oleh

Santri Pasundan : Penetapan RS Medina Sebagai RS Darurat Covid Garut Diduga Bisnis Kesempatan Dalam Kesempitan

Garut, Kicaunews.com – Menurut DR Hendro Sugiarto, SE.,M.MKMT (Sekjen perkumpulan santri Pasundan) Sebagaimana kita ketahui bersama, Rumah Sakit Medina menjadi salah satu Rumah Sakit Darurat yang di tunjuk oleh Rumah Sakit dr. Slamet sebagai rumah sakit rujukan Covid-19. Sebelum penetapan Rumah Sakit Medina sebagai Rumah Sakit Darurat, jika kita mentracking pernyataan pak Bupati berkaitan dengan biaya tangguhan per orang, per pasien Covid-19 beliau menyatakan kepada awak media bahwa biaya per pasien covid-19 bisa menelan biaya 50-60 Juta setiap per pasiennya.

Dari banyak pernyataan beliau di media, tiba-tiba di kabarkan bahwa Rumah Sakit Medina menjadi Rumah sakit darurat bagi pasien Covid-19 sebagai pembantu Rumah Sakit Rujukan Covid-19. Yang menjadi pertanyaan kami, adalah:

Pertama, Kenapa harus Rumah Sakit Medina? Apa karena pemiliknya masih keluarga pak Bupati?
Kedua, Kenapa tidak Rumah Sakit lain, padahal masih banyak Rumah Sakit yang insprastukturnya jauh lebih lengkap dari Rumah Sakit Medina?
Ketiga, bagaimana status alat kesehatan yang di berikan Pemerintah Daerah kepada Rumah Sakit Medina ?
Keempat, kenapa Pemerintah Daerah tidak memaksimalkan bangunan milik Pemerintah Daerah?
Empat pertanyaan diatas, semoga bisa di jawab dengan lugas dan tuntas. Sebuah kewajaran jika kami sebagai bagian dari masyarakat mempertanyakan hal tersebut, terlebih kepada pak Bupati, karena beliau pejabat Publik yang kerap kali akan di soroti segala tindak tanduknya.

Sebelum pak Bupati menjawab keempat pertanyaan diatas, saya ingin memberikan pandangan terlebih dahulu berkaitan dengan pertanyaan ketiga dan keempat, karena bagi kami ini menjadi sebuah tanda tanya besar. Kami tidak akan mengomentari siapa pemenang tender atau Penunjukan Alat Kesehatan tersebut, namun yang kami soroti adalah Alat Kesehatan tersebut, bagaimana statusnya? apakah otomatis menjadi milik Rumah Sakit Medina atau dipinjamkan saja ?Jika memang demikian, sungguh enak pemilik Rumah Sakit tersebut, selain dapat benefit dari claim pasien Covid-19, juga mendapat benefit dari Alat Kesehatan tersebut. Begitupun jika hanya dikasih pinjam. Rupanya fasilitas yang tidak memadai pun tidak menjadi syarat bahkan malah dikasih pinjaman dan atau pemberian dari Pemda.

Baca juga :  Cegah Penyebaran Covid-19 Diwilayah Hukum Polsek Cikampek

Berbeda dengan daerah-daerah lain justru mereka menyulap beberapa bangunan milk Pemerintah Daerah tersebut menjadi Rumah Sakit Darurat Covid-19. Sebetulnya banyak bangunan milik Pemerintah Daerah Kabupaten Garut yang bisa di manfaatkan dan di maksimalkan sebagai Rumah Sakit Darurat Covid-19.

Kita tengok sebagai contoh pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menyulap wisma Atlet sebagai Rumah Sakit Darurat Covid-19. Ketika Pemerintah Daerah tersebut menyadari adanya keterbatasan Fasilitas pelayanan rujukan yang dapat menangani kasus Covid-19, Kutai Kartanegara membuat sebuah Keputusan berupa memutuskan dan menetapkan bahwa Rumah Sakit Darurat COVID-19 berlokasi di Wisma Atlet Kecamatan Tenggarong Seberang.

Dimana Pengelolaannya dan pengawasan Rumah Sakit Darurat COVID-19 Wisma Atlet tersebut dilakukan oleh Rumah Sakit Umum Daerah AM Parikesit Kutai Kartanegara sebegai Rumah Sakit Rujukan. Dan masih banyak pemerintah Daerah lainnya, yang memaksimalkan aset nya sebagai Rumah Sakit Darurat COVID 19.

Selain itu saya dengar sampai rumah bupati yang terletak berdampingan dengan RS medina milik bupati dan keluarga tersenut dipakai sebagai penampungan pasien covid juga. Ko bisa bukanya itu rumah biasa. Alsannya apa, apakah karena tidak ada lagi tempat atau karena memang begitu menguntungkan secara bisnis hingga rumahnya pun digunakan ? Sekali lagi saya atasnama Sekjen perkumpulan santri Pasundan memohon penjelasannya.

Saya berharap Pak Bupati bisa menyampaikan dengan jelas kepada kami, untuk menghindari prasangka masyarakat yang beredar di luar sana mengenai, ada dugaan “memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan”, atau banyak orang yang menyampaikan bahwa, Covid-19 itu ada, tapi BTT adalah Fakta. (Red/AW)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru