Kicaunews.com, Jakarta –
Peringatan mengenai istri dan anak-anak yang bisa menjadi musuh merujuk pada Surah At-Taghabun ayat 14 dalam Al-Qur’an. Ayat ini berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Maksud dari Anak dan Istri Menjadi “Musuh”:
Penghalang Ketaatan (Fitnah):
1. Istri dan anak menjadi musuh bukan berarti mereka jahat secara fisik, melainkan cinta yang berlebihan kepada mereka dapat membuat seseorang lalai dari ketaatan kepada Allah. Mereka bisa menghalangi suami/ayah untuk berbuat kebaikan atau beribadah.
2. Mendorong Maksiat: Kasih sayang yang berlebihan dapat membuat seseorang menuruti keinginan istri atau anak meskipun melanggar aturan agama, seperti mencari nafkah dengan cara yang tidak halal atau memutuskan tali silaturahmi.
3. Ujian (Fitnah) Kehidupan: Ayat selanjutnya (ayat 15) menegaskan bahwa harta dan anak-anak adalah ujian (fitnah) bagi orang beriman.
4. Musuh Dunia-Akhirat: Jika ketidaktaatan tersebut terbawa hingga akhirat, mereka bisa menjadi penyebab kerugian di dunia dan akhirat
Solusi Menurut Al-Qur’an:
Meskipun diperingatkan untuk waspada, Al-Qur’an juga memberikan jalan keluar di akhir ayat 14 tersebut:
Memaafkan: Jika mereka berbuat salah, maafkanlah.
Santun: Bersikap santun dalam mendidik.
Mengampuni: Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Konsep ini menekankan pentingnya menyeimbangkan kecintaan kepada keluarga dengan ketaatan kepada Allah, serta peran penting orang tua dalam mendidik karakter anak dan istri agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan.


















