banner 728x250

Dualisme Partai Demokrat, Sosok Pendiam Moeldoko Sang Ketum Hasil KLB Deliserdang

  • Bagikan
banner 468x60

KicauNews.com — Moeldoko, sosok pria pendiam kelahiran Kediri, Jawa Timur 64 tahun lalu, kini namanya menjadi terkenal, karena  hampir setiap hari disebut di media sosial (medsos) maupun media online/elektronik serta media cetak.

Terlepas dari baik atau buruk pendapat netizen dan penyimak berita tentang kepala staf presiden (KSP) ini, yang jelas dia kini menjadi perbincangan hangat pasca didapuk menjadi ketua umum (Ketum) Partai Demokrat (PD) di kongres luar biasa (KLB) Deliserdang, Sumatera Utara.

banner 336x280

Bersama Moeldoko juga Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan anaknya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang merupakan rivalnya dalam kisruh PD menjadi dua kubu.

Namun keduanya memang sudah sering tampil di media, jadi sudah tidak asing lagi bagi publik. Belakangan nama Gatot Nurmantyo yang ujug-ujug membela SBY dengan komentarnya selalu menyudutkan Moeldoko.

Perbincangkan di media massa yang melibatkan tiga tokoh jendral purnawirawan dan mantan mayor ini sungguh seru. Pro dan kontra menghiasi pemberitaan di medsos maupun media mainstream lainnya.

Moeldoko yang muncul sebagai pemain baru dalam kancah politik, tampak dikeroyok oleh pemain lama, yakni SBY dan Gatot Nurmantyo plus AHY.

SBY memang sudah terkenal dari dulu, karena dia mantan presiden dua periode. Gatot pun demikian, terkenal duluan karena dia ikut bergabung dalam KAMI yang mengkritisi pemerintah Jokowi.

Sementara Moeldoko, tidak terlalu banyak komentar atau menanggapi kicauan lawan politiknya. Dia tetap bekerja menjalankan tugasnya sebagai pejabat Negara.

Sebaliknya, PD kubu AHY yang disupport mati-matian oleh ayahnya SBY selalu mendiskreditkan mantan Panglima TNI itu, sebagai pihak yang salah ‘merebut’ PD dengan KLB yang baru-baru ini digelar di Sibolangit, Deliserdang. 

Meski demikian Moeldoko seolah bersikap, ‘Biarlah anjing menggonggong kafilah berlalu’.

Baca juga :  Cegah Meluasnya Wabah Covid -19, Kadus Tenjolaya Desa Tanjungjaya Bersama Karang Bentuk Posko Relawan

Sebagaimana diketahui ‘gonggongan’ SBY dan AHY malah membuka tabir keburukan mantan presiden dua periode itu. Datangnya bukan dari Moeldoko, tetapi dari para pendiri dan kader PD. 

Tidak itu saja, para loyalis Moeldoko ikut ‘menelanjangi’ masa lalu SBY yang diduga banyak menimbulkan masalah.

Begitu juga dengan Gatot yang selalu menyebut etika terhadap Moeldoko, ternyata diapun beretika buruk saat menjabat panglima.

Hal itu dibongkar oleh loyalis Moeldoko dalam berita dan artikel di beberapa media online. 

Ramainya sorotan medsos terhadap jenderal bintang empat ini, nama Moeldoko mulai mencuat dari sekian banyak figur politisi yang sudah akrab di telinga publik Yang semula tidak terlalu diperhitungkan, kini masuk nominasi bersama figur-figur yang sudah top dan memiliki kans besar untuk maju ke Pilpres 2024.

Nama-nama seperti Prabowo, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan lainnya sudah banyak diulas di media massa oleh pengamat politik.

Namun kali ini semua pemberitaan di media massa memunculkan Moeldoko yang sangat fenomenal.

Figur pria pendiam dan tegas ini tampaknya begitu “sexy”  hingga hampir semua media memberitakan sosoknya.

Hal itu karena dalam melakukan gebrakan politiknya seolah mengguncang panggung politik Indonesia bahkan dunia.

Jadi tidak heran jika kemudian banyak pihak yang menyebut namanya, entah itu dengan pemberitaan yang positif maupun negatif. Yang jelas saat ini banyak pamflet yang memadukan foto Pak Moeldoko dengan foto aktor politik tenar lainnya. Seperti artis yang sedang naik daun, nama  Moeldoko selalu menjadi bahan perbincangan publik.

Tentu saja SBY dibuat gusar, gundah gulana hingga tidak bisa tidur dan mengisi waktunya dengan menulis puisi curahan hati.

Dia tetap mempertahankan AHY anaknya itu memimpin PD  yang kini sedang goyah, lantaran KLB PD memilih Moeldoko.

Tidak kalah dengan bapaknya, AHY terus berusaha mempertahankan kedudukannya sebagai Ketum PD. Bahkan dia sampai menjadi Korlap aksi di jalanan, dan meneriakkan keresahannya.

Serangan yang bertubi-tubi terhadap Moeldoko, disikapi dengan santai oleh jendral yang bergelar doktor dan master ini. 

Sekali-kali dia senyum saja, saat wartawan meminta tanggapannya soal kisruh PD.

Sebenarnya dengan banyak diam, sudah terjawab sikap Moeldoko. Dalam postingan meme fotonya yang diunggah di Facebook bertuliskan, “Aku ngopi kenapa ada yang grogi?”

Kalimat itu sekarang menjadi sangat populer, hingga setiap orang yang mau mengajak ngopi, dia akan bilang, “Nanti ada yang grogi”.

Begitulah sosok Moeldoko dengan langkah-langkah politik silentnya, mampu membuat lawan politiknya makin terpuruk. Lihat saja perkembangannya nanti, siapa yang paling unggul dalam pertarungan dualisme partai ini. Apakah Moeldoko yang akan naik panggung atau AHY. (M Isa Gautama/bumi)

Print Friendly, PDF & Email
banner 336x280
Bagikan :
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *