. Samrin Masuara bersama istri, Haris bersama istri, dan Mita istri Ikhsan Mado.

Berkat doa dan restu Allah Swt, keinginan untuk mempererat hubungan keluarga pun terjalin dengan dilangsungkannya pernikahan antara putra H. Moh. Aries Tondrang, Muh. Akbar Tondrang dengan Nadra Yasin La Nonchi, yang di selenggarakan di Pantoloan. Hubungan erat dengan keluarga yang nyaris hilang kini telah dipertemukan kembali oleh Allah SWT dan telah diperkuat dengan dipererat kembali melalui pernikahan tersebut.

Rupanya pelaku sejarah penemuan kembali keluarga yang nyaris hilang hidupnya tidak berlangsung lama, H. Moh. Aries Tondrang, meninggal dunia pada 30 Januari 2005 karena penyakit jantung koroner yang dideritanya selama 2 tahun, di RSUD Prop. Sulawesi Tenggara pada usia 66 tahun. Meninggalkan seorang isteri, Hj. Siti Marni, 5 orang anak dan 9 orang cucu.

H. Moh. Aries Tondrang meninggal dunia saat saudaranya dan iparnya, Drs. H. A. Azis Tondrang, M.B.A dan isterinya Hj. Pina sedang menunaikan ibadah haji, begitu pula sejarah dari Palu, Pantoloan, Hj. Besra La Nonchi juga menyusul berangkat meninggalkan kita untuk selama-lamanya bertepatan dengan 50 hari alm. H. Moh. Aries Tondrang.

Tiada kata dan kalimat yang mudah lagi mulia yang dapat mengiringi keberangkatan mereka kecuali ucapan doa Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Semoga amal ibadah mereka senantiasa menyertai disisinya, segala dosa dan kesalahan keduanya diampuni oleh Allah SWT serta diberikan tempat yang layak disisinya sesuai dengan amal baktinya.

Demikian kisah nyata yang kami dapat tuturkan sekedar untuk mengenang kembali peristiwa keluarga yang nyaris hilang disebabkan oleh informasi yang terputus dari kedua pihak keluarga besar Sausu-Tawaeli-Pantoloan dan keluarga besar Gorontalo-Tolaki.

Kepada keluarga yang sempat membaca uraian ini, senantiasa mengharapkan perbaikan jika ada kelemahan dan kekurangan didalam tulisan ini, kami lampirkan pula khususnya silsilah keluarga keturunan La Makarumpa yang kini berada di Kendari.

Tulisan ini di tulis oleh:

Drs. H. A. Azis Tondrang , M.BA.

 

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *