Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
BeritaNasionalNewsParlemenPolitik

Akademisi Soroti Dampak PSN Papua Selatan terhadap Hak Masyarakat Adat

90
×

Akademisi Soroti Dampak PSN Papua Selatan terhadap Hak Masyarakat Adat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA, KICAUNEWS.COM– Program Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan kembali menjadi sorotan dalam diskusi publik dan pemutaran film dokumenter Pesta Babi yang digelar di Kampus Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Jakarta.

Sejumlah akademisi dan peserta diskusi menilai proyek pengembangan pangan dan energi di wilayah tersebut berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap kehidupan masyarakat adat Papua.

Example 300x600

Dalam forum itu, antropolog Lamtiur Tampubolon menyampaikan kritik tajam terhadap pelaksanaan PSN di Papua Selatan, khususnya pembukaan lahan untuk perkebunan tebu sebagai bahan baku bioetanol dan kelapa sawit untuk biodiesel.

Ia menjelaskan bahwa, proyek itu dinilai tidak memperhatikan hak-hak masyarakat adat yang telah lama bergantung pada tanah dan hutan sebagai sumber kehidupan. Sebab, katanya, bagi masyarakat Papua, tanah memiliki makna yang jauh melampaui aspek ekonomi.

“Bumi Papua sangat sakral dan merupakan ‘ibu’ bagi masyarakat di sana. Tanah menjadi tempat tinggal sekaligus sumber pemenuhan seluruh kebutuhan hidup mereka. Karena itu, pembangunan perkebunan skala besar tidak memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat adat dan bukan merupakan kebutuhan mereka,” kata Lamtiur, pada acara diskusi.

Lamtiur yang telah melakukan penelitian dan tinggal di Papua selama bertahun-tahun menilai masyarakat Papua semakin mengalami marginalisasi akibat berbagai proyek pembangunan yang tidak melibatkan mereka secara bermakna dalam proses pengambilan keputusan.

Senada, Akademisi Unika Atma Jaya, Eko Widodo, juga menyoroti berbagai persoalan ketidakadilan yang menurutnya masih dirasakan sebagian masyarakat Papua sejak integrasi wilayah itu ke dalam Indonesia.

Eko mempertanyakan arah kebijakan pembangunan yang mendorong perluasan perkebunan energi melalui pembukaan hutan alam.

Menurutnya, pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pembenahan sistem transportasi dan pengelolaan energi yang berkelanjutan dibandingkan memperluas deforestasi untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar.

“Yang paling penting saat ini adalah terus menggaungkan semangat melayani sesama tanpa pamrih atau altruisme, seperti yang dilakukan para aktivis di Papua yang selama ini berjuang mempertahankan hak-hak masyarakat adat,” terang Eko.

Diketahui, diskusi publik itu dipandu oleh Bona Sigalingging juga menghadirkan testimoni mahasiswa asal Papua Selatan.

Mahasiswa asal Papua yang hadir dalam acara diskusi tersebut mengaku mengaku prihatin atas kondisi yang terjadi di daerah asal mereka.

Dalam pandangan mahasiswa Papua, pembangunan di Papua seharusnya mengedepankan penghormatan terhadap hak masyarakat adat, perlindungan lingkungan hidup, serta partisipasi warga lokal dalam setiap proses perencanaan dan pelaksanaan kebijakan.

Informasi, pemerintah menetapkan wilayah Merauke sebagai salah satu kawasan pengembangan pangan dan energi nasional.

Program itu mencakup pengembangan perkebunan tebu dan kelapa sawit dalam skala besar yang menjadi bagian dari agenda ketahanan pangan dan energi nasional.

Melalui diskusi ini, para akademisi, mahasiswa, dan aktivis berharap bahwa, Pemerintah bisa melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan PSN di Papua Selatan, dan tetap menempatkan kepentingan masyarakat adat serta keberlanjutan lingkungan sebagai prioritas utama. (Haji Merah)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *