oleh

PeopleTalkPeople: Perempuan Hebat Indonesia, Mereka Yang Mampu Menempatkan Diri Dengan Baik

JAKARTA, KICAUNEWS.COM- Perempuan itu unik, ibarat bunga mawar kelopaknya selalu indah dipandang, memegangnya pun tidak boleh sembarang. Ada duri di setiap batangnya, sama seperti sosok Ibu kita Kartini, yang bernama harum. Kartini selalu indah, tapi dalam kehidupannya seperti batang mawar.

Pada usia yang ke-12 tahun, ia tak bisa menolak untuk dipingit dan “dirumahkan”. Kalau dilihat dari sejarah keluarganya yang Bangsawan seharusnya memiliki pola pikir yang terbuka. Di rumah itulah ia banyak belajar termasuk belajar bahasa Belanda. Sehingga ia menyusun surat kepada sahabatnya Rosa Abendanon tentang keprihatinan Kartini terhadap situasi Perempuan Pribumi.

Bagi saya Kartini malah melihat cermin dari dirinya. “Seharusnya Kartini bisa seperti Perempuan Belanda.” Gelisah Kartini itu diteruskan pada tulisan penanya ke majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian sambil membuat catatan-catatan.

Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Kartini dijodohkan dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Seharusnya kalau Kartini konsisten dengan pemikirannya, dia menolak pernikahan itu. Dan diumur 23 tahun Kartini menikah, pasangannya mengerti keinginan Kartini. Dia diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang.

Putranya, Soesalit Djojoadhiningrat lahir belum sempat ia asuh dan ia besarkan. Karena selang 4 hari, beliau berpulang kepada Sang Pencipta. Kartini memang tidak mengangkat senjata seperti Cut Nyak Dien, Christina Martha Thiahu, Laksamana Malahayati. Dia berjuang lewat tulisannya dengan gagasan perempuan harus bisa lebih bermartabat.

Baca juga :  Kegiatan Operasi Yustisi Penegakan Disiplin Dan Menekan Penyebaran Covid-19 Di Wilayah Polsek Cipeundeuy

Ia ingin perempuan setara dan punya hak yang sama dengan laki-laki. Padahal bagi saya, dengan kesadaran itu dia bisa menolak dipingit, menolak menikah dengan Duda yang pernah menikah 3 kali, bahkan Kuliah di Negeri Belanda. Tapi ada hal kecil yang saya amati dari Sosok Kartini yang di Indonesia cuma populer dengan tanggal 21 Aprilnya dengan berpakaian batik, ada Lagu Ibu Kita Kartini yang bernama harum, atau cuma tahu judul bukunya “Habis Gelap terbitlah terang.”

Tidak ada yang pernah peka, Kartini mampu menempatkan diri dengan baik, ia mengetahui posisi dan tanggungjawabnya sebagai seorang anak, istri, dan ibu. Walau ia sendiri berontak dengan tulisannya. Bagi saya, bersama rekan-rekan perempuan di People Talk People , “Perempuan Hebat Indonesia yang mampuh menempatkan diri dengan baik. Selamat Hari Kartini untuk setiap Perempuan Indonesia!

Alexander Philiph Sitinjak
Penulis Adalah Founder PeopleTalkPeople

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru