Stunting Harus Ditangani Secara Baik Untuk Generasi ke Depan

banner 120x600
banner 468x60

TUBAN, Kicaunews.com – Direktorat Bina Ketahanan Remaja Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) terus aktif mensosialisasikan program pencegahan stunting dari hulu dalam rangka penguatan peran serta Mitra Kerja dan Stakeholder dalam implementasi kegiatan prioritas pembangunan keluarga.

“Program sosialisasi BKKBN untuk penurunan angka stunting ini harus terus digencarkan dengan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat seperti kegiatan hari ini,” ujar H. Abidin Fikri, SH., MH. selaku Anggota DPR RI Komisi IX dalam Sosialisasi Pencegahan Stunting dari Hulu di Dusun Krajan, Desa Talang Kembar, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur, Kamis (24/11/2022).

ARTIKEL LAINNYA :

Menurut Abidin, tokoh-tokoh masyarakat di seluruh kabupaten / kota harus diberi pengertian dan diedukasi soal pentingnya percepatan penurunan stunting, karena persoalan stunting ini berkaitan dengan masa depan bangsa.

“Target penurunan angka stunting pada tahun 2024 di angka 14%, ini tidak mungkin hanya bertumpu pada BKKBN namun seluruh stakeholder harus bersama-sama terlibat secara aktif,” tegas Abidin dari Dapil Jawa Timur IX yang meliputi Kabupaten Bojonegoro dan Tuban.

Politisi PDIP ini menjelaskan bahwa stunting bukan hanya pertumbuhannya yang tidak sesuai dengan umur tetapi banyak faktor lainnya.

Menurut riset dari para ahli dampak stunting diantaranya kemampuan atau perkembangan otaknya menurun 30%.

“Jika tidak ditangani secara baik maka generasi ke depan hanya sebatas menjadi pekerja tidak mampu memimpin. Ini akan terasa 20 atau 30 tahun kedepan,” ungkapnya.

Untuk itu, Abidin bersama mitra kerjanya BKBN harus aktif merangkul semua elemen masyarakat untuk terlibat aktif, termasuk melakukan literasi penuruan stunting ini jangan hanya untuk kalangan menengah ke atas dan masayarakat perkotaan saja, sangat penting turun hingga ke kecamatan dan desa-desa.

Baca juga :  Pemasangan KTP Digital Mulai Diterapkan di Instansi Vertikal dan BUMN se Kabaputen Sukoharjo

Peningkatan literasi soal stunting ini, menurut Abidin, masyarakat masih banyak yang salah mengerti soal stunting, bahwa stunting itu hanya urusan pada gizi bayi. Padahal, sebelum ada bayi, mulai dari pra nikah sudah harus dibahas.

“Masyarakat harus paham betul bahwa bagi setiap remaja yang akan menikah harus mengerti apa itu stunting. Karena di kalangan anak muda yang disebut dengan cantik itu diet. Menurut kita cantik itu sehat,” tuturnya.

Maka, Abidin menyeru bahwa kita harus mempersiapkan agar saat menikah sehat dan reproduksinya bagus. Masa kehamilan pun bukan hanya ibu yang mendapat asupan gizinya namun juga bayi di dalam kandungannya harus sehat.

“Sudah disampaikan oleh kepala BKKBN, kami dari Anggota DPR turut mengawal dan mendukung sepenuhnya agar tidak ada masalah terkait program penurunan stunting ini. Mudah-mudahan dari tahun ke tahun akan terus meningkat anggarannya. Tahun depan juga acara seperti ini akan ditambah dengan kapasitas peserta yang lebih banyak untuk memacu agar target Pak Jokowi bisa tercapai 14%,” ujarnya.

Selanjutnya, narasumber dari BKKBN Provinsi Jawa Timur, Waluyo Ajeng Lukitowati, S.St, MM. selaku Koordinator Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KBKR) menegaskan bahwa di BKKBN juga ada Bina Keluarga Remaja untuk keluarga atau orang tua yang mempunyai keluarga.

Tujuannya, menurut Ajeng, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orangtua dan anggota keluarga lainnya dalam pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang remaja, dalam rangka meningkatkan kesertaan, pembinaan, dan kemandirian ber KB bagi anggota kelompok.

“Orang tua jangan terlena jika mempunyai remaja karena mereka dengan mempunyai hp yang kecil saja bisa melihat semua isi dunia yang baik maupun tidak baik. Jangan bangga kalau punya anak remaja dikamar aja, pintu selalu ditutup, dan jarang keluar,” kata Ajeng.

Baca juga :  Solihin Beralibi, Pelaku Pornoaksi Bukan Lagi Pengurus Partainya

Ajeng menegaskan, orang tua harus mempunyai metode komunikasi yang baik dengan anak remajanya. Intinya bentuk pertanyaan yang mengenakkan. Jangan marah-marah, karena remaja gampang marah atau emosi. Ini disebabkan karena faktor masa puber yaitu masa pertumbuhan dari bayi menjadi anak-anak, kemudian masa remaja atau biasa disebut masa bongkah.

“Anak remaja kita siapkan untuk sehat salah satunya agar tidak anemia. Sehat ketika akan menikah, masa hamil sehat. Remaja jika akan menikah tiga bulan sebelumnya mendapatkan edukasi. Salah satunya mendampingi remaja dalam merencakan kehidupannya,” tuturnya.

Sementara narasumber terakhir menjelaskan berdasarkan bulan timbang, jumlah anak yang kena stunting jumlahnya naik. Sehingga ini menjadi tugas bersama, kenapa bisa sampai naik.

“Harapan kita kedepan tentunya tingkat stunting turun. Memang jumlah stunting di Kecamatan Montong lebih sedikit dari kecamatan lain, tetapi yang perlu kita waspadai takut bertambah,” ujar dr. Atiek Supartiningsih selaku Kabid Pengendalian Penduduk dan KB Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan KB Kabupaten Tuban.

Menurutnya, di Kabupaten Tuban saat ini sudah mempunyai tim percepatan penurunan stunting. Di tingkat Kecamatan Montong juga sudah ada tim percepatan penurunan stunting yang diketuai oleh Bapak Camat kemudian ada dari BLKB, Puskesmas, Bapak Ibu Kepala Puskesmas, Ibu PKK, semuanya sudah ada.

“Di tingkat desa, di desa Talang Kembar juga sudah ada tim percepatan penurunan stunting yang diketuai oleh Ibu Inggi juga teman-teman kader BPKPD, sekretaris desa, dan perangkat desa, Namun tentunya tetap membutuhkan peran serta dari bapak ibu masyarakat semuanya,” katanya. (Red/AW)

Print Friendly, PDF & Email
ARTIKEL YANG DISARANKAN :
Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *