banner 728x250

HMI, Terorisme dan Citra Umat Islam

  • Bagikan
Deni Iskandar (Goler) Ketua HMI Cabang Ciputat, Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah, Periode 2018-2019.
banner 468x60

JAKARTA, KICAUNEWS.COM- Peristiwa bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar dan penyerangan pada aparat Kepolisian di Mabes Polri adalah dua rangkaian peristiwa teror yang mengkonfirmasi bahwa, terorisme dan jaringannya masih ada dan berkembang di Indonesia. Adanya peristiwa teror itu tentu sangat berdampak bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dampak pertama, pada format kehidupan berbangsa yang sebelumnya identik dengan, Keberagama yang di dasarkan pada spirit Bhineka Tunggal Ika, kembali tercoreng. Dampak kedua, pada kondisi perekonomian nasional akan sangat terganggu. Karena berdasarkan Anggaran Pembangunan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2021 yang terus mengalami defisit diangka 45,7 triliun rupiah.

banner 336x280

Dengan adanya peristiwa teror ini, upaya pemerintah untuk menarik dan mengundang investor sebagai upaya pemulihan ekonomi, akan sangat terganggu. Kemudian dampak ketiga, yaitu kehadiran umat Islam yang notabenenya sebagai kelompok mayoritas di republik ini, kembali menjadi sasaran tembak atas adanya tindakan teror di dua tempat tersebut.

Bagaimana tidak, dari informasi yang dihimpun banyak sumber, tindakan teror yang dilakukan di dua tempat tersebut, diduga dilakukan oleh Jaringan teroris yang memang terafiliasi dengan kelompok Islamic State Of Iraq and Syiria (ISIS). Seperti kelompok bom bunuh diri di Gereja Katedral, itu dilakukan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD), sementara teror yang dilakukan di Mabes Polri, dilakukan oleh Jaringan Lone Wolf.

Jaringan keduanya ini berasal dari kelompok Islam, sekalipun kelompok tersebut bisa dikatakan sebagai kelompok Islam garis keras atau ekstrem, namun yang perlu dicatat bahwa, pelakunya teror tersebut, membawa simbol Islam. Menjadi konsekuensi logis, ketika umat Islam harus kembali tertuduh.

Sekalipun, Islam Indonesia berbeda dengan ISIS. Namun inilah tantangan yang harus dihadapi oleh umat Islam di Indonesia. Maka, dengan adanya peristiwa teror ini, tantangan pemerintah di Indonesia bukan hanya harus fokus melawan pandemic covid-19, kemudian melakukan pemulihan ekonomi dan menjalankan pembangunan nasional saja.

Baca juga :  Difitnah Masuk Bagian Dari Parpol, Begini Kata Mulyadi P Tamsir Soal Agus Harta

Akan tetapi, pemerintah juga wajib memutus mata rantai terorisme yang berkembang di republik ini, sampai ke akar-akarnya. Begitu juga dengan umat Islam, tentu memiliki tantangan yang sama dengan pemerintah. Apabila pemerintah melalui instrumen institusi terkait, diwajibkan untuk memutus mata rantai terorisme.

Maka, umat Islam sendiri melalui tokoh agama, maupun organisasi Islam lainnya, mempunyai tanggung jawab, untuk bagaimana menjadikan masyarakat Islam tidak terjerumus menjadi teroris. Dengan cara membumikan nilai-nilai Islam yang Inklusif dan Rahmatan Lil’alamin. Apalagi kehadiran Islam sendiri di muka bumi ini, adalah sebagai agama penyempurna.

Adapun skema yang harus dilakukan oleh umat Islam dalam men-syiarkan ajaran-ajaran Islam, yakni dengan cara turun langsung ke masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan berbasis Islam maupun sekuler. Apabila tugas pemerintah, memutus mata rantai terorisme dengan cara memaksimalkan kerja-kerja institusi terkait, agar bagaimana bisa meretas dan memutus mata rantai jaringan terorisme di Indonesia.

Maka tugas tokoh agama maupun organisasi Islam, salah satunya seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yaitu memberikan pemahaman Islam yang Inklusif. HMI harus mampuh menampilkan citra dan spirit keislaman yang Rahmatan Lil’alamin pada generasi muda dan masyarakat Islam di perkotaan dan perkampungan.

Dalam mewujudkan hal tersebut, HMI sebagai organisasi tertua di Indonesia yang didirikan pada 5 Februari 1947. Tentu mempunyai landasan dan dasar yang jelas, dan itu semua tertuang dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI yang dijadikan sebagai basis ideologi organisasi. Sebab, hanya dengan cara itulah negara sebagai instrumen organisasi terbesar, berkewajiban untuk bagaimana membuat, semua warga negara di republik ini hidup tenang, tentram dan damai.

Adanya peritiwa teror, tentu sangat berdampak secara psikologis pada kehidupan masyarakat di negeri ini. Akibatnya, tidak sedikit masyakarat yang panik, resah dan ketakutan. Terkhusus para korban bom dan umat Katolik itu sendiri. Oleh karena itu, negara melalui institusi yang bersangkutan, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Intelijen Negara (BIN) dan Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri, tidak boleh memandang remeh dan sebelah mata, perilaku teror yang telah terjadi.

Baca juga :  Anggota Polsek Sindang Bersama Muspika Giat Sosialisasi Protokol Kesehatan

Sebaliknya, institusi yang bersangkutan yang berfungsi sebagai alat negara ini harus bisa bekerja secara maksimal, terutama kerja-kerja tiga institusi seperti BNPT, Densus 88 Polri dan BIN. Ukurannya adalah mampuh dan bisa meretas jaringan terorisme sampai akar. Sebab, apabila jaringan teroris ini, tidak dapat diretas sejak dini. Maka konsekuensi logis yang harus diterima adalah, kejadian teror akan kembali terulang di tempat-tempat lain.

Jika yang sudah terjadi, teror dilakukan di Gereja dan Mabes Polri, maka kejadian selanjutnya bukan tidak mungkin, akan kembali terulang di Masjid Pure, bahkan juga di kantor-kantor pemerintahan di Indonesia. Bila melihat pola teror yang dilakukan, munculnya aksi-aksi terorisme dalam bentuk aksi bom bunuh diri maupun penyerangan di Mabes Polri, tentu tidak bisa dilihat secara tunggal karena faktor agama semata.

Artinya bahwa, asumsi tentang paham radikal terhadap nilai-nilai pada ajaran agama, tentu bukanlah variabel utama dan satu-satunya, yang bisa menjelaskan soal aksi terorisme tersebut. Sebab, pola aksi teror yang dilakukan oleh teroris yang selama ini terjadi, tidak berjalan sendiri. Mereka semua memiliki jaringan yang kuat. Begitu juga dengan skema permainan teror yang selama ini terjadi, dilakukan setiap momen-moment tertentu saja.

Maka, dengan adanya kejadian teror ini. Kita semua berharap, jangan sampai umat Islam menjadi kambing hitam. Sebab secara subtasial, ajaran Islam sendiri tidak menghendaki dan tidak pernah membenarkan, umatnya melakukan teror. Termasuk pada umat di luar Islam itu sendiri. Disamping itu, dengan adanya kejadian ini, masyarakat di republik ini, menunggu komitmen dan hasil kerja-kerja pemerintah melalui institusi yang berkaitan, untuk bagaimana bisa memutus mata rantai terorisme itu.

Dalam melakukan kerja-kerja tersebut, tentu pada akhirnya, pemerintah tidak bisa jalan sendiri, dan kerja memberantas aksi terorisme ini harus kerja bersama. Dengan cara menjadikan terorisme sebagai musuh bersama negara. Begitu juga setelah teror ini terjadi, masyarakat juga berharap bahwa, peristiwa yang sama tidak akan pernah terjadi dan terulang kembali di republik ini.

Baca juga :  Pendistribusian Bansos Oleh Polri Kepada Warga Yang Terdampak PPKM Level 4 Di Sumedang

Oleh karena itu, sikap dan tindakan umat Islam di Indonesia, tidak cukup hanya dengan mengutuk dan mengecam saja, akan tetapi juga harus kerja bersama, melawan terorisme, dengan cara turun gunung, mensyiarkan nilai-nilai Islam yang Inklusif dan Rahmatan Lil’alamin kepada masyarakat. Jangan sampai, kejadian teror ini mengganggu dan menghambat laju pembangunan nasional yang sudah menjadi kerja-kerja Presiden Jokowi di republik ini.

Deni Iskandar. S.Ag
Ketua HMI Cabang Ciputat, Bidang Partisipasi Pembangunan Daerah, Periode 2018-2019

Print Friendly, PDF & Email
banner 336x280
Bagikan :
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *