oleh

SEMUA NEGARA ANTI AGAMA (ATHEIS)

KICAUNEWS.COM – Semua Negara tidak ber-Agama alhasil Anti Agama (Atheis), dan semua Negara menganut paham Machiavelli. Semua manusia hakikatnya secara naluriah cinta Kebaikan cinta Kebenaran alhasil Cinta Tuhan. Orang Muslim menamainya dengan sebutan Allah. Dia-lah Sumber Ilmu Sumber Hukum Sumber Kebaikan Sumber Kebenaran. Alhamdu Lillahi Rabbil Aalamiin. Segala Puji Bagi Allah, Tuhan yang mengurus alam semesta!

Si Pulan ditakdirkan jadi presiden disuatu Negara, dan Si Pulan terkenal sosok religius. Fenomena seperti ini harus dilihat secara profesional profosional. Bahwa Agama yang dianut oleh diri Si Pulan tidak bisa sertamerta dilekatkan pada status presidennya, kenapa..? karena kalau Agama yang dianut oleh diri Si Pulan itu dilekatkan pada jabatan presidennya, maka logikanya secara yuridis Negara yang dipimpin Si Pulan bisa disebut atau dipandang Negara yang berdiri berdasarkan nilai-nilai Agama. pertanyaannya; apa benar dibelahan bumi sekarang ini ada Negara yang murni dibangun atas pemikiran-pemikiran Agamis..?

Secara De-Jur setiap Negara punya Asas (Konstitusi) yang sudah pasti semua itu sengaja dibuat dengan tujuan-tujuan baik. Intinya ingin hidup Aman Tentram Sejahtera Sentosa, alhasil ingin hidup serba berkeadilan, Keadilan Hukum Keadilan Social Keadilan Ekonomi. Itulah bukti bahwa hakikatnya secara naluriah semua manusia cinta Kedamaian cinta Kebaikan alhasil cinta Tuhan. Pertanyaannya; apakah keinginan-keinginan baik yang sudah dituangkan kedalam Asas-asas (Konstitusi) Negara itu benar telah terimplementasikan dalam kehidupan masyarakat..?

Yang pasti aksi Protes Demo nyaris terjadi disetiap Negara. Disadari atau tidak itu adalah bukti bahwa harapan-harapan baik yang tertuang dalam Asas-asas (Konstitusi) disetiap Negara pada faktanya semua bermasalah alhasil tidak diimplementasikan sesuai kesepakan. Dengan kata lain bahwa pada faktanya semua penguasa di Negara manapun selalu mengingkari janji-janji yang telah tertuang dalam Asas Negaranya. Karena itu sehingga sikap penguasa selalu cenderung terorientasi pada OTORITER Anti Kritik dan selalu memaksakan kehendak. Dan itu sudah menjadi watak semua penguasa di Negara manapun. Watak itu terbentuk secara alami akibat saking kuatnya pengaruh Visi Misi Negara yang merupakan perwujudan dari Visi Misi sistem Materialisme Monopolisme yang dianut semua Negara dipenjuru bumi sekarang ini.

Lalu apa yang terjadi..? yaaah rakyat menjadi serba salah, bagaimana tidak; ada Babi tidak mau disebut Babi, ada Monyet tidak mau disebut Monyet. Padahal kelakuannya jelas-jelas serakah dan selalu merusak melahap tanaman milik orang. Akhirnya lama-kelamaan rakyat menjadi kesal dan marah besar, sehingga terpaksa Si Babi Si Monyet nasibnya harus terusir dari kursi singgasananya. Kasus-kasus seperti itu sering terjadi dalam sejarah kehidupan umat manusia diberbagai Negara. Pertanyaannya; kenapa bisa demikian, apa yang menjadi penyebabnya..? Intinya karena apa yang diperbuat Negara seringkali keluar dari batas-batas nilai-nilai kebenaran yang mutlak merupakan simbol dari sifat-sifat Ke-Tuhanan. Fenomena seperti demikian itu merupakan bukti bahwa pada dasarnya semua Negara memang tidak ber-Agama alhasil Anti Agama (Atheis).

Baca juga :  Giat Pelantikan dan Pengambilan Sumpah/Janji Jabaran Pengawas Tempat Pemungutan Suara (PTPS) Kec. Tempuran

Hukum Qishaash (Pidana)
Hukum Qishas yang diberlakukan di Negara-negara mayoritas Muslim, itu tidak bisa dipandang sebagai Sistem yang menjadi dasar acuan Negara. Hukum pidana intinya alat untuk mengkondisikan atau kasarnya memaksa masyarakat supaya taat pada apa yang menjadi Visi Misi Negara. Secara De- Fakto sekarang ini semua Negara menganut sistem Materialisme Monopolisme yang menjadi dasar acuannya. Suatu sistem yang menegasikan Keadilan, yang dalam arti mustahil akan Mengadopsi Mengakoomodir konsep-konsep Agamis. Kalau bukan sekedar buat melegitimasi demi untuk memburu keuntungan materi semata, dan atau demi untuk kepentingan keamanan eksistensi Negara semata.

Agama dan sistem Materialisme Monopolisme sedikitpun tidak punya persenyawaan sehingga mustahil bisa dikolaborasi. Bahkan jarak antara Agama dan sistem Materialisme Monopolisme amat sangat jauh persis ibarat jauhnya jarak antara Masyriq dan Magrib. Kalau menurut hukum warna persis bedanya seperti Putih dan Hitam. Menurut hukum warna, kalau putih berbaur dengan hitam maka muncul warna abu-abu. Perlu diketahui, warna abu-abu itu jelas bukan warna putih, tapi lebih tepatnya disebut saudara sedarah dengan si hitam. Itulah sebabnya bahwa putih tetap tidak bisa dicampur dengan hitam menurut Filosofis Hukum Norma. Dengan demikian intinya bahwa sekarang ini dibelahan bumi manapun tidak ada Negara berdasarkan Agama. Logikanya bahwa pada prinsipnya semua Negara Atheis Anti Agama atau tidak ber-Agama.
Ekonomi Syariah

Insya Allah khususnya bagi logika para pemikir akan tidak mudah tersuramkan oleh sebuah terminologi. Sehingga mereka pasti paham bahwa Ekonomi Syariah itu bukan sistem ekonomi yang menjadi prinsip dasar acuan Negara. Kalau boleh saya umpamakan status Ekonomi Syariah itu ibarat “Burung Dalam Sangkar”. Artinya secara Yuridis tetap mengacu pada sistem ekonomi Negara. Atau dengan kata lain bahwa ekonomi syariah itu bukan aturan ekonomi yang bersifat Sparatis alhasil bukan musuh Negara, sebab semua aturan mainnya tetap ada dalam control sistem ekonomi Negara. Karena itu sepesat apapun perkembangan ekonomi syariah mustahil mengalahkan atau menggantikan sistem ekonomi Kapitalis yang menjadi acuan dasar semua Negara. Yang merupakan turunan dari sistem Materialisme Monopolisme. Karena itu sehingga kalaulah Negara-negara yang menjadi pelopor ekonomi syariah itu meminjam uang kepada World Bank dan atau IMF, maka pasti mereka akan mengikuti aturan pinjam meminjam yang berlaku secara Internasional (Bunga-berbunga). Dengan demikian kesimpulannya bahwa sekarang ini dibelahan bumi manapun tidak ada Negara berdasarkan Agama, sebab pada prinsipnya semua Negara samasekali sangat tidak mengenal Agama alhasil Anti Agama.

Baca juga :  Kanit Binmas Polsek Panyileukan Polrestabes Bandung Pimpin Pembagian Masker Gratis

Soal baik buruk (Haram Halal)

Semua penguasa di Negara manapun pasti bicara soal Baik Buruk (Benar Salah) sebab alamiahnya memang mesti begitu. Karena yang menjadi obyek Negara adalah manusia makhluk yang secara alami butuh terhadap hal-hal kebaikan dan pastinya menolak tehadap hal-hal keburukan. Namun demikian perlu diketahui, bahwa ukuran Baik Buruk yang dipersoalkan Negara itu samasekali bukan mereferensi pada nilai-nilai ajaran Agama, tapi Baik Buruk menurut penilaian Ambisi dirinya (Negara). Karena itu terkait hal ini untuk lebih formalnya Negara khusus menggunakan terminologi hukum yaitu dengan memakai istilah “Legal Ilegal”.

Setiap yang Legal menurut Negara maka apapun itu boleh diperbuat sekalipun faktanya bertabrakan dengan apa yang diharamkan atau dilarang Agama. Dan setiap apapun yang menurut Negara Ilegal maka apapun itu menjadi ketat dilarang sekalipun menurut Agama wajib dilakukan untuk membuktikan konsistensi Keimanan. Dilematis seperti demikian itu merupakan bukti bahwa sekarang ini seluruh umat manusia sejagad sedang hidup diatur sistem Materialisme Monopolisme yang secara alami senantiasa memaksa Negara supaya melanggar batas-batas yang secara mutlak telah dilarang Agama.

Mabuk Judi Prostitusi

Ada Negara-negara yang melarang Mabuk Judi Prostitusi. Tapi umumnya Negara melegalkan tentang semua itu. Larangan itu bukan berarti Negara cinta Agama, tapi Negara sangat tidak mau menanggung resiko buruk kalau harus melabrak hal-hal yang sangat tabu menurut keyakinan umumnya masyarakat. Artinya Negara pun senantiasa berhitung tidak mau kalau dirinya harus berat berurusan dengan Fakta Kekuatan Sosiologis.

Namun itupun kadang tergantung seberapa kuat kewenangan otoriterian Negara. Kalau dirinya merasa kokoh untuk melakukan kewenangan otoriternya, maka sifat-sifat Machiavellisme Negara suka semakin menjadi. Contoh seperti dulu pada Zaman ORBA yang berani terang-terangan melegalkan perjudian NALO TOTOKONI dalam kehidupan bangsa yang jelas-jelas mayoritas Muslim. Meski dilain pihak Negara melarang masyarakat melakukan perjudian Sabung Ayam, yang sudah barang tentu alasannya karena tidak ada pemasukan pada Negara (pajak). Sampai-sampai dulu Almarhum Prof Buya Hamka tokoh Agamawan terkemuka ramai bersilang pendapat dengan Gubernur DKI yaitu almarhum Bang Ali Sadikin terkait soal legalnya perjudian tersebut.

Baca juga :  Adanya penemuan Mayat di Jembatan Poris Jl. Benteng Betawi Batuceper

Atau contoh konkret seperti Genting Highland Rsort kawasan perjudian terbesar di Asia Tenggara yang sengaja khusus dilokalisir dipasilitasi Negara (Malaysia). Fakta-fakta seperti itu merupakan bukti bahwa pada dasarnya semua Negara menganut paham Machiavelli serba menghalalkan segala cara sebab memang pada dasarnya semua Negara tidak ber-Agama Anti Agama (Atheis).

Penutup

Sekali lagi bahwa Agama yang dianut oleh diri Si Pulan tidak bisa sertamerta dilekatkan pada jabatan presidennya. Sebab antara Agama yang dianut Si Pulan dan Visi Misi Negara adalah dua hal yang berbeda. Boleh jadi secara pribadi Si Pulan terkenal sosok religius, tapi secara jabatan bahwa apa yang dilakukan Si Pulan tentu akan selalu terikat oleh TUPOKSI PRESIDEN. Yang menurut Undang-undang berkewajiban untuk melaksanakan Visi Misi Negara yang merupakan perwujudan dari Visi Misi sIstem Materialisme Monopolisme yang dianutnya. Suatu sistem yang secara alami akan senantiasa memaksa penguasa supaya bersikap Otoriter, serta akan senantiasa memaksa penguasa supaya berpegang teguh pada prinsip-prinsip Machiavellisme.

Dalam kondisi seperti itu sebagai manusia pastinya diri Si Pulan akan sering mengalami kegalauan yang sangat hebat. Bagaimana tidak, kalau ketika pada saat-saat dalam batinnya terjadi pertempuran sengit antara Visi Misi Kemanusian Si Pulan dan Visi Misi kepresidenan Si Pulan. Namun demikian rupanya Si Pulan tetap lebih memilih bertahan duduk di Kursi Singgasananya meski harus menanggung resiko dikritik didemo dihujat rakyat. Pilihan itu terjadi akibat menurut pemikiran Si Pulan lebih baik tetap bertahan daripada harus mundur terusir kalah oleh musuh-musuh politiknya yang tidak kurang tidak lebih pada faktanya sama Mindsetnya.

Untuk itu sekarang yang harus kita renungkan bersama; “kenapa watak semua penguasa di Negara manapun cenderung Otoriter dan menganut paham Machiavelli, serta kenapa semua Negara tidak ber-Agama alhasil Anti Agama (Atheis) ..?
Insya Allah jawabannya ada pada tema berikutnya.

*Asep Masko
Catatan ; Forum Kajian Tajug Kuring

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru