Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaDaerahNasionalNewsParlemenPolitik

Warga Pandeglang Tolak Kiriman Sampah Dari Tangsel, Wakil Rakyat Kemana? Bungkam !

957
×

Warga Pandeglang Tolak Kiriman Sampah Dari Tangsel, Wakil Rakyat Kemana? Bungkam !

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

PANDEGLANG, KICAUNEWS.COM – Pengamat Kebijakan Publik dari Jaringan Masyarakat Peduli Lingkungan, Joseph Edi Murdani, menilai kerja sama pengelolaan sampah antara Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dan Pemerintah Kabupaten Pandeglang minim pengawasan dari DPRD Pandeglang serta partisipasi publik.

Kerja sama tersebut meliputi pengiriman sampah dari Kota Tangsel ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bangkonol, Kecamatan Keroncong, dengan volume sekitar 300–500 ton per hari.

Example 300x600

“Jika kita melihat proses yang berjalan, kerja sama pengelolaan sampah ini sangat minim pengawasan, khususnya dari DPRD Pandeglang sebagai daerah penerima sampah dari Tangsel,” kata Edi saat ditemui di Jalan KH. Abdul Halim, Majasari, Pandeglang, Rabu (6/8).

Edi juga menyoroti kurangnya keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.

“Pembuatan kebijakan ini sangat minim partisipasi publik. Warga banyak yang tidak tahu, dan mereka hanya terkena dampaknya saja. Paling hanya bisa curhat soal bau sampah kepada sesama,” ujarnya.

Lebih jauh, Edi menduga minimnya pengawasan DPRD Pandeglang menandakan adanya potensi permainan politik antara legislatif dan eksekutif.

“Kalau bicara soal DPRD Pandeglang, ada dua kemungkinan: kebijakan ini dibuat tanpa melibatkan DPRD, atau memang sudah ada ‘deal’ antara kedua lembaga pemerintahan. Saat MoU antara Pemkab Pandeglang dan Pemkot Tangsel diteken, DPRD Pandeglang sama sekali tidak dilibatkan,” tegasnya.

Sebelumnya, warga sekitar TPA Bangkonol juga mengeluhkan dampak keberadaan sampah tersebut. Romdoni (60), warga Kampung Sabi Pasir Muncang, Desa Bangkonol, mengatakan bau menyengat kerap mengganggu aktivitas sehari-hari.

“Bukan bau lagi, setiap hari cucu saya kalau pagi dilarang keluar rumah. Kalau hujan lalu panas, baunya luar biasa. Belum lagi lalat (aro hejo), kalau sudah hujan jumlahnya sangat banyak, sampai ke warung-warung,” keluhnya.

Menurutnya, warga jelas menolak kerja sama tersebut. “Kalau ditanya sepakat atau tidak, semua warga pasti menolak. Karena dampak yang dirasakan bukan oleh bupati, tapi kami yang tinggal di sini,” tambahnya. (AMD/HM/TIM)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *