Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 728x250
News

Azis Khafia : Manaqib Mohammad Hoeni Thamrin (1884-1941)

188
×

Azis Khafia : Manaqib Mohammad Hoeni Thamrin (1884-1941)

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Kicaunews.com-Mohammad Husni Thamrin atau biasa dipanggil “Matseni” atau “Bang Ni” oleh Kaum Betawi, lahir di Weltevreden, Batavia (sekarang Jakarta), Hindia Belanda, pada 16 Februari 1894. Ayahnya, Thamrin Mohammad Tabri bin Ort, adalah anak seorang pengusaha Inggris yang memiliki Hotel Ort di Batavia. Ibunya adalah Nurkhamah. Tabri Thamrin dibesarkan oleh pamannya yang berasal dari Jawa.

Oleh karena itu, MH.Thamrin lahir dalam kelas neo-priayi dan pada tahun 1906 ayahnya menjadi bupati (wedana) di bawah Gubernur Jenderal Johan Cornelis van der Wijck. Setelah lulus dari Koning Willem III, MH.Thamrin bekerja di beberapa pekerjaan pemerintahan sebelum bekerja selama sepuluh tahun di perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart-Maatschappij. MH.Thamrin menikah dengan Otoh Aryati, ia mengangkat anak yang bernama De Djubaeda Dimyati Thamrin.

Example 300x600

Munculnya Mohammad Husni Thamrin sebagai tokoh pergerakan yang berkaliber nasional tidaklah mudah. Untuk mencapai tingkat itu ia memulai dari bawah, dari tingkat lokal. Dia memulai geraknya sebagai seorang tokoh (lokal) Betawi. Mohammad Husni Thamrin sejak muda telah memikirkan nasib masyarakat Betawi yang sehari-hari dilihatnya. Sebagai anak wedana, dia tidaklah terpisah dari rakyat jelata. Malah, dia sangat dekat dengan mereka. Sebagaimana anak-anak sekelilingnya, yang terdiri dari anak-anak rakyat jelata, dia pun tidak canggung-canggung untuk mandi-mandi bersama di Sungai Ciliwung. Dia tidak canggung-canggung untuk tidur bersama mereka, sebagaimana yang pernah disaksikan oleh ayahnya sendiri. Kelincahannya sebagai pemimpin agaknya telah menampak sejak ia masih berusia remaja.

Pemikiran dari tokoh nasionalis Mohammad Husni Thamrin
Pada tahun 1929 telah terjadi suatu insiden penting di dalam Gemeenteraad, yaitu yang menyangkut pengisian lowongan jabatan wakil wali kota Betawi (Batavia). Tindakan pemerintah kolonial ketika itu memang sangat tidak bijaksana, karena ternyata lowongan jabatan itu diberikan kepada orang Belanda yang kurang berpengalaman, sedang untuk jabatan itu ada orang Betawi yang jauh lebih berpengalaman dan pantas untuk jabatan itu. Tindakan pemerintah ini mendapat reaksi keras dari fraksi nasional. Bahkan mereka mengambil langkah melakukan pemogokan, ternyata usaha mereka berhasil dan pada akhirnya Mohammad Husni Thamrin diangkat sebagai wakil wali kota Batavia. Dua tahun sebelum kejadian di atas, Mohammad Husni Thamrin memang telah melangkahkan kakinya ke medan perjuangan yang lebih berat, karena dia ditunjuk sebagai anggota lembaga yang lebih luas jangkauannya dan lebih tinggi martabatnya. Pada tahun *1927 ditunjuk sebagai anggota Volksraad* untuk mengisi lowongan yang dinyatakan kosong oleh Gubernur Jenderal. Pada mulanya kedudukan itu ditawarkan kepada H.O.S. Tjokroaminoto, tetapi ditolak. Kemudian, ditawarkan lagi kepada dr. Sutomo, tetapi juga dia menolak. Dengan penolakan kedua tokoh besar ini, maka dibentuklah suatu panitia, yaitu panitia Dr. Sarjito yang akan memilih seorang yang dianggap pantas untuk menduduki kursi Volksraad yang lowong. Panitia Dr. Sarjito akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Mohammad Husni Thamrin. Alasan yang dikemukakannya ialah bahwa Mohammad Husni Thramrin cukup pantas menduduki kursi itu mengingat pengalamannya sebagai anggota Gemeenteraad.
Pada tahun pengangkatannya sebagai anggota Volksraad, keadaan di Hindia Belanda mengalami perubahan yang sangat penting yakni adanya sikap pemerintah kolonial yang keras, lebih bertangan besi. Ini adalah salah satu akibat yang paling buruk yang lahir dari terjadinya pemberontakan 1926 dan 1927. Akan tetapi di lain pihak ketika memasuki tahun 1927 itu pula, langkah pergerakan nasional kita juga mengalami perubahan sebagai akibat dari didirikannya PNI dan munculnya Bung Karno sebagai pemimpin utamanya.
Husni Thamrin dikenal sebagai salah satu tokoh Betawi (dari organisasi Kaoem Betawi) yang pertama kali menjadi anggota Volksraad (“Dewan Rakyat”) di Hindia Belanda. Ia mewakili kelompok Inlanders (“pribumi”). Pada tahun 1939, Husni Thamrin menjadi pemimpin fraksi nasional di dalam Volksraad. Thamrin juga salah satu tokoh penting dalam dunia sepak bola Hindia Belanda (sekarang Indonesia), karena pernah menyumbangkan dana sebesar 2000 Gulden pada tahun 1932 untuk mendirikan lapangan sepak bola khusus untuk rakyat Hindia Belanda pribumi yang pertama kali di daerah Petojo, Batavia (sekarang Jakarta).
Pada tanggal 11 Januari 1941, Mohammad Husni Thamrin wafat setelah sakit beberapa waktu lamanya. Akan tetapi, beberapa saat sebelum kewafatannya, pemerintah kolonial telah melakukan tindakan “sangat kasar” terhadap dirinya. Dalam keadaan sakit, ia harus menghadapi perlakuan kasar itu, yaitu rumahnya digeledah oleh polisi-polisi rahasia Belanda (PID). Ia memprotesnya, akan tetapi tidak diindahkan. Sejak itu rumahnya dijaga ketat oleh PID dan tak seorangpun dari rumahnya yang diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa seizin polisi, juga termasuk anak perempuannya yang masih kecil (De Djubaeda Dimyati Thamrin atau Detje) juga tidak diperkenankan meninggalkan rumahnya, sekalipun utntuk pergi ke sekolah. Tindakan polisi Belanda itu tentulah sangat menekan perasaannya dan menambah parah sakitnya. Wafatnya Mohammad Husni Thamrin tentulah sangat besar artinya bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah kehilangan salah seorang pemimpinnya yang cerdas dan berwibawa.
Pada bulan Mei 1939, MH Thamrin mempelopori upaya menyatukan delapan organisasi nasionalis, termasuk Partai Indonesia Raya (Parindra), ke dalam Federasi Politik Indonesia (Gaboengan Politiek Indonesia, atau GAPI). Kelompok ini memiliki empat tujuan utama : penentuan nasib sendiri Indonesia, persatuan nasional, partai yang dipilih secara demokratis dan bertanggung jawab terhadap rakyat Indonesia, dan solidaritas antara masyarakat Indonesia dan Belanda untuk memerangi fasisme. Menurut keterangan Detjee dan Entong (pembantunya) Thamrin wafat setelah disuntik oleh dokter yang diutus Belanda. Jenazahnya dimakamkan di TPU Karet, Jakarta. Di saat pemakamannya, lebih dari 10.000 pelayat mengantarnya yang kemudian berdemonstrasi menuntuk penentuan nasib sendiri dan kemerdekaan dari Belanda.

Warisan dan penghargaan

Pemerintah Indonesia menganugerahi MH.Thamrin sebagai pahlawan nasional pada tanggal 28 Juli 1960. Salah satu lokasi perjuangannya yakni ; “Gedung Mohammad Hoesni Thamrin di Jakarta Pusat”, kini dijadikan museum. MH.Thamrin membeli rumah di daerah Senen (Jl.Kenari sekarang) untuk tempat permufakatan. Ia membentuk PPPKI (Permufakatan perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia) pada tahun 1928. Lalu gedung ini dikenal dengan nama Gedung Permufakatan, dan pernah dicatat sebagai tempat pergerakan nasional antara lain; pelaksanaan Kongres Rakyat Indonesia yang mencetuskan Indonesia Berparlemen. Tak hanya itu, gedung tersebut digunakan sebagai berikut : Digunakan sebagai tempat Kongres Partai Nasional Indonesia pada tahun 1928. pada tahun 1935 tempat pelaksanaan Kongres Persatuan Arab Indonesia (PAI). Tahun 1939 gedung milik MH.Thamrin sebagai tempat pelaksanaan Kongres Gabungan Politik Indonesia (GPI). Lapangan bola petojo, demi melihat anak kampung yang semangat bermain bola diantara pelataran rumah dan kebon, MH.Thmarin membeli lahan di petojo dan dijadikan lapangan sepak bola untuk masyarakat bermain dan berlatih sepak bola di tempat yang layak, kini lapangan tersebut menjadi aset Pemda Jakarta. Kiprah sosial politik dituangkan dalam Gagasannya tentang _*Kampong Verbethring*_ (perbaikan kampung) di lanjutkan oleh Ali Sadikin, Proyek MHT, proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta pada tahun 1970-an, dan sebuah universitas di Jakarta juga dinamai dari MH.Thamrin. Saat menyampaikan pidato politik diparlemen (volksraad) dengan lantang ia sampaikan tentang; “Indonesia Berparlemen !
“Indonesia Berpartai !
” Membela kaum buruh dan kuli pribumi !

Serta suara-suara lantang tentang keadilan sosial.bagi kaum primbumi.
Ide dan gagasan kebangsaannya yang visioner terkenal di seluruh pelosok negeri bahkan luar negeri. Ketegasannya dalam berfikir dan bersikap membuat ia dikenal sebagai pemimpin berkepala batu (keras pendiriannya), sebagai rasa takzim Bung Karno kepada Thamrin di pemakaman MH.Thamrin, Bung Karno memberikan batu besar diatas pemakaman MH.Thamrin, sebagai simbol bahwa disini telah terbaring seorang pemimpin berkepala batu dalam.memperjuangkan nasib rakyat. Minggu 11 januari 2026 adalah Haul MH.Thamrin ke 85, Majelis Kaum Betawi mengadakan peringatan Haul sebagai ikhtiar mengenang, memperingati sekaligus meneladani perjuangan MH.Thamrin yang masih dan akan tetap relevan bagi bagi kaum.Betawi dan bangsa Indonesia. Keteladanan berupa jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan meski berbeda pandangan politik antara koopwratif dan non kooperatif, nilai dan semangat empati dan peduli terhadap sesama menjadi kepribadian, pengorbanan yang nyata dalam perjuangan berupa moril maupun materil, satunya kata dan tindakan. Demikian Manaqib MH.Thamrin yang disusun Azis Khafia, Ketua Umum Pemuda Kaum.Betawi 1927.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *