oleh

Jalan ‘Terjal’ Pasangan Muhamad-Saras dan SNA-Ruhamaben di Pilkada Tangsel 2020

TANGSEL,KICAUNEWS.COM-Konstalasi politik pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) 2020 pasca penetapan, nomor urut pasangan calon semakin terlihat dinamis. Meskipun pada kenyataannya, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangsel saat ini kembali memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Perpanjangan PSBB, secara politik sangat berpengaruh dan berdampak besar bagi kehadiran pasangan calon (paslon) dalam berkampanye. Selain menjadi hambatan, PSBB juga menjadi ‘Ganjalan’ terutama untuk paslon penantang yang masih mengejar popularitas maupun elektabilitas.

Meski demikian, bila melihat ‘gelagat’ tiga paslon Pilkada Tangsel 2020 yakni, pasangan Muhamad-Rahayu Saraswati, Siti Nur Azizah-Ruhamaben dan Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan, tidak begitu mempermasalahkan, dan semua paslon terlihat begitu ‘Over Confident’ bisa menang dan duduk menjadi Walikota dan Wakil Wakil Walikota Tangsel, menggantikan Airin Rachmi Diany.

Dalam politik, sikap ‘Over Confident’ dibolehkan dan diharuskan. Sebaliknya, yang tidak boleh yakni bersikap ‘Very Over Confident’. Sebab, pada prinsipnya dinamika politik selalu berjalan dinamis. Begitu juga dengan praktek politik, selalu mempunyai kalkulasi dan parameter, dalam melihat dan mengukur, apakah paslon yang berkontestasi tersebut akan menang atau kalah.

Ukurannya ada tiga, pertama, tingkat popularitas, Kedua, tingkat Elektabilitas dan Ketiga, kerja keras tim pemenangan, yang itu dibuktikan di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Pandangan itu menurut hemat saya berlaku disemua daerah Kabupaten/Kota maupun Provinsi yang melaksanakan Pilkada Serentak 2020, termasuk di Pilkada Tangsel. Lalu, dimana posisi parpol ?

Secara normatif, kehadiran parpol dalam Pilkada maupun Pemilu, selalu ditempatkan pada bagian sarana dan prasyarat, hal itu selaras dengan aturan main yang telah disepakati dalam Undang-Undang (UU) Pemilu maupun Pilkada. Artinya, peran dan fungsi parpol hanyalah sebagai pengantar, selebihnya kalkulasi menang dan kalahnya paslon ditentukan oleh tiga hal yang telah disebutkan di atas.

Jalan ‘Terjal’ Muhamad-Saras 

Pada konteks Pilkada Tangsel yang akan belangsung pada 9 Desember 2020 juga demikian. Menang atau kalahnya paslon tidak ditentukan oleh banyak dan sedikitnya parpol pengusung. Misalnya pasangan Muhamad-Rahayu Saraswati yang diusung banyak parpol (PDI Perjuangan, Gerindra, PSI, PAN, Hanura). Tidak menjadi ukuran.

Terlepas saat ini sosok Rahayu Saraswati merupakan keponakan Prabowo Subianto, tidak menjadi tolak ukur bahwa publik akan memilihnya dan Ia akan menang. Sebab secara umum, masyarakat Tangsel hanya tahu dan kenal Prabowo calon Presiden dan saat ini dipercaya Jokowi menjadi Menteri Pertahanan. Sementara pada sosok Saraswati, tidak sedikit masyarakat Tangsel yang masih bertanya, siapa itu Rahayu Saraswati.

Baca juga :  Kondisi Masih PSBB, KPU Targetkan Partisipasi Pemilih di Pilkada Tangsel 2020 Capai 75 Persen

Kembali ke belakang, bila melihat hasil pemungutan suara Pemilu pada Pilpres 2019 lalu, di Kota Tangsel sendiri, suara Prabowo Subianto kalah unggul dengan Jokowi. Begitu juga dengan pendukung militan Prabowo di Pilpres 2019 lalu, tidak sedikit pendukungnya yang kecewa karena sikap politik Prabowo memilih masuk menjadi bagian dari Jokowi di Kabinet Kerja.

Berdasarkan survei lapangan, Indonesian Of Social Political Institite (ISPI) di 7 Kecamatan di Tangsel, sebanyak 50 persen, masyakat Tangsel pendukung militan Prabowo Subianto di Pilpres 2019 lalu, kecewa dan menyatakan diri tidak akan memilih partai Gerindra dalam setiap momentum politik di Pemilu, Pileg bahkan Pilkada.

Bila melihat hasil survei lapangan tersebut, maka bisa disimpulkan bahwa, partai Gerindra di Tangsel kehilangan konsituen. Tentu ini menjadi hambatan dan jalan terjal untuk pasangan Muhamad-Rahayu Saraswati di Pilkada Tangsel 2020. Begitu juga dengan adanya asumsi yang menyebutkan bahwa, pada Pilkada Tangsel 2020 ada pertemuan dua kekuatan partai besar yakni PDI Perjuangan dan Gerindra sebagai pemenang Pemilu.

Harus diakui dan dicatat bahwa, partai pemenang Pemilu 2019 lalu, di Kota Tangsel bukan PDI Perjuangan maupun partai Gerindra, akan tetapi Partai Golongan Karya (GOLKAR). Hal itu dapat dilihat dari jumlah perolehan kursi di parlemen, dimana partai berlambang pohon beringin itu mempunyai 10 kursi dan saat ini memegang posisi ketua di parlemen Tangsel.

Begitu juga dengan sosok Muhamad yang diusung PDI Perjuangan sebagai calon Walikota Tangsel. Jauh sebelum adanya ketetapan partai memilih Muhamad, internal PDIP Perjuangan Kota Tangsel kisruh dan bergejolak. Sebagian Kader PDI Perjuangan diakar rumput masih banyak yang belum legowo, menerima keputusan partai mengusung Muhamad sebagai calon Walikota di Pilkada Tangsel 2020. Bila melihat dinamika tersebut, dapat disimpulkan bahwa, kader PDI Perjuangan terbelah-belah dan tidal ‘All Out’ mendukung paslon yang diusung.

Tentu ada banyak alasan rasional dan logis kenapa bisa demikian. Pertama, sosok yang dicalonkan PDI Perjuangan bukanlah kader ideologis partai. Kedua, internal PDI Perjuangan Kota Tangsel sampai saat ini masih belum solid, dan Ketiga, hampir bisa dipastikan bahwa, tokoh-tokoh senior PDI Perjuangan Kota Tangsel terpecah belah secara pilihan politik. Artinya ada sikap politik yang tidak tegak lurus di Pilkada Tangsel 2020 ini.

Baca juga :  Kemenperin-JICA Perkuat Daya Saing IKM Komponen Otomotif

Namun demikian, akan lain ceritanya apabila, PDI Perjuangan mengusung kader internal yang lahir dan besar dari partai. Seperti misalnya, Wanto Sugito, Hery Gegarin, Tb Bayu Moerdani, Rieke Diah Pitaloka, maupun Rano Karno, tentu saja semua kader PDI Perjuangan akan ‘All Out’ mendukung paslon yang diusung. Pandangan ini oleh semua orang dianggap subjektif, dan itu sah dan tidak salah.

Bila kita melihat kontestasi Pilgub Banten 2017 lalu, pasangan Rano-Embay yang diusung oleh PDI Perjuangan unggul di Tangsel, sekalipun kepala daerahnya (Airin Rachmi Diany) adalah kader Golkar. Tentu ada banyak faktor. Salahnya faktor kader internal partai. Namun demikian, situasinya akan berbeda, sekalipun pada Pilkada Tangsel 2020 ini, PDI Perjuangan tampil sebagai partai pengusung calon. Sebab, bila melihat track PDI Perjuangan dalam setiap kontestasi di Pilkada Tangsel, posisinya belum pernah menang.

Jalan ‘Terjal’ SNA-Ruhamaben 

Hal yang sama juga berlaku untuk, pasangan Siti Nur Azizah-Ruhamaben. Sebagai orang baru di Tangsel, sosok Siti Nur Azizah lebih dikenal publik sebagai puteri kandung KH. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden RI sekaligus tokoh Nahdhatul Ulama (NU). Namun yang harus dicatat bahwa, pamor dan ‘Track’ Ma’ruf Amin dalam politik tidak begitu berpengaruh, apalagi di Banten.

Bila ada asumsi bahwa kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Tangsel pada saat Pilpres 2019 lalu, disebabkan karena faktor Ma’ruf Amin yang berasal dari Banten. Tentu asumsi ini sah akan tetapi salah. Karena apabila Ma’ruf Amin mempunyai pengaruh di Banten, seharusnya bukan hanya di Tangsel yang harus unggul, akan tetapi di 8 Kabupaten/Kota di Provinsi Banten, seharusnya pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin ini unggul.

Namun, berdasarkan hasil perolehan suara di KPU Provinsi Banten pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin hanya unggul di Kota Tangsel, selebihnya kalah unggul dengan pasangan Prabowo-Sandi. Pertanyaannya, siapa yang bergerak memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin di Tangsel, apakah Kader PDI Perjuangan, atau Golkar ? Tentu jawabannya, ada pada 9 Desember 2020 nanti. Adapun soal Ma’ruf Amin saat ini menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Jokowi, bisa disebut itu hanyalah sebuah kebetulan, atau dalam istilah politik disebut ‘Garis Tangan‘.

Sementara Ruhamaben sendiri, tidak begitu dikenal di Tangsel, sekalipun Ia sendiri merupakan orang yang lahir di Tangsel. Begitu juga dengan Ruhamaben, meskipun Ia sendiri adalah orang yang lahir di Tangsel. Namun, sosoknya tidak begitu dikenal masyarakat Tangsel. Bila melihat pasangan Siti Nur Azizah-Ruhamaben yang diusung tiga partai (PKS, Demokrat dan PKB) itu, Justru terlihat begitu senyap.

Baca juga :  KH Yusuf Sholeh : Pesan Puasa Setelah Ramadhan

Ada tiga kemungkinan, kenapa lada akhirnya, pasangan ini demikian. Pertama, ada kemungkinan, pasangan ini mencalonkan diri di Pilkada Tangsel 2020 dengan tujuan hanya ingin ikut meramaikan bursa kontestasi. Kedua, kemungkinan lainnya yakni, pasangan ini kehabisan ruang untuk bergerak di Tangsel, dan Ketiga ada juga kemungkinan, pasangan ini pada 9 desember 2020 nanti, akan memberikan kejutan. Sebab biasanya, yang diam yang selalu berbahaya. Seperti pepatah mengatakan, ‘Air Beriak Tanda Tak Dalam’.

Namun demikian politik tidak mengenal istilah sastra atau pepatah. Namun yang perlu dicatat bahwa, pasangan Siti Nur Azizah-Ruhamben di Pilkada Tangsel 2020, bukanlah perkawinan antara umat Islam. Bukan juga perkawinan antara NU dan PKS, sekalipun partai pengusung pasangan Siti Nur Azizah-Ruhamaben ini didominasi partai-partai Islam seperti PKS dan PKB.

Dengan demikian, bukan hanya pasangan Muhamad-Saraswati yang mempunyai hambatan dan ‘Jalan Terjal’, pasangan Siti Nur Azizah-Ruhamaben juga mempunyai hambatan dan ‘Jalan Terjal‘ dalam Pilkada Tangsel 2020 ini. Terus meningkatnya penyebaran Covid-19, dan diberlakukannya PSBB, tentu secara politik sangat berdampak pada setiap gerak langkah politik paslon, terutama paslon penatang.

Hambatan

Dengan tetap harus menjaga protokol kesehatan, semua paslon juga dibatasi dalam melakukan pertemuan dengan masyarakat. Bila mengacu pada Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) terbaru, pertemuan paling maksmimal bisa dilakukan sebanyak 50 orang. Sementara selebihnya, dilakukan melalui daring.  Tentu ini menjadi tantangan, terutama paslon penatang ini adalah tantang yang berat. Selain harus meyakinkan calon konstuen agar memilih, juga harus memastikan konstuen agar datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dan memilih pasangan calon tersebut.

Sebab pada akhirnya, ditengah pandemik covid-19 ini, tingkat partisipasi pemilih akan menurun. Sebab semua orang takut datang ke TPS. Mungkin hanya paslon, keluarga paslon, saudara paslon, pengurus partai serta tim sukses paslon yang akan datang ke TPS. Sisanya masyarakat lebih memilih di RUMAH AJA.  Wasalam.

Deni Iskandar
Direktur Utama Indonesian Of Social Political Institute (ISPI)

Print Friendly, PDF & Email
Bagikan :

Komentar

Berita Terbaru