oleh

Haji Karya dan Hos Tjokroaminoto

KICAUNEWS.COM- Hampir genap 40 hari kita semua kehilangan tokoh Kota Tangsel. Dia adalah Haji Karya. Figur politisi yang kebijaksanaan dan kesederhanaannya membuat banyak kalangan di Kota Tangsel tak menafikan ketokohan dan pengaruhnya. Bahkan, beberapa figur, melabelinya sebagai Guru.

Guru politik yang sejatinya mengabdikan diri bagi kesejahteraan sosial masyarakat. Berpihak sepenuhnya pada kepentingan masyarakat. Haji Karya, yang karya pikirnya terus abadi. Dinamisator yang menjadi khas dalam kepemimpinannya mengabdikan diri.

Atas kepergiannya kini, kita semua berupaya mengikhlaskan. Seraya memanjatkan doa bahwa Allah SWT menempatkanya di sebaik-sebaiknya tempat. Namun, segala nasehat dan setumpuk gagasan-gagasan bagi kemajuan Kota Tangerang Selatan dan kemakmuran masyarakatnya, terus teriang dalam pikiran.

Menggugah cakrawala pemikiran dan tergerak untuk menuliskannya. Untuk terus mengenang segala pengabdiannya yang kita harapkan menjadi amal-jariyah “Sang Jenderal”. Tokoh kebanggaan Masyarakat Ciputat, dan Kota Tangerang Selatan.

Kiprahnya dalam politik, membuktikan bahwa pengabdian dan dedikasinya semata diberikan bagi kemaslahatan orang banyak. Tak dapat disangkal, keberpihakannya akan kepentingan masyarakat membuatnya terpilih selama 3 periode duduk menjadi seorang wakil rakyat di Kota Tangerang Selatan.

Legislator yang sepenuhnya mewakafkan diri untuk selalu membawa manfaat bagi siapa saja yang memerlukan. Rasanya, masih begitu melekat dalam ingatan saya, pada saat bersilaturahim dengan masyarakat di sejumlah wilayah Kecamatan Ciputat.

Dalam kesempatan bersama warga, ia kerap gencar menstimulus masyarakat untuk dapat memiliki kompetensi. Ia tak ingin ada warganya tidak memiliki kompetensi atau putus sekolah. Suatu ketika, ia menanyakan kepada seluruh audiens yang hadir tentang angka putus sekolah di wilayahnya.

Tak segan, ia mendorong masyarakatnya untuk memiliki keinginan melanjutkan pendidikan sekolah melalui jalur pendidikan paket kesetaraan. Harapanya tak muluk, agar masyarakat dicintainya dapat lebih bersaing di tengah mercusuar kemajuan yang ada di Kota Tangerang Selatan.

Baca juga :  Blusukan ke Pasar Tradisional, Sis Hera Kenalkan nama PSI dan Para Calegnya ke Pedagang

Masyarakat secara cuma-cuma berkesempatan mengikuti pendidikan kesetaraan tersebut tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. Sebab, seluruh biaya, saya masih ingat betul jumlah yang dikeluarkan tidak sedikit, seluruhnya ditanggung penuh oleh uang pribadi mantan Lurah Sawah Baru itu.

Mungkin masih banyak lagi jika kita tuliskan segala kebaikannya. Segala wujud kecintaannya pada masyarakat. Jika kita tarik mundur history beliau pada saat menjadi Lurah Sawah Baru, banyak kalangan yang hingga kini masih berdecak kagum atas perjuangannya membela masyarakat. Tak peduli kesalahan apa yang telah dilakukan warganya.

Tanpa tedeng aling-aling ia pasang badan. Membela dalam barisan terdepan. Memberi solusi atas persoalan yang menimpa warga. Sosial, ekonomi, bahkan urusan hukum sekalipun. Kalimat yang sering diungkapkan dan melekat yakni, “Jangankan benernya salahnya aja pasti gw belain.”

Di sisi lain perangainya yang bijaksana dan sederhana, dan bahkan kerap humoris. Rupanya, ia juga menjadi pemimpin yang punya nyali besar untuk berhadapan dengan siapa saja yang disinyalir dapat menyengsarakan masyarakat.

Sempat pada tahun 2020, juga ramai diberitakan oleh berbagai media. Aksi unjuk rasa. Demonstrasi yang dipimpinnya langsung pada saat mengkritisi kebijakan Universitas Pembangunan Jaya. Kebijakan kampus swasta yang dianggap telah abai dalam menjalankan komitmen penyerapan tenaga kerja. Ia bukan berlagak heroik.

Sekali lagi, ia hanya ingin agar masyarakat dapat menikmati pembangunan di tanah kelahiran yang dibanggakannya. Di sisi lain, Haji Karya seorang negosiator ulung dengan publik speaking yang membahana seperti seorang motivator di atas mimbar.

Namun, nasehatnya kerap menghipnotis. Mengantarkan siapa saja pada sikap optimisme kemajuan-kemajuan hidup secara individual. Jika mengingat sosoknya, saya juga kerap mengingat apa yang sering disampaikannya yang dikutipnya dari Trilogi pemikiran sosialisme Haji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Cokroaminoto).

Baca juga :  Hadapi Pemilu 2019, Airin Minta Doa Restu Anak Yatim

Ia kerap berkelakar bahwa politik haruslah bermuara pada kebermanfaatan dan kesejahteraan masyarakat. “Setinggi-tingginya ilmu, semurni-murninya tauhid, dan sepintar-pintarnya siasat.” Ucap Haji Karya sang legislator Golkar itu, sekali waktu mengutip HOS Cokroaminoto.

Barangkali, buah pemikiran karya HOS Cokroaminoto itu turut menjadi kompas perjuangan politik, Baba Haji Karya. Jika tidak berlebihan, banyak pula pemimpin organisasi besar Tangsel baik dalam konteks kepemudaan dan bahkan politik, lahir atas tangan dingin pengaruhnya, serta ketulusan pengabdian politik Haji Karya.

Layaknya HOS Cokroaminoto yang rumah kos nya menjadi Pondok para tokoh pemimpin dan pemikir besar Bangsa Indonesia pada pra-kemerdekaan. Haji Karya, ialah orang tua yang semangatnya terkadang melampui anak muda.

Sosoknya menjadi role model tokoh politik yang saya kira layak menjadi barometer kepemimpinan politik di Kota Tangerang Selatan pada masa-masa yang akan datang.
Alfatihah. Haqqul yakin, pengabdian dan segala kebaikannya akan menuntun Haji Karya pada FirdausNya. Aamiin YRA. Wallahu a’lamu bishshawaabi.

Noval Al Farez
Ketua MPI PK Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Ciputat

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru