banner 728x250

Soekarno, PKI Dan HMI Di Ambang Pembubaran

  • Bagikan
banner 468x60

JAKARTA, Kicaunews.com – Suatu kelaziman bagi setiap tokoh apalagi pemimpin sll memiliki obsesi besar untuk menjadi masyhur dan mempengaruhi arah dunia dg pemikiran besarnya. Hal itu tidak terkecuali bagi manusia manapun termasuk Paduka Yang Mulia, Pemimpin Besar Revolusi Soekarno.

Sejarah menjelaskan bhw Soekarno pernah nenirehkan satu impian politik yaitu menginternalisasi dan menginstitusikan Nasionalisme, Agama dan Komunisme dlm satu konsepsi politik yg disebut NASAKOM dan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia.

banner 336x280

Pemikiran Soekarno  tentang konstrucsi NASAKOM adalah tawaran kepada anak anak bangsa, tumpah darah bhw ia memiliki sebuah obsesi besar untuk menjadikan NASAKOM sebagai ideologi baru yg menyatukan bangsa. Dari sini Soekarno bergerak membuka peta kepemimpinan baru sebagai Pemimpin dunia yg akan mengalahkan pemimpinan lainnya di dunia Timur, Barat.

Upaya Soekarno mewujudkan impian itu harus dibayar dg harga yg mahal. Soekarno memberi Karpet Merah dan membuka ruang yg terbuka dlm kancah politik bagi Partai Komunis Indonesia (PKI) Pimpinan DN Aidit. Dan dari situ PKI terus berkonsulidasi, memperkuat dukungan pada kepada Soekarno, sehingga PKI pun ikut dlm Pemilu Pertama thn 1955 Keluar sebagai pemenang 4 besar, PNI, Masyumi, NU dan PKI.

Perjalanan politik ke depan Syahwat Politik Soekarno dg dukungan PKI makin tak terkendali, Soekarno makin otoriter, membubarkan Konstulituante, M. Hatta mengundurkan diri dari Wapres menyingkirkan lalu membuarkan Masyumi 1960, menyusul PSI dan Murba bahkan mengancam untuk membubarkan HMI.

Dalam sebuah acara pembukaan kongres CGMI sebuah organisasi mahasiswa yg merupakan underbow PKI, di Gelora Istora Senayan, di hadapan 25 000 anggota CGMI berpidato yg berapi api. Ia memperingatkan kepada CGMI untuk membubarkan HMI. Bhw membubarkan HMI adalah perkara mudah, serahkan saja pada CGMI. Jika CGMI tidak sanggup membubarkan HMI maka sebaiknya pulang saja dan ganti celana dalam kalian dg memakai sarung.

Baca juga :  Kapolsek Tukdana Giat Penyekatan dan Himbauan Bersama Forkopimcam

Di forum di depan istana merdeka, apel CGMI untuk meminta Pemerintah Soekarno membubarkan HMI. Dlm kesempatan Lei Mena mewakili Pemerintah memberika jawaban, bhw Pemerintah tidak punya program untuk menbubarkan HMI, karena HMI organisasi mahasisa yg berfront nasionalist, pendukung revolusi. Dlm kesempatan yg sama Soekarno dlm Pidatonya menggaris bawahi Pidato Lei Mena itu, bhw Pemerintah tidak punya program untuk membubarkan HMI.

Dalam kesempatan yg lain Soekarno di sebuah forum rapat, Soekarno menyampaikan pendangannya  kepada Syaifuddin, Mentri Agama saat itu. Bhw Pemerintah akan membubarkan HMI. Pernyataan ini saakan menusuk jantung Syaifuddin  Zuhri. Seketika Syaifuddin menjawab kalau hal itu yg Bapak lakukan, akan menjatuhkan bapak Sendiri.

Lanjut Syaifuddin Zuhri apa alasan Bapak hendak membubarkan HMI ? Jawaban Soekarno, HMI kontra revolusi. Tanya lagi Syaifuddin apa kadar kontra revolusinya ? Soekarno menjawab HMI berfikir liberalis, pro ke barat baratan, merusak adat istiadat. Jawab Syaifuddin Zuhri kalau hal itu yg bapak lakukan, maka sampai di sinilah tugas saya membantu Bapak. Suasana tertegun kaku dan membisu.

Beberapa saat kemudian Soekarno melerai ketegangan itu seraya mengatakan saya tetap membutukan sampean. Tetapi saya minta jaminan, kamu Syaifuddin, Ruslan Abdul Gani dan Syarif Thaeb membina HMI. Di sini Bpk KH. Syafuddin Zuhri orang kandung dari Lukman Hakiem Syaifuddin, amat berjasa mencegah Soekarno bertindak otoriter atas hasutan pimpinan PKI untuk membubarkan HMI.

Dan kemudian terbukti Soekarno gagal mewujudkan impiannya yg supper dahsyat itu setelah kegagalan G30S PKI yg melakukan kudeta dg menculik dan membunuh 7 Jendral Angkatan Darat yg diisukan membentuk Dewan Revolusi.

Sejarah perjalanan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas dan keunggulan pemikiran anak anak bangsanya sendiri. Dan suatu pemikiran itu memiliki daya tahan pada ambang batas tersendiri. Tidak ada suatu pemikiran manusia berlaku absolut sepanjang zaman.

Baca juga :  Ketua KPUD Indramayu Ahmad Toni Fatoni Arogan Disaat Dikonfirmasi Wartawan

Daya tahan suatu pemikiran tidak akan melampaui ruang dan waktu, melainkan dibatasi oleh dimensi ruang dan waktu itu sendiri. Kecuali Firman Allah dan Hadits Rosulullah berlaku absolut sepanjang dunia ini. Kalamallah dan hadit Rosulullah berakhir bersamaan dg beekhirnya peran manusia sebagai kholifah.

Olehnya sebagai anak bangsa jujurlah pada sejarah bhw Pikiran Soekarno tentang Nasakom, yg mencakup doktrin PKI yang bersandar pada ajaran Marxisme juga Nasionalism memiliki keterbatasan. Dewasa ini nasionalisme juga rubuh, terdekonstrucsi akibat spremasi ilmu pengatahuan dan teknologi.

Di forum ILC tadi malam saya mengamati uraian Sukmawati anak biologis Soekarno kehilangan logika ketika menjelaskan ideologi Partai Komunis Indonesia. Sukma tergopoh gopoh menjawab bhw Ideologi PKI adalah Pancasila.

Bagaimana mungkin seorang yg A Teistis Marxis dlm waktu yg bersamaan bisa menerima Pancasila sebagai ideologi ? Padahal dlm Pancasila terdapat sila pertama berbunyi KETUHANANNYG MAHA ESA. Mungkin Pancasila yg dimaksud Ibu Sukmawati yaitu Eka Sila, yaitu Ketuhanan yg Berkebudayaan.

Sungguh paradoks jika Tuhan yg maha mutlaq, Tuhan yg absolut, Tuhan yg tidak berserupa dg segala sesuatu, memiliki prilaku berbudaya. Keberbudayaan itu satu kata kerja sekaligus kata sifat yg melekat pada mahluk hidup, manusia misalnya. Jadi termenologi Tuhan yg berkebudayaan sama halnya menyamakan Tuhan adalah sesuatu zat yg bernyawa, yg bisa beractivitas, bertindak tanduk yg membuahkan karya budaya. Terminologi ini sungguh menyesatkan dan merusak keimanan orang orang beragama khususnya umat muslim

Ek Sila dlm pidato Bungkarno 1 Juni 1945. Sementara perumusan Pancasila oleh BPUPKI ialah Piagama Jakarta 22 Juni 1945 dimana dlm sila pertama tercantum Ketuhanan dg menjalankan syariat islam bagi pemeluknya. Sedangkan Pancasila 18 agustus 1945 adalah Pancasila tanpa 7 kata dilam sila pertama. Hilangnya 7 kata itu demi menjaga keutuhan dan kebersamaan anak anak bangsa mewujudkan Indonesia MERDEKA.

Baca juga :  Polres Purbalingga Gelar Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Jelang Pilkada 2020

PKI sll dg kelicikan yg cerdik menggunakan logica apologistic untuk menolak setiap tuduhan atau anggapan bhw komunisme bangkit kembali.

Pendekatan ferbalisme seringkali hadir sebagai argumentasi, untuk menganulir bhw komunisme sebagai sebuah pemikiran digandrungi oleh para peminat literasi. Tetap komunisme sebagai institusi sdh bubar dan tidak bangkit lagi sebagaima komunisme di Eropa Timur dan Rusia.

Tetapi di sisi lain belakang ini ada pembantaian, pembunuhan ulama, ustadz, perusakan rumah ibadah, diikuti pengembangan politik adu domba, politik belah bambu. Tentu digerakan oleh kelompok laten yg terorganisir.

MHR.

Print Friendly, PDF & Email
banner 336x280
Bagikan :
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *