oleh

Penghianat Berdalil Konstitusi: Kronologi Hilangnya Marwah HMI

JAKARTA, KICAUNEWS.COM- Kami ingin mengajak teman se-himpun se-cita untuk membaca cerita. Tidak begitu indah tentang Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hari ini, siapkan kopi dan cemilannya.

Dua tahun sudah, kita sebagai kader HMI se-nusantara, telah menyaksikan perebutan kekuasaan di tubuh/internal PB HMI, belum selesai. Kita tentunya menyayangkan sekali kejadian ini, karena banyak memunculkan pertanyaan-pertanyaan besar. Ada apa dengan HMI sekarang?

Sejak peristiwa penggulingan Ketua Umum PB HMI, Saddam Aljihad yang terpilih berdasarkan hasil Mandataris Kongres ke-XXX di Ambon, oleh beberapa Pengurus yang dikomandoi Arya Kharisma Hardi, membentuk kepengurusan baru yang dilantik oleh beberapa Majlis Pengawas dan Konsultasi (MPK) PB HMI.

Perebutan Kekuasaan dan saling berpelukan dalam selimut penghianatan konstitusi HMI, sudah terjadi di era Saddam Al Jihad dan Arya Karisma. Keduanya harus dan wajib bertanggung jawab, atas segala konflik dan rusaknya tatanan organisasi HMI.

Berdua, berjalan bersama, bersekongkol memanipulasi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) HMI. Kader HMI dari tingkat komisariat, sampai PB HMI. Harus jujur dan mengakui, bahwa ada yang perlu dibicarakan tentang Himpunan ini. Apakah benar mereka berdua itu melakukan hal itu?

Kita bisa melihat bersama, konflik ini sudah panjang dan harus diuraikan secara satu persatu. Jika ada kesalahan, harus diperbaiki, bukan malah membuat kesalahan dan bekerjasama dalam kesalahan berikutnya. Faktanya, yang terjadi adalah Respiratori Saddam dan Arya Karisma melakukan kesalahan yang fatal. Sehingga organisasi HMI, berjalan tidak sesuai aturan dan terjadi kerusakan di internal HMI sendiri.

Sederhana sekali, kawan-kawan kader HMI dan Korps Alumni HMI (KAHMI) juga perlu sadar. Bukan soal dukung (A) atau (B), Tapi ini soal bagaimana mendudukkan masalah pada tempatnya. KAHMI seharusnya, tidak boleh langsung terlibat aktif mendukung sesuatu tanpa dasar.

KAHMI seharusnya bisa menerima semua suara dari Pengurus Besar. Sebab, akibat masuknya KAHMI dalam rangkaian konflik yang terjadi di internal PB HMI. Kader-kader HMI bisa melihat langsung dari media online. Karna semuanya urusan internal, bisa dikomsumsi publik, tanpa dipikirkan dampaknya.

Kita bisa baca pertama konflik, dimana sampai hari ini masih konflik dan itu bisa dilihat. Semua itu terjadi karena nafsu kekuasaan, bukan karna perbaikan HMI. Saat ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mulai kehilangan marwah. Itu semua karena ulah Saddam dan Arya.

Baca juga :  Kemendagri: Peran Sentral Satpol PP, Sat Linmas, dan Damkar dalam Pembangunan Daerah

Inilah beberapa point yang kita bisa lihat dari sumber media.

Pertama, Pleno pertama PB HMI, melahirkan rekomendasi dan munculnya Surat Keputusan (SK) Resuffle. Arya Kharisma dirotasi dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) menjadi Ketua Bidang. Lumrah hal ini sebagai bentuk penyegaran organisasi.

Kedua, Tapi Arya dan beberapa pengurus yang dirotasi itu, mengganggap itu semua bentuk kesalahan. Kemudian dimunculkan fakta-fakta tentang Saddam, dengan bukti dugaan amoral yang dilakukan Ketum Saddam dengan seorang perempuan.

Ketiga, Penolakan SK Resuffle Saddam oleh Arya, disambut dengan melakukan gerakan membentuk rapat harian, yang ujungnya adalah memecat Saddam, atas perilaku amoral tersebut. Padahal rapat tersebut, tanpa melibatkan semua anggota Pengurus Besar, yang jumlahnya lebih dari 300 Pengurus. Hanya 20an versi arya yg disampaikan ke MPK PB (versi arya) karna MPK juga terbelah.

Keempat, Ketua Umum PB HMI diberhentikan dan dipecat, sebagai kader HMI terhitung sejak tanggal 10 Januari 2019. Karena telah terbukti melakukan perbuatan asusila. Respiratori Saddam secara resmi diberhentikan. Setelah MPK PB HMI menggelar persidangan marathon, pada tanggal 26 Desember 2018, tanggal 5, 6, dan 9 Januari 2019.

Dalam keputusan itu, MPK PB HMI, merujuk pada pasal 3, 4, 5 dan Anggaran Dasar HMI serta pasal 6, 20, 41, 42, dan 43 Anggaran Rumah Tangga HMI. “Karena terbukti secara sah dan meyakinkan bahwa, saudara Respiratori Saddam Al-Jihad telah melakukan perbuatan asusila, dan memberhentikan Respiratori Saddam Aljihad sebagai Ketua Umum PB HMI,” begitu isi dalam SK MPK PB HMI bernomor 08/KPTS/A/03/1440H tanggal 10 Januari 2019. SK tersebut versi Arya Karisma. (sumber media online).

Kelima, MPK PB Versi Respiratori Saddam Al-Jihad mempertahankan saudara Saddam. Karena perihal pembuktian. Perlu adanya bukti-bukti dan saksi-saksi dan itu harus dihadirkan, bersama para terduga, dalam hal ini yaitu saudara Saddam Al Jihad dan seorang perempuannya.

Keenam, pada bulan Januari Tahun 2019 lalu, PB HMI dualisme. Ada dua Ketua Umum, yakni Ketua Umum Respiratori Saddam Al Jihad dan PJ Ketua Umum Arya Karisma.

Baca juga :  Wujud Sinergitas TNI - Polri, Koramil 04 Kebayoran Lama Ucapkan HUT Bhayangkara Melalui Karangan Bunga

Ketujuh, PB HMI versi PJ Arya Karisma, secara resmi menggelar Sidang Rapat Pleno ll dan membahas terkait asusila yang dilakukan oleh Ketua Umum PB HMI Respiratori Sadam Al Jihad, yang digelar pada Minggu (01/09/2019) bertempat di Pusdiklat BNPB Training Center, Bogor.

Dalam forum Sidang Rapat Pleno ke ll tersebut, disahkan Keputusan Majelis Pengawasan dan Konstitusi (MPK) PB HMI.Nomor: 08/KPTS/A/05/1440 H. Tentang pelanggaran konstitusional, yang dilakukan oleh Respiratori Saddam Al Jihad.

Kedelapan, selama bulan Januari 2019 sampai bulan februari 2020, dualisme kepemimpinan di internal PB HMI terus berjalan. HMI mempunyai dua Ketua Umum.

Kesembilan, Respiratori Saddam Al-Jihad secara resmi, mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Umum PB HMI periode 2018-2020. Hal ini disampaikan Saddam dalam forum silaturahmi Keluarga Besar HMI di Masjid Agung, Jalan Sunda Kelapa, Menteng Jakarta Pusat, Jumat (13 Maret 2020).

Dalam pernyataan keputusan tersebut, disaksikan langsung oleh para senior HMI seperti Akbar Tanjung, Bahlil Lahadalia, dan Prof. Dr. Mahfud MD beserta seluruh kader HMI, dari setiap cabang. Saddam menyampaikan kemunduran dirinya ini dengan alasan, untuk menyatukan HMI menjelang kongres HMI ke-XXXI yang akan dilaksanakan di Surabaya Jawa Timur.

“Saya Respiratori Saddam Al-Jihad dengan ini menyatakan sikap untuk mundur sebagai Ketua Umum PB HMI periode 2018-2020. Dan menyerahkan kepada saudara Arya Kharisma Hardy sebagai Pj Ketua Umum PB HMI periode 2018-2020. Untuk dapat melaksanakan kongres dalam satu kongres Himpunan Mahasiswa Islam,” kata Saddam.

Namun, dalam poin kesembilan ini, ada polemik baru yang itu memunculkan konflik lama di PB HMI yang pernah berlangsung sebelumnya. Dari rangkaian konflik tersebut, muncul sampai dengan pemecatan dari MPK PB HMI (versi PJ Arya Karisma) sampai dengan pleno II memecat Respiratori Saddam Al Jihad dari kader HMI.

Berubah oleh manuver politik dan bagi-bagi kepentingan kekuasaan. Mungkin itu semua muncul dari para pemain Kongres di HMI. Maka dapat dilihat bahwa, dari sinilah berlanjut. Konstitusi HMI versi kekuasaan senior dan kader buta aturan.

Semua AD/ART ditabrak, dengan bahasa penyatuan dan penyelamatan. Padahal, dalam praktiknya, sangat jauh sekali dari gerakan mereka dari ketentuan yang tertera dalam Konstitusi HMI.

Baca juga :  Sambang Kantor Desa Tanjung bungin Bripka Asep Sampaikan Ini

Kesepuluh, dibalik mundurnya Saddam Al Jihad teryata terjadi kongkalikong dengan Arya Karisma. Maka Muncul-lah sebulan kemudian, SK bersama ketum Saddam dan PJ Arya. Padahal sebelumnya PJ Arya sudah memecatnya (setelah dipecat bisa jadi aktif sebagai anggota hmi dan masih jabat ketum).

Dalam SK bersama tersebut, ada dua Sekjen dan Bendahara Umum, apakah ada aturan tersebut dalam konstitusi HMI? Kader hmi harus jujur menjawabnya, klo diam saja berarti sepakat bersama melakukan penghianatan terhadap konstitusi HMI.

Kesebelas, pada waktu bersamaan, dengan adanya SK Steering Comitte (SC) dengan tanda tangan Ketum Saddam dan PJ Arya tanpa melalui rapat. Mungkin saja, keputusan itu sah di luar konstitusi, karena mereka berdua membuat aturan sendiri.

Kedua Belas, pada bulan Januari tahum 2021, muncul kembali himbauan yang ditujukan pada HMI Cabang Se-Nusantara, untuk menyerahkan data Cabang ke PB HMI. Sebagai bentuk persiapan Kongres di Surabaya, Jawa Timur. Tetapi Bukan SK bersama antara Ketum Saddam Al Jihad dan PJ arya Karisma. Akan tetapi SK tersebut bertandatangan PJ Ketua Umum Arya Karisma dan Sekjen, Taufan. Jelas, ini semua adalah dagelan konstitusi dan praktek jual beli, ada di HMI.

Ketiga Belas, pada bulan November Tahun 2020, Ketum Saddam dengan bangganya mengupload foto, sebagai anggota partai politik dan staff anggota dewan partai politik.

Keempat Belas, pada bulan Januari Tahun 2021 juga, Ketum Saddam (Pengurus Partai) dan PJ Ketua Umum, Arya Karisma mengeluarkan surat bersama tentang perubahan Stering Commite dan Organizing Commite. Itu semua bisa dicek, dan silahkan cek dan konfirmasi pada yang bersangkutan. Apakah begitu aturannya. Anggota partai masih menjadi ketum bersama PJ ketum. Sungguh Terlalu…. !!!!!

Anda semua harus bertanggung jawab, untuk menjaga marwah organisasi HMI. Kongres PB HMI milik utusan Cabang. Jika Cabang mendesak dan aktif, maka ada harapan HMI wajah baru dan perbaikan kedepannya. Jika Cabang diam saja maka tunggu-lah kehancuran itu. Tegakkan konstitusi HMI, adalah jalan terbaik. Silahkan komentari perjalanan hmi sejauh ini di tingkat PB HMI.

Randhy Kay
Fungsionaris Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

Randhy Kay,
Fungsionaris di Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Dok. Istimewa HM
Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru