OPINI, KICAUNEWS.COM- Pekan Suci mengingatkan kita pada jalan penderitaan Yesus Kristus dari Taman Getsemani, pengkhianatan, penangkapan, hingga salib dan berakhir di kebangkitan.
Semua itu terjadi bukan karena kelemahan, melainkan karena kasih yang radikal, yakni kasih yang rela mengosongkan diri demi keselamatan manusia.
Namun demikian, di tengah kisah agung itu, berdirilah satu sosok yang selalu kita letakkan di sisi paling gelap, adalah Yudas Iskariot.
Ia dikenal sebagai pengkhianat yang menjual Gurunya dengan tiga puluh keping perak. Namun, jika kita berani masuk lebih dalam, kita akan menemukan sesuatu yang jarang dibicarakan.
Bahwa di balik pengkhianatan itu, ada kesadaran yang menghancurkan dirinya sendiri. Yudas bukan sekadar menjual Yesus, Ia juga berhadapan dengan kenyataan bahwa Ia telah mengkhianati kebenaran yang dia kenal dan hidupi, Ia tidak mampu hidup damai dengan itu.
Ia hancur oleh penyesalan-nya, dan di situlah letak ironi yang menohok pada saat pekan suci. Sebab dunia kita justru dipenuhi oleh orang-orang yang mengkhianati tanpa rasa bersalah.
Kita menjual nilai, menjual kejujuran, menjual iman, bahkan menjual sesama namun tetap berdiri tegak, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada kegelisahan batin, tidak ada air mata, tidak ada rasa malu. Yang ada hanyalah pembenaran yang dibungkus rapi, narasi yang dipoles, dan keheningan yang disengaja.
Jika Yudas jatuh karena sadar akan kesalahannya, banyak dari kita justru tenggelam karena tidak pernah mau mengakuinya. Kita menyaksikan keserakahan yang merajalela tanpa rasa malu: serakah ekonomi yang menindas yang lemah, serakah atas alam yang merusak tanpa tanggung jawab, serakah kekuasaan yang membungkam kebenaran, dan serakah kenyamanan yang membuat hati menjadi kebal.
Semua itu dilakukan dengan wajah yang tetap rapi, dengan bahasa yang tetap rohani, dengan simbol yang tetap suci namun tanpa kejujuran, dan di hadapan semua itu, kita perlu berani jujur: “Jangan-jangan kita lebih rendah dari Yudas.”
Karena ia setidaknya tidak sanggup hidup berdampingan dengan dosanya. Ia tidak mengubah pengkhianatan menjadi sistem. Ia tidak membangun pembenaran untuk menutupi kesalahannya. Ia tidak meminta orang lain diam, demi menjaga dirinya. Ia jatuh dan ia tahu bahwa ia jatuh.
Sementara kita? Kita jatuh, lalu berdiri seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kita salah, lalu sibuk terlihat benar. Kita tahu ada yang tidak beres, tetapi memilih diam demi kenyamanan.
Kita menyaksikan ketidakadilan, tetapi menutup mata karena takut kehilangan kenyamanan atau hal lain yang dianggap menguntungkan. Padahal rasa bersalah adalah tanda bahwa hati masih hidup.
Ia seperti noda di atas kertas putih kecil, tapi terlihat jelas, mengganggu, dan memanggil kita untuk membersihkannya.
Namun ketika hati telah menjadi gelap, noda sebesar apa pun tidak lagi terasa. Hati menjadi kebal, imun, dan terbiasa. Di situlah bahaya terbesar: ketika dosa tidak lagi terasa sebagai dosa.
Paskah seharusnya mengembalikan kita pada keberanian untuk mengakui kesalahan. Jika kita bersalah kepada sesama, datanglah dan minta maaf. Jika kita jatuh, bangkitlah bukan dengan menutupinya, tetapi dengan memperbaikinya.
Kesalahan memang pahit, tetapi justru di situlah letak pelajaran yang paling mahal. Dari sana kita belajar membenci dosa, dan sekaligus merindukan kebenaran.
Maka refleksi Paskah ini menjadi sangat sederhana, namun juga sangat berat: apakah kita masih memiliki hati yang mampu menyesal?
Sebab pada akhirnya, kejatuhan manusia bukanlah akhir yang paling mengerikan. Yang paling mengerikan adalah ketika manusia tidak lagi merasa perlu untuk bertobat, tidak lagi merasa perlu untuk berubah, dan tidak lagi merasa bersalah atas apa yang jelas-jelas salah.
Mari berefleksi, bukan hanya sebagai umat yang merayakan pekan suci, tetapi sebagai manusia yang berani kembali menjadi jujur di hadapan Tuhan dan sesama.
Alexander Philiph Sitinjak
Penulis adalah umat Katolik, Paroki St. Paulus Depok, Keuskupan Bogor. Sekaligus Praktisi Manajemen Risiko serta Pengendalian Fraud.


















