oleh

Menuju Ketum PB HMI, Shoim : Degradasi Fatalistik Tri-Komitmen HMI

Jakarta, Kicaunews.com – Moh. Nur Aris Shoim, Ketua Bidang Kewirausahaan dan UMKM PB HMI, menuturkan salah satu spirit dan motivasinya maju berkontestasi di momentum Kongres HMI Ke-XXXI di Surabaya, 17-22 Maret, adalah berangkat dari keresehan terhadap kondisi internal organisasi yang berdampak pada pergerakan dan perjuangan HMI di eksternal.

Berangkat dari pengalaman dan analisa, Shoim sapaan akrab Moh. Nur Aris Shoim menegaskan di era globalisasi hari ini telah terjadi degradasi fatalistik pemahaman, pendalaman dan implementasi para kader terhadap tri-komitmen HMI (Keislaman-Keintelektualan-Keindonsiaan) yang sebenarnya itu sudah menjadi keniscayaan bagi kader himpunan untuk menguasainya.

“Keharusan bagi setiap kader hijau hitam adalah mampu menguasai konsepsi tri-komitmen HMI dan bisa menjadi implikasi nilai-nilai bagi kita untuk bergerak dan berjuang dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dampak arus globalisasi yang begitu kencang telah meninabobokan atau memanjakan banyak kader sehingga abai akan eksistensinya sebagai kader”, tegasnya, Kamis (11/03/2021).

Shoim yang pernah konsen di perkaderan (Badan Pengelola Latihan-“BPL”) dan di pergerakan (Bidang Perguruan Tinggi dan Kemahasiswaan) HMI Cabang Yogyakarta mengungkapkan bahwa grand design perkaderan himpunan perlu dikaji dan diperbaiki agar bisa relevan dengan kondisi kekinian, apalagi kita sudah berada di era peralihan industri 4.0 ke industri 5.0.

“Pedoman perkaderan sebagai referensi bagi Himpunan mengodok, mengembleng, dan menempa para kadernya untuk mencapai insan paripurna mesti ditinjau kembali, kemudian dilakukan perbaikan-perbaikan. Apalagi Era society 5.0 sudah digaungkan, bahkan Jepang sendiri sudah menerapkan itu, kita hari ini malah berkutat dan dikalahkan oleh dampak industri 4.0,” tandasnya.

“Memang perlu mendorong dan/atau melakukan lokakarya pedoman perkaderan paska kongres yang muatannya menjawab tantangan dan peluang perkembangan jaman. Pastinya setelah itu, semua level jenjang di HMI harus memeperhatikan dan menggunakannya dalam proses perkaderan. Itu adalah sebuah komitmen mengembangkan dan memajukan organisasi,” imbuhnya.

Baca juga :  Jabat Kepala Bidang Koperasi DPP KNPI, Putra Lampung Ini Optimis Koperasi akan Maju

Youth Muslim Entrepreneur, bagi Shoim yang selama ini fokus pada dunia social entrepreneurship, harus ada pada diri tiap-tiap kader sehingga kemandirian secara finansial dan ekonomi bisa terwujud kedepannya. Hal ini juga, yakinnya, bisa berdampak positif bagi kemandirian organisasi dan berkontribusi meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara.

Shoim melanjutkan bahwa jalan berwirausaha atau berbisnis menjadi langkah kongkrit dan strategis bagi kader HMI kedepannya karena salah satu wujud dari wawasan keindonesiaan adalah membantu negara membangkitkan pertumbuhan ekonomi untuk masuk dalam 7 kekuatan dunia satu sampai dua dekade kedepan.

“Ketika kader mampu menjadi Muslim-Intelektual-Profesional maka Youth Muslim Entrepreneur bisa kita kuasai kedepannya. Oleh karena itu, grand design perkaderan harus ditinjau dan diformulasikan lagi agar kita tidak tertinggal. Kita ini harapan umat dan bangsa, itulah spirit lahirnya HMI 74 tahun lalu tepatnya di tahun 47 di Yogyakarta,” pungkasnya. (Red/AW)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru